Makam Sultanah Nahrasiyah
di Aceh Utara, Aceh
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal Usul dan Sosok Sultanah Nahrasiyah
Sultanah Nahrasiyah adalah penguasa perempuan hebat yang memerintah Samudera Pasai selama kurang lebih 23 tahun (1405β1428 Masehi). Ia naik takhta menggantikan ayahnya, Sultan Zainal Abidin bin Ahmad bin Zainal Abidin, yang gugur dalam pertempuran. Sebagai seorang ratu, ia dikenal memiliki karakter yang bijaksana dan tegas, membawa kestabilan politik serta kemakmuran ekonomi bagi rakyatnya.
Pemerintahan Sultanah Nahrasiyah tercatat dalam kronik sejarah Tiongkok dari Dinasti Ming. Laksamana Cheng Ho (Zheng He) tercatat pernah mengunjungi Samudera Pasai pada masa pemerintahannya. Hubungan diplomatik ini membuktikan bahwa di bawah kepemimpinan seorang perempuan, Samudera Pasai tetap menjadi entitas politik yang disegani di jalur sutra maritim internasional.
Arsitektur Makam: Keajaiban Marmer dari Gujarat
Keistimewaan utama dari situs sejarah ini terletak pada nisan dan jirat (badan makam) Sultanah Nahrasiyah yang dianggap sebagai nisan Islam terindah di Asia Tenggara. Makam ini terbuat dari batu marmer utuh yang didatangkan langsung dari Cambay, Gujarat, India. Hal ini menunjukkan betapa kuat dan mapannya jalur perdagangan antara Pasai dengan anak benua India pada masa itu.
Secara visual, makam ini memiliki gaya arsitektur yang sangat detail. Bentuknya menyerupai "pintu Aceh" dengan hiasan kaligrafi yang sangat halus. Teknik pahatannya menunjukkan tingkat presisi yang luar biasa tinggi. Pada bagian nisan, terdapat ukiran ayat-ayat suci Al-Qur'an, di antaranya Surat Yasin dan Ayat Kursi, serta silsilah keturunan sang Sultanah. Penggunaan marmer putih krem yang mengilap memberikan kesan elegan sekaligus sakral yang membedakannya dari makam-makam raja Pasai lainnya yang umumnya menggunakan batu andesit atau batu sungai.
Signifikansi Historis dan Kaligrafi yang Unik
Makam ini menjadi sumber primer bagi para sejarawan untuk merekonstruksi silsilah raja-raja Samudera Pasai. Pada bagian nisan tertulis dalam bahasa Arab yang jika diterjemahkan berbunyi: "Inilah kubur yang bercahaya, yang suci, ratu yang agung, yang diampuni, Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin putra Sultan Ahmad putra Sultan Muhammad putra Sultan Al-Malikus Salih. Atas mereka dicurahkan rahmat dan ampunan."
Data ini sangat krusial karena menghubungkan langsung garis keturunan Sultanah Nahrasiyah dengan sang pendiri dinasti, Meurah Silu (Sultan Malikussaleh). Selain itu, gaya kaligrafi Tsuluts yang terpahat pada marmer tersebut menunjukkan pengaruh seni rupa Islam Timur Tengah yang telah berasimilasi dengan estetika lokal Nusantara. Situs ini membuktikan bahwa pada abad ke-15, Aceh Utara sudah menjadi titik temu peradaban dunia.
Peristiwa Bersejarah yang Melatarbelakangi
Masa hidup Sultanah Nahrasiyah diwarnai dengan dinamika politik yang tinggi. Setelah wafatnya Sultan Zainal Abidin, terjadi sedikit gejolak internal dan ancaman dari kerajaan tetangga. Namun, penobatan Nahrasiyah berhasil menyatukan faksi-faksi yang bertikai. Salah satu peristiwa penting adalah pernikahan politiknya dengan Sultan Iskandar (yang menurut beberapa catatan adalah kerabat atau tokoh penting lainnya), yang memperkuat legitimasi takhtanya.
Keberadaan makam yang begitu mewah ini juga mencerminkan kondisi ekonomi Samudera Pasai yang surplus. Sebagai emporium perdagangan lada dan sutra, Pasai mampu mendatangkan material bangunan terbaik dari luar negeri dan mempekerjakan seniman pahat kelas dunia untuk menghormati pemimpin perempuan mereka.
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Sebagai bagian dari Cagar Budaya nasional, Makam Sultanah Nahrasiyah berada di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX. Komplek makam ini telah mengalami beberapa kali upaya penataan. Saat ini, makam tersebut berada di dalam sebuah bangunan pelindung (cupu) permanen yang tujuannya adalah untuk melindungi marmer dari korosi akibat cuaca ekstrem dan hujan asam.
Meskipun secara fisik makam ini masih terkonservasi dengan baik, tantangan utama terletak pada lingkungan sekitarnya yang sering terdampak banjir saat musim hujan. Pemerintah daerah Aceh Utara terus berupaya meningkatkan fasilitas pendukung bagi wisatawan dan peneliti yang datang, termasuk pembangunan museum situs yang menyimpan artefak-artefak pelengkap seperti koin emas (dirham) dan keramik kuno yang ditemukan di sekitar lokasi.
Makna Religius dan Budaya bagi Masyarakat Aceh
Bagi masyarakat Aceh, Makam Sultanah Nahrasiyah bukan hanya objek wisata sejarah, melainkan tempat ziarah yang penuh berkah. Sultanah Nahrasiyah dipandang sebagai simbol emansipasi perempuan dalam Islam jauh sebelum gerakan modern muncul. Keberadaannya membuktikan bahwa dalam tradisi Islam di Aceh, perempuan memiliki kedudukan terhormat untuk memimpin negara asalkan memiliki kapasitas intelektual dan spiritual yang mumpuni.
Setiap tahunnya, ribuan peziarah datang untuk mendoakan serta mengambil pelajaran dari keteguhan hati sang Ratu. Nilai-nilai religiusitas yang terpahat di nisannya menjadi pengingat bagi generasi muda tentang kejayaan masa lalu yang dibangun di atas fondasi iman dan ilmu pengetahuan.
Fakta Unik: "Nisan Bersayap"
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah adanya beberapa nisan di sekitar komplek utama yang memiliki bentuk serupa dengan nisan di Gujarat dan memiliki kemiripan dengan makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur. Hal ini memperkuat teori bahwa Islam di Jawa memiliki keterkaitan erat dengan syiar yang berangkat dari Samudera Pasai. Selain itu, kehalusan pahatan pada makam Sultanah Nahrasiyah sedemikian rupa sehingga jika diraba, teksturnya terasa hampir seperti kain yang disulam, bukan seperti batu keras, yang menunjukkan teknik deep carving yang sempurna.
Dengan segala kemegahan dan nilai sejarah yang dikandungnya, Makam Sultanah Nahrasiyah tetap berdiri tegak sebagai identitas bangsa Aceh. Ia adalah monumen yang menceritakan bahwa di pesisir utara Sumatera, pernah berdiri sebuah peradaban besar yang menjadi mercusuar bagi Nusantara dan dunia Islam internasional.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Aceh Utara
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Aceh Utara
Pelajari lebih lanjut tentang Aceh Utara dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Aceh Utara