Kuliner Legendaris

Kawasan Kuliner Peunayong

di Banda Aceh, Aceh

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Sejarah dan Filosofi Peunayong sebagai "Pusat Rasa"

Nama "Peunayong" berasal dari kata Peuna (ada) dan Nyong (payung), yang merujuk pada tempat bernaung bagi para pendatang. Sejak masa Kesultanan Aceh, kawasan ini telah menjadi pelabuhan dagang yang sibuk. Keberagaman etnis yang bermukim di sini—mulai dari masyarakat Tionghoa yang telah menetap berabad-abad hingga pedagang Gujarat—menciptakan ekosistem kuliner yang kaya.

Secara kultural, Peunayong adalah simbol toleransi. Di pagi hari, Anda akan menemui kedai kopi yang dipenuhi warga dari berbagai latar belakang, menyeruput kopi saring yang sama. Kuliner di sini bukan hanya soal mengenyangkan perut, melainkan ritual sosial yang mempererat kohesi masyarakat Banda Aceh.

Mahakarya Mi Aceh: Antara Rempah dan Tradisi

Berbicara tentang Peunayong takkan lengkap tanpa membahas Mi Aceh. Di kawasan ini, terdapat beberapa kedai legendaris seperti Mie Razali yang telah berdiri sejak tahun 1967. Apa yang membuat Mi Aceh di Peunayong berbeda dengan di tempat lain adalah kedalaman rasa kaldu dan tekstur mienya.

Rahasia Bahan dan Persiapan:

Mi yang digunakan adalah mi kuning tebal yang dibuat secara segar setiap hari tanpa bahan pengawet. Keunikannya terletak pada bumbu halusnya (bumbu merah) yang terdiri dari cabai merah kering, bawang putih, bawang merah, kemiri, jintan, kapulaga, dan kunyit.

Teknik Memasak:

Ada tiga varian utama: goreng (kering), tumis (sedikit kuah), dan rebus (kuah banjir). Teknik memasak menggunakan kuali besi besar dengan api tinggi (wok hei) memastikan rempah meresap hingga ke dalam serat mi. Penambahan daging sapi, kambing, atau hidangan laut seperti kepiting dan udang memberikan dimensi rasa umami yang kuat. Sebagai penyeimbang rasa pedas dan berempah, Mi Aceh selalu disajikan dengan acar bawang merah segar, emping melinjo, dan potongan jeruk nipis.

Sate Matang: Aroma Arang dan Kuah Soto yang Gurih

Meskipun berasal dari daerah Matang Glumpang Dua, Sate Matang menemukan panggung terbaiknya di Peunayong. Di sepanjang jalanan malam, kepulan asap dari panggangan sate menjadi pemandangan ikonik.

Sate ini menggunakan daging sapi atau kambing yang dipotong dadu dan dimarinasi dengan bumbu khusus yang mengandung ketumbar, lengkuas, dan serai sebelum dibakar di atas arang kayu jati. Keunikan Sate Matang terletak pada pendampingnya: semangkuk kuah soto berlemak yang kaya akan rempah kapulaga, bunga lawang, dan cengkeh. Cara menikmatinya adalah dengan mencelupkan sate ke dalam bumbu kacang yang digiling kasar, lalu menyeruput kuah hangatnya—sebuah kombinasi tekstur dan suhu yang sempurna.

Warisan Peranakan: Kopi dan Sarapan di Kedai Tua

Peunayong adalah rumah bagi budaya "Kopi Darat" yang sesungguhnya. Kedai-kedai kopi tua seperti Warkop Dhapu Kupi atau deretan kedai kopi di Jalan T. Panglima Polem menjadi saksi bisu perkembangan kota.

Kopi Saring Tradisional:

Kopi yang disajikan adalah kopi jenis Robusta yang ditanam di dataran tinggi Gayo. Teknik pembuatannya sangat teatrikal—dikenal sebagai "Kopi Tarik" versi Aceh. Kopi diseduh dengan air mendidih, lalu disaring menggunakan kain berbentuk kaos kaki berkali-kali dari satu gayung tembaga ke gayung lainnya. Proses ini menghasilkan busa halus dan membuang ampas secara sempurna, menciptakan rasa kopi yang kuat namun lembut di tenggorokan.

Sebagai pendamping kopi, masyarakat lokal biasanya menikmati Roti Sele (Roti Selai). Selai srikaya yang digunakan di Peunayong adalah buatan tangan (homemade) dengan resep turun-temurun, menggunakan telur bebek dan santan kental yang dimasak berjam-jam hingga berwarna kecokelatan dan beraroma karamel.

Martabak Aceh dan Keragaman Jajanan Malam

Saat matahari terbenam, Peunayong berubah menjadi pasar malam kuliner yang riuh. Salah satu primadonanya adalah Martabak Aceh. Berbeda dengan martabak telur pada umumnya yang membungkus telur dengan kulit terigu, Martabak Aceh justru meletakkan kulit terigu di dalam, lalu dibalut dengan kocokan telur yang dicampur daun bawang dan potongan daging di bagian luar. Rasanya lebih gurih dan teksturnya lebih lembut, sering kali disajikan dengan acar bawang merah yang pedas asam.

Selain itu, terdapat Sop Sumsum yang legendaris. Tulang kaki sapi berukuran besar disajikan dalam kuah kaldu bening yang sangat kaya rempah. Pengunjung diberikan sedotan untuk menghisap sumsum gurih dari dalam tulang—sebuah pengalaman kuliner yang eksentrik namun sangat dicari.

Ikan Kayu (Eungkot Keumamah): Kuliner Sejarah dan Perjuangan

Di pasar-pasar tradisional Peunayong, Anda akan menemui Eungkot Keumamah atau ikan kayu. Ini adalah ikan tongkol yang direbus, dikeringkan, lalu dikeraskan. Secara historis, kuliner ini adalah bekal para pejuang Aceh saat perang gerilya melawan Belanda karena sifatnya yang tahan lama.

Dalam pengolahannya di dapur-dapur Peunayong, ikan kayu ini disuwir-suwir dan dimasak dengan bumbu asam sunti (belimbing wuluh yang dikeringkan dan digarami). Perpaduan rasa pedas dari cabai hijau dan rasa asam ikonik dari asam sunti menciptakan cita rasa otentik yang tidak bisa ditemukan di daerah lain di Indonesia.

Adat Makan dan Etika Lokal

Makan di Peunayong bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang memahami etika lokal. Budaya Meurami-rami (makan bersama) sangat kental. Jarang sekali orang Aceh makan sendirian di kawasan ini. Kedai kopi dan rumah makan adalah ruang publik di mana diskusi politik, bisnis, hingga urusan keluarga diselesaikan di atas meja makan.

Kawasan ini juga menunjukkan keunikan waktu operasional. Beberapa tempat hanya buka setelah waktu Isya hingga menjelang subuh, mengikuti ritme hidup masyarakat Banda Aceh yang religius namun memiliki kehidupan malam yang dinamis dalam konteks sosial.

Menjaga Warisan di Tengah Modernitas

Meskipun kafe-kafe modern mulai bermunculan di Banda Aceh, Kawasan Kuliner Peunayong tetap menjadi kiblat utama bagi para pencinta rasa sejati. Keberhasilan kawasan ini mempertahankan reputasinya terletak pada kesetiaan para pedagangnya terhadap resep leluhur. Penggunaan bahan-bahan spesifik seperti asam sunti, pliek u (ampas minyak kelapa yang difermentasi), dan teknik memasak tradisional dengan kuali tanah liat atau arang tetap dipertahankan.

Kawasan Kuliner Peunayong adalah laboratorium rasa di mana sejarah, agama, dan tradisi berpadu dalam satu piring hidangan. Mengunjungi Banda Aceh tanpa menghabiskan waktu di Peunayong ibarat membaca buku tanpa menyentuh intisarinya. Di sini, setiap suapan adalah cerita, dan setiap aroma rempah adalah penghormatan terhadap kejayaan masa lalu yang terus hidup hingga hari ini.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Ahmad Yani, Peunayong, Kec. Kuta Alam, Kota Banda Aceh
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 23:00

Tempat Menarik Lainnya di Banda Aceh

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Banda Aceh

Pelajari lebih lanjut tentang Banda Aceh dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Banda Aceh