Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
di Agam, Sumatera Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Intelektual dan Dakwah: Sejarah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka bukan sekadar bangunan kayu biasa yang berdiri kokoh di tepian Danau Maninjau. Terletak di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, museum ini merupakan monumen sejarah yang merekam titik awal perjalanan hidup salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia Islam dan sastra Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenal dengan nama pena Buya Hamka.
#
Asal-usul Historis dan Periode Pendirian
Rumah yang kini menjadi museum ini awalnya dibangun di atas tanah kaum keluarga Hamka. Bangunan aslinya telah berdiri jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya menjadi tempat kelahiran Hamka pada 17 Februari 1908. Namun, perjalanan fisik bangunan ini sempat mengalami masa-masa sulit. Selama masa pendudukan Jepang dan pergolakan PRRI, rumah asli ini mengalami kerusakan berat hingga hampir rata dengan tanah.
Inisiatif untuk membangkitkan kembali memori kolektif bangsa melalui rumah ini muncul pada akhir dekade 1990-an. Pembangunan kembali (rekonstruksi) dimulai pada tahun 2000 oleh Pemerintah Kabupaten Agam dengan bantuan para donatur dan keluarga besar Buya Hamka. Museum ini akhirnya diresmikan pada 11 November 2001 oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Zainal Bakar. Meskipun merupakan hasil rekonstruksi, bentuk dan tata letaknya diusahakan sedemikian rupa agar serupa dengan bentuk aslinya untuk menjaga nilai historisnya.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi Tradisional
Secara arsitektural, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka merupakan representasi dari Rumah Gadang dengan gaya khas pesisir Danau Maninjau. Bangunan ini berbentuk rumah panggung berbahan kayu berkualitas tinggi dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau (gonjong). Salah satu keunikan konstruksinya adalah penggunaan pasak kayu sebagai pengganti paku, yang mencerminkan kearifan lokal dalam menghadapi potensi gempa bumi di wilayah Sumatera Barat.
Museum ini memiliki sembilan ruang yang masing-masing berfungsi untuk memamerkan koleksi yang berbeda. Tangga masuk berada di bagian depan, mengantarkan pengunjung ke teras yang menghadap langsung ke panorama Danau Maninjau. Lantainya terbuat dari papan kayu yang dipoles halus, menciptakan suasana hangat dan tenang. Di bagian dalam, struktur plafon tinggi memungkinkan sirkulasi udara yang baik, menjaga kelembapan agar koleksi buku dan dokumen di dalamnya tidak cepat rusak.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Situs ini memiliki signifikansi luar biasa karena di sinilah karakter dasar Hamka terbentuk. Beliau adalah putra dari Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), seorang tokoh pembaru Islam di Minangkabau. Di lingkungan Sungai Batang inilah Hamka kecil menyerap ilmu agama melalui tradisi manitiak (belajar di surau) dan sastra lisan Minangkabau yang kaya.
Peristiwa bersejarah yang melingkupi tempat ini tidak lepas dari gerakan pembaruan Islam (Muhammadiyah) di Sumatera Barat. Ayah Hamka menjadikan wilayah ini sebagai salah satu basis dakwahnya. Oleh karena itu, rumah ini bukan hanya tempat tinggal, melainkan markas pemikiran intelektual pada masanya. Di museum ini, pengunjung dapat melihat replika tempat tidur Hamka, mesin ketik tua yang digunakan untuk menyusun karya-karya besarnya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah, serta tongkat kayu yang selalu menemaninya di masa tua.
#
Tokoh dan Koleksi Memorabilia
Selain sosok utama Buya Hamka, museum ini juga menghormati jejaring intelektual di sekelilingnya. Koleksi museum mencakup lebih dari 600 judul buku karya Hamka, termasuk karya fenomenal Tafsir Al-Azhar yang sebagian besar ditulisnya saat berada dalam tahanan politik masa Orde Lama. Foto-foto hitam putih yang menghiasi dinding museum menceritakan kedekatan Hamka dengan tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, hingga pemimpin-pemimpin dunia Islam di Timur Tengah.
Satu fakta unik yang tersimpan di museum ini adalah koleksi jubah dan toga yang diterima Hamka saat beliau dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir (1958) dan Universitas Kebangsaan Malaysia (1974). Hal ini menegaskan bahwa dari rumah panggung di tepian danau terpencil ini, lahir seorang pemikir yang diakui secara internasional.
#
Pelestarian dan Upaya Restorasi
Sebagai Situs Cagar Budaya, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III. Pemerintah Kabupaten Agam secara rutin melakukan perawatan pada struktur kayu bangunan untuk mencegah pelapukan dan serangan rayap. Restorasi besar terakhir dilakukan untuk memperkuat struktur fondasi dan memperbaiki bagian atap gonjong yang mulai bocor.
Upaya pelestarian tidak hanya terbatas pada fisik bangunan, tetapi juga digitalisasi dokumen. Beberapa naskah khutbah dan surat-surat pribadi Hamka telah mulai didokumentasikan secara digital untuk mencegah kehilangan data sejarah akibat faktor usia kertas. Keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga kebersihan dan keamanan museum juga menjadi kunci keberlangsungan situs ini.
#
Kepentingan Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Minangkabau dan umat Islam di Indonesia, museum ini adalah simbol "Ulama Sastrawan". Ia membuktikan bahwa agama dan seni bisa berjalan beriringan. Lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Raya Ummi Hamka menambah kesan religius pada situs ini. Museum ini sering menjadi tujuan ziarah intelektual bagi para peneliti dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura yang ingin mempelajari akar pemikiran Islam Nusantara.
Keberadaan museum ini juga memperkuat identitas budaya masyarakat Agam. Filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sangat terasa di sini, di mana arsitektur adat Minangkabau menjadi wadah bagi perjuangan syiar Islam. Dengan mengunjungi museum ini, generasi muda dapat memetik pelajaran tentang integritas, kerendahan hati, dan keteguhan prinsip seorang Hamka—tokoh yang meski pernah dipenjara oleh bangsanya sendiri, tetap memaafkan dan bahkan mengimami shalat jenazah orang yang memenjarakannya.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Agam
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kami