Situs Sejarah

Museum Cut Nyak Dhien

di Aceh Besar, Aceh

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian

Sejarah bangunan ini bermula pada akhir abad ke-19, tepatnya pada masa Perang Aceh yang berkecamuk hebat. Rumah asli Cut Nyak Dhien dibangun pada tahun 1893. Pembangunan rumah ini memiliki latar belakang unik; pemerintah kolonial Belanda memberikan dana untuk membangun rumah ini sebagai upaya "melunakkan" hati Teuku Umar yang saat itu melakukan taktik berpura-pura menyerah dan bekerja sama dengan Belanda. Belanda berharap dengan memberikan fasilitas mewah, Teuku Umar akan setia kepada mereka.

Namun, strategi Belanda meleset. Rumah di Lampisang ini justru dijadikan markas rahasia untuk menyusun strategi perang melawan Belanda. Dari balik dinding kayu ini, Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar mengoordinasikan pasokan senjata dan logistik bagi para pejuang di hutan Aceh. Sayangnya, pada tahun 1896, setelah Teuku Umar kembali memihak rakyat Aceh (peristiwa Het verraad van Teuku Umar), Belanda merasa dikhianati dan membakar habis rumah ini hingga rata dengan tanah dalam sebuah serangan balasan.

Bangunan yang berdiri saat ini adalah hasil rekonstruksi total yang diinisiasi oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1981 dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1987. Meskipun merupakan replika, setiap detailnya dibuat sedemikian rupa agar serupa dengan bentuk aslinya berdasarkan catatan sejarah dan foto-foto arsip Belanda.

Arsitektur Khas Rumoh Aceh: Struktur dan Filosofi

Museum Cut Nyak Dhien mengadopsi gaya arsitektur Rumoh Aceh (Rumah Tradisional Aceh) tipe panggung. Keunikan arsitekturnya terletak pada penggunaan material kayu hitam berkualitas tinggi yang tahan lama dan sistem konstruksi tanpa paku besi, melainkan menggunakan pasak kayu dan ikat tali ijuk.

Bangunan ini memiliki 65 tiang penyangga yang kokoh dengan diameter yang cukup besar. Ketinggian panggung ini tidak hanya berfungsi untuk menghindari ancaman binatang buas atau banjir, tetapi juga memiliki fungsi taktis dalam peperangan. Bagian kolong rumah yang luas memungkinkan para pejuang untuk menyimpan senjata dan logistik dengan cepat.

Secara struktural, museum ini terbagi menjadi beberapa ruangan utama:

1. Seuramoe Keue (Serambi Depan): Ruangan terbuka tanpa dinding di bagian depan yang berfungsi untuk menerima tamu laki-laki dan sebagai tempat bermusyawarah.

2. Seuramoe Tengah (Serambi Tengah): Bagian inti yang lebih tinggi dan bersifat privat, mencakup kamar-kamar tidur. Di museum ini, terdapat replika tempat tidur Cut Nyak Dhien yang dilengkapi dengan kelambu kuning khas bangsawan Aceh.

3. Seuramoe Likot (Serambi Belakang): Berfungsi sebagai ruang keluarga bagi kaum perempuan dan area dapur.

Atap museum berbentuk pelana yang ditutupi oleh rumbia, memberikan sirkulasi udara yang sejuk di tengah cuaca tropis Aceh yang panas. Ornamen ukiran pada bagian dinding kayu menampilkan motif flora (bunga dan sulur) yang mencerminkan pengaruh Islam, di mana penggambaran makhluk hidup secara nyata dihindari.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Museum ini adalah saksi bisu dari fase paling krusial dalam Perang Aceh. Di tempat inilah Cut Nyak Dhien bertransformasi dari seorang istri bangsawan menjadi panglima perang yang tangguh. Setelah gugurnya Teuku Umar di Meulaboh pada tahun 1899, Cut Nyak Dhien tetap melanjutkan gerilya dari wilayah pegunungan Aceh Besar hingga akhirnya beliau ditangkap oleh Belanda di hutan karena kondisi fisiknya yang mulai renta dan rabun.

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa rumah ini pernah menjadi pusat logistik terbesar di wilayah Aceh Besar. Di bawah lantai kayu rumah ini, terdapat ruang penyimpanan rahasia yang dahulu digunakan untuk menyembunyikan mesiu dan senapan hasil rampasan dari kapal-kapal Belanda.

Pelestarian dan Status Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Museum Cut Nyak Dhien mendapatkan perhatian khusus dari Balai Pelestarian Kebudayaan. Meskipun Aceh dihantam tsunami dahsyat pada tahun 2004, bangunan museum ini secara ajaib tetap berdiri kokoh karena lokasinya yang terlindung oleh perbukitan, meskipun beberapa bagian pagar dan taman mengalami kerusakan.

Restorasi berkala terus dilakukan untuk menjaga integritas kayu agar tidak lapuk dimakan rayap. Pemerintah daerah juga telah memperkaya isi museum dengan berbagai koleksi artefak, seperti replika senjata rencong, alat-alat rumah tangga tradisional, hingga foto-foto dokumentasi perjuangan rakyat Aceh yang diperoleh dari arsip nasional maupun museum di Belanda (KITLV).

Makna Budaya dan Relijius

Bagi masyarakat Aceh, Museum Cut Nyak Dhien bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol "Izzah" (harga diri). Keberadaan museum ini menegaskan peran sentral perempuan dalam struktur sosial dan politik Aceh. Dalam Islam yang dianut kuat oleh masyarakat setempat, perjuangan Cut Nyak Dhien dipandang sebagai bentuk Jihad Fi Sabilillah.

Museum ini juga menjadi pusat edukasi bagi generasi muda untuk mempelajari nilai-nilai kesetiaan, keberanian, dan pengorbanan. Setiap sudut bangunan mencerminkan filosofi hidup masyarakat Aceh yang selaras dengan alam dan taat pada koridor agama. Pengunjung diwajibkan menjaga tata krama dan kesopanan saat memasuki area museum, sebagai bentuk penghormatan terhadap arwah sang pahlawan yang dikenal sangat religius.

Secara keseluruhan, Museum Cut Nyak Dhien merupakan monumen hidup yang menceritakan betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan. Melalui struktur kayu yang megah dan sejarah yang melingkupinya, kita diajak kembali ke masa lalu untuk menghargai keteguhan hati seorang wanita yang namanya akan terus harum dalam lembaran sejarah Indonesia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Cut Nyak Dhien, Lampisang, Kec. Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
Selasa - Minggu, 08:30 - 12:30 & 14:00 - 16:30

Tempat Menarik Lainnya di Aceh Besar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Aceh Besar

Pelajari lebih lanjut tentang Aceh Besar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Aceh Besar