Situs Sejarah

Museum Lampung

di Bandar Lampung, Lampung

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Peradaban Sang Bumi Ruwa Jurai: Sejarah Lengkap Museum Lampung

Museum Negeri Provinsi Lampung, yang secara resmi dikenal sebagai Museum Ruwa Jurai, merupakan institusi pelestarian budaya terpenting di ujung selatan Pulau Sumatera. Berlokasi strategis di Jalan Zaenal Abidin Pagar Alam, Bandar Lampung, museum ini bukan sekadar gedung penyimpanan barang antik, melainkan monumen hidup yang merekam evolusi identitas masyarakat Lampung dari masa pra-aksara hingga era modern.

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Gagasan untuk mendirikan sebuah museum representatif di Lampung mulai muncul pada tahun 1975. Pada masa itu, terdapat kesadaran kolektif di kalangan budayawan dan pemerintah daerah mengenai banyaknya artefak berharga Lampung yang tercecer atau dibawa keluar daerah. Pembangunan fisik museum ini dimulai pada tahun anggaran 1978/1979.

Namun, peresmiannya baru terlaksana hampir satu dekade kemudian. Museum Lampung secara resmi dibuka untuk umum pada tanggal 24 September 1988 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia saat itu, Prof. Dr. Fuad Hassan. Peresmian ini bertepatan dengan momentum peringatan Hari Aksara Internasional yang dipusatkan di Bandar Lampung. Penamaan "Ruwa Jurai" diambil dari semboyan provinsi Lampung yang melambangkan persatuan antara penduduk asli (Suku Lampung) dan penduduk pendatang (transmigran) yang hidup berdampingan.

#

Gaya Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, gedung utama Museum Lampung mengadopsi elemen-elemen tradisional yang dipadukan dengan fungsionalitas modern. Salah satu ciri khas yang paling mencolok adalah bentuk atapnya yang mengadaptasi bentuk atap rumah adat Lampung (Nuwou Sesat). Pada bagian fasad, pengunjung dapat melihat motif ornamen khas Lampung, yaitu pucuk rebung dan sulur-suluran yang melambangkan pertumbuhan dan kehidupan.

Struktur bangunan dirancang untuk menampung koleksi yang sangat beragam, mulai dari benda-benda prasejarah yang masif hingga naskah kuno yang rapuh. Area luar museum difungsikan sebagai pameran terbuka (open-air museum) yang menampilkan koleksi berskala besar, sementara interiornya dibagi menjadi beberapa ruang pameran tematik yang mengikuti standar kuratorial nasional.

#

Signifikansi Sejarah dan Koleksi Unggulan

Museum Lampung memiliki peran krusial dalam mendokumentasikan masa keemasan Lampung sebagai jalur perdagangan lada dunia. Salah satu koleksi paling signifikan adalah "Bejana Perunggu" yang berasal dari masa perundagian. Bejana ini membuktikan bahwa Lampung telah memiliki peradaban yang maju dan terlibat dalam jaringan perdagangan internasional sejak ribuan tahun lalu.

Selain itu, museum ini menyimpan koleksi kain Tapis yang sangat langka. Kain Tapis bukan sekadar pakaian, melainkan strata sosial dan simbol religiusitas. Beberapa koleksi Tapis di museum ini memiliki motif "Kapal Telok Belango" yang menggambarkan perjalanan jiwa manusia, sebuah konsep kosmologi kuno masyarakat Lampung yang sangat mendalam.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Sejarah museum ini tidak lepas dari peran para arkeolog dan antropolog yang meneliti situs-situs megalitik di Lampung Barat, seperti Situs Pugung Raharjo. Koleksi-koleksi yang ditemukan di situs tersebut kemudian menjadi inti (core collection) dari Museum Lampung. Secara periodisasi, museum ini mencakup tujuh klasifikasi koleksi utama: Geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, dan Filologika.

Museum ini juga merekam jejak pengaruh Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Banten di tanah Lampung. Terdapat meriam-meriam kuno dan naskah perjanjian kuno yang menunjukkan bagaimana Lampung menjadi wilayah yang diperebutkan karena kekayaan sumber daya alamnya.

#

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, museum ini terus mengalami modernisasi. Status pelestariannya berada dalam pengawasan ketat untuk menjaga integritas artefak. Restorasi dilakukan secara berkala, terutama pada koleksi filologika (naskah kuno) yang ditulis di atas kulit kayu (Pustaha) agar tidak hancur dimakan usia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Museum Lampung melakukan transformasi digital. Upaya ini mencakup digitalisasi naskah kuno dan penggunaan kode QR pada label koleksi untuk memberikan informasi yang lebih komprehensif kepada pengunjung milenial. Revitalisasi tata ruang pameran juga dilakukan untuk menciptakan alur cerita (storytelling) yang lebih koheren bagi wisatawan.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat lokal, Museum Lampung adalah "Rumah Besar" bagi identitas mereka. Secara budaya, museum ini menyimpan koleksi Siger (mahkota pengantin wanita Lampung) dari berbagai pepadun dan saibatin, yang menunjukkan keragaman adat istiadat di Lampung. Siger bukan sekadar perhiasan, melainkan simbol kehormatan dan posisi perempuan dalam struktur masyarakat Lampung.

Secara religi, museum ini mendokumentasikan transisi kepercayaan masyarakat Lampung, mulai dari pemujaan arwah leluhur (animisme-dinamisme) yang tercermin pada arca-arca megalitik, pengaruh Hindu-Budha, hingga masuknya Islam. Koleksi Al-Quran tulis tangan kuno dan perlengkapan ibadah tradisional menjadi bukti sejarah bagaimana nilai-nilai agama berasimilasi dengan budaya lokal.

#

Fakta Sejarah Unik

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah keberadaan "Bola Besi" raksasa di halaman museum. Bola besi ini merupakan alat yang digunakan pada era kolonialisasi dan awal kemerdekaan untuk membuka lahan hutan di Lampung (land clearing) dalam program transmigrasi. Benda ini menjadi saksi bisu transformasi sosiologis Lampung dari wilayah hutan belantara menjadi salah satu provinsi paling padat di Sumatera.

Selain itu, museum ini menyimpan koleksi "Aksara Lampung" atau Had Lampung. Lampung adalah satu dari sedikit suku di Indonesia yang memiliki aksara sendiri yang masih terjaga. Museum Lampung menjadi pusat studi bagi para peneliti bahasa untuk mempelajari evolusi aksara ini dari prasasti-prasasti kuno hingga penggunaan dalam surat-surat resmi kerajaan di masa lampau.

Dengan koleksi yang mencapai lebih dari 4.000 artefak, Museum Lampung berdiri tegak sebagai penjaga memori kolektif. Ia bukan hanya destinasi wisata, melainkan institusi pendidikan yang memastikan bahwa generasi mendatang tidak akan kehilangan akar budayanya di tengah arus globalisasi. Museum ini terus membuktikan bahwa Lampung adalah tanah yang kaya, di mana sejarah tertulis di atas batu, kulit kayu, dan ditenun dalam sehelai kain Tapis.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. ZA. Pagar Alam No.64, Meneng, Kec. Rajabasa, Kota Bandar Lampung
entrance fee
Rp 5.000 per orang
opening hours
Selasa - Minggu, 08:00 - 15:00

Tempat Menarik Lainnya di Bandar Lampung

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bandar Lampung

Pelajari lebih lanjut tentang Bandar Lampung dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bandar Lampung