Makam Syekh Abdurrauf as-Singkili
di Aceh Singkil, Aceh
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Makam Syekh Abdurrauf as-Singkili: Jejak Spiritual dan Intelektual Sang Penjaga Selat
Makam Syekh Abdurrauf as-Singkili merupakan salah satu situs sejarah dan religi paling signifikan di Provinsi Aceh, khususnya di Kabupaten Aceh Singkil. Situs ini bukan sekadar kompleks pemakaman, melainkan simbol puncak pencapaian intelektual dan spiritual Nusantara pada abad ke-17. Terletak di kawasan pesisir yang tenang, makam ini menjadi peristirahatan terakhir bagi sosok yang dikenal sebagai "Syiah Kuala", seorang ulama besar yang menjembatani tradisi keislaman Timur Tengah dengan realitas budaya Melayu-Nusantara.
#
Asal Usul Historis dan Sosok di Baliknya
Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili lahir sekitar tahun 1024 H/1615 M di wilayah Singkil. Ia menghabiskan waktu sekitar 19 tahun untuk menuntut ilmu di berbagai pusat peradaban Islam di Timur Tengah, mulai dari Doha, Yaman, hingga menetap lama di Mekkah dan Madinah. Gurunya yang paling berpengaruh adalah Ahmad al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani.
Sekembalinya ke Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1661 M, ia diangkat menjadi Qadhi Malikul Adil (Mufti Agung) oleh Sultanah Safiatuddin Syah. Jabatan ini diembannya melewati masa pemerintahan empat Sultanah berturut-turut. Keberadaan makam ini di Singkil berkaitan erat dengan tanah kelahirannya, meskipun jejak pengaruhnya tersebar luas hingga ke Banda Aceh, di mana terdapat pula situs penghormatan lainnya yang dikenal dengan nama yang sama di bibir pantai Syiah Kuala. Namun, situs di Aceh Singkil diyakini sebagai tempat asalnya yang menyimpan memori kolektif masyarakat Singkil tentang silsilah keluarga sang ulama.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi Situs
Kompleks Makam Syekh Abdurrauf as-Singkili menampilkan karakteristik arsitektur Islam klasik Aceh yang berpadu dengan unsur lokal. Bangunan utama yang memayungi makam (cungkup) dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi para peziarah yang datang dalam jumlah besar.
Salah satu fitur arsitektur yang menonjol adalah penggunaan nisan tipe Aceh yang terbuat dari batu sungai atau batu sedimen keras dengan ukiran kaligrafi dan ragam hias khas abad ke-17. Pola ukiran pada nisan mencerminkan status sosial dan spiritualitas tokoh yang dimakamkan, dengan motif sulur tanaman yang melambangkan keabadian dan pertumbuhan ilmu pengetahuan. Struktur atap bangunan pelindung telah mengalami beberapa kali renovasi, namun tetap mempertahankan konsep terbuka agar sirkulasi udara dari pesisir tetap terjaga, menciptakan suasana yang tenang dan meditatif.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Situs ini merupakan monumen bagi "Zaman Keemasan Ulama Nusantara". Syekh Abdurrauf as-Singkili adalah orang pertama yang menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Melayu secara lengkap melalui kitab Tarjuman al-Mustafid. Makam ini menjadi bukti fisik keberadaan seorang intelektual yang mampu meredam gejolak teologis di Aceh pada masa itu, khususnya konflik antara penganut Wahdatul Wujud dan penganut paham syariat yang lebih konservatif.
Peristiwa sejarah yang paling melekat dengan situs ini adalah peran Syekh Abdurrauf dalam melegitimasi kepemimpinan perempuan di Aceh. Melalui fatwa-fatwanya, ia mendukung pemerintahan Sultanah Safiatuddin Syah, yang membawa stabilitas politik dan kemajuan literasi di Aceh. Makam ini menjadi saksi bisu bagaimana pemikiran moderat (wasathiyah) mulai berakar kuat di tanah Aceh Singkil.
#
Tokoh dan Periode Terhubung
Selain Syekh Abdurrauf sendiri, situs ini terhubung erat dengan silsilah keluarga besar al-Fansuri. Nama "al-Fansuri" merujuk pada Barus (Fansur), pusat perdagangan gaharu dan kapur barus kuno. Periode yang paling relevan dengan situs ini adalah masa pemerintahan Kesultanan Aceh abad ke-17, di mana Aceh menjadi pusat studi Islam internasional. Tokoh-tokoh seperti Syekh Hamzah al-Fansuri dan Syekh Nuruddin ar-Raniri merupakan figur yang pemikirannya saling bertautan dengan sejarah hidup sang pemilik makam ini.
#
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Saat ini, Makam Syekh Abdurrauf as-Singkili dikelola sebagai Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dengan pengawasan dari Balai Pelestarian Kebudayaan. Upaya restorasi telah dilakukan beberapa kali, terutama pasca-tsunami 2004 dan gempa bumi yang sering melanda wilayah pesisir barat Aceh.
Pemerintah daerah telah membangun infrastruktur pendukung seperti akses jalan, area parkir, dan fasilitas ibadah untuk menunjang wisata religi. Fokus utama pelestarian saat ini adalah menjaga keaslian nisan-nisan kuno yang rentan terhadap abrasi dan pelapukan alami akibat udara laut yang mengandung garam tinggi. Digitalisasi naskah-naskah kuno yang terkait dengan sejarah Syekh Abdurrauf juga menjadi bagian dari upaya pelestarian non-fisik untuk melengkapi keberadaan situs makam.
#
Kepentingan Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Aceh Singkil dan pengikut Tarekat Syattariyah di seluruh Nusantara (terutama di Sumatera Barat dan Jawa), makam ini adalah pusat spiritual. Setiap tahun, ribuan peziarah datang untuk melakukan tradisi doa bersama, yang dikenal dengan sebutan Haul.
Secara budaya, makam ini menjadi identitas kebanggaan masyarakat Singkil. Syekh Abdurrauf dipandang bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai pemersatu bangsa. Keberadaan makam ini memperkuat posisi Aceh Singkil dalam peta sejarah Islam dunia sebagai tempat lahirnya seorang maha-guru yang murid-muridnya (seperti Syekh Burhanuddin Ulakan) menyebarkan Islam ke berbagai pelosok Nusantara.
#
Fakta Sejarah Unik
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Syekh Abdurrauf as-Singkili memiliki pengaruh yang sangat besar dalam standarisasi penulisan naskah Melayu-Jawi. Selain itu, terdapat tradisi lisan di masyarakat lokal yang menyebutkan adanya keterkaitan antara lokasi makam dengan jalur pelayaran kuno yang menghubungkan Barus, Singkil, dan pelabuhan-pelabuhan di Timur Tengah. Lokasi makam yang berada di dekat pertemuan air laut dan muara sungai melambangkan filosofi "pertemuan dua samudera" (ilmu syariat dan ilmu hakikat) yang menjadi inti ajaran sang Syekh.
Dengan segala nilai sejarah, arsitektur, dan spiritualitas yang dikandungnya, Makam Syekh Abdurrauf as-Singkili tetap berdiri kokoh sebagai mercusuar ilmu pengetahuan. Situs ini terus mengingatkan generasi mendatang tentang masa di mana kedalaman ilmu dan kearifan lokal mampu berpadu selaras, menjadikan Aceh Singkil sebagai titik penting dalam sejarah peradaban Islam di Asia Tenggara.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Aceh Singkil
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Aceh Singkil
Pelajari lebih lanjut tentang Aceh Singkil dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Aceh Singkil