Situs Sejarah

Observatorium Bosscha

di Bandung Barat, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Astronomi Modern di Hindia Belanda: Sejarah Lengkap Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha bukan sekadar fasilitas penelitian astronomi tertua di Indonesia, melainkan simbol kebangkitan sains modern di Asia Tenggara. Terletak di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, situs ini berdiri kokoh di atas perbukitan setinggi 1.310 meter di atas permukaan laut. Sebagai salah satu cagar budaya nasional, Bosscha menyimpan narasi panjang tentang kolaborasi intelektual, ambisi ilmiah, dan ketahanan arsitektur yang melampaui zaman.

#

Asal-usul dan Periode Pendirian

Latar belakang pendirian Observatorium Bosscha berakar pada awal abad ke-20, ketika komunitas ilmiah internasional mulai menyadari pentingnya pengamatan langit dari belahan bumi selatan. Gagasan utama pembangunan ini dicetuskan oleh Joan George Erardus Gijsbertus Voûte, seorang astronom Belanda yang bercita-cita mendirikan observatorium di wilayah khatulistiwa.

Keinginan Voûte mendapat dukungan penuh dari Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha, seorang tuan tanah perkebunan teh Malabar yang dikenal sebagai dermawan besar. Pada tahun 1920, dibentuklah Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda). K.A.R. Bosscha menjadi penyokong dana utama, sementara Rudolph Albert Kerkhoven dan beberapa pengusaha perkebunan lainnya ikut berkontribusi. Konstruksi dimulai pada tahun 1923 dan selesai secara bertahap hingga tahun 1928. Nama "Bosscha" kemudian diabadikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa besarnya dalam mendanai seluruh proyek ambisius tersebut.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Observatorium Bosscha merupakan perpaduan antara fungsionalitas ilmiah dan estetika kolonial Belanda yang adaptif terhadap iklim tropis. Bangunan paling ikonik di kompleks ini adalah Gedung Kubah (Kubah Zeiss) yang menaungi teleskop refraktor ganda Zeiss.

Kubah ini memiliki desain unik dengan mekanisme atap yang dapat berputar 360 derajat. Konstruksi atapnya terbuat dari baja seberat puluhan ton, namun dirancang sedemikian rupa sehingga dapat digerakkan dengan halus menggunakan motor listrik atau tenaga manusia dalam keadaan darurat. Dinding bangunan utama dibuat tebal untuk menjaga stabilitas suhu di dalam ruangan, karena fluktuasi suhu yang tajam dapat memengaruhi presisi lensa teleskop. Selain gedung Zeiss, terdapat beberapa bangunan pendukung lainnya seperti Gedung Bamberg dan Gedung Unitron yang memiliki gaya arsitektur serupa—fungsional dengan jendela-jendela besar khas bangunan Eropa di pegunungan.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Observatorium Bosscha memiliki arti strategis dalam sejarah astronomi global. Pada masanya, ini adalah satu-satunya observatorium besar di wilayah tropis yang mampu memantau bintang-bintang di belahan langit selatan dan utara secara bersamaan.

Salah satu peristiwa bersejarah yang paling signifikan terjadi selama Perang Dunia II. Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, Observatorium Bosscha tidak dihancurkan. Sebaliknya, Jepang menyadari nilai ilmiah tempat ini dan terus mengoperasikannya di bawah pengawasan militer. Menariknya, Direktur Bosscha saat itu, Dr. A. de Sitter, tetap diizinkan bekerja sebelum akhirnya ditawan. Setelah kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Oktober 1951, Pemerintah Belanda secara resmi menyerahkan kepemilikan observatorium ini kepada Pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi bagian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga saat ini.

#

Tokoh-Tokoh Utama

Selain K.A.R. Bosscha dan Joan Voûte, nama-nama besar lain turut mewarnai sejarah tempat ini. Prof. Dr. Bambang Hidayat adalah salah satu tokoh kunci era modern yang membawa Bosscha dikenal luas di forum astronomi internasional, khususnya dalam studi bintang-bintang emisi dan struktur galaksi. Selain itu, ada pula Dr. Gale Bruno van Albada, yang memimpin observatorium pada pasca-kemerdekaan dan memberikan kontribusi besar dalam pendidikan astronomi bagi mahasiswa Indonesia.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai situs sejarah yang masih berfungsi aktif, pelestarian Observatorium Bosscha menghadapi tantangan besar, terutama terkait polusi cahaya. Perkembangan kawasan Lembang yang sangat pesat menjadi ancaman bagi kualitas pengamatan langit. Namun, secara fisik, bangunan-bangunan utama di kompleks ini tetap terjaga keasliannya.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Observatorium Bosscha sebagai Objek Vital Nasional dan Cagar Budaya. Upaya restorasi dilakukan secara berkala, terutama pada mekanisme putar kubah Zeiss dan perawatan lensa teleskop yang telah berusia seabad. Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan bahwa komponen asli tetap dipertahankan, mengingat nilai sejarahnya yang tak ternilai.

#

Kepentingan Budaya dan Sains

Bagi masyarakat Jawa Barat dan Indonesia pada umumnya, Bosscha bukan sekadar tempat penelitian, melainkan ikon edukasi. Setiap tahunnya, ribuan pelajar dan wisatawan datang untuk belajar tentang alam semesta. Secara budaya, Bosscha juga sering menjadi rujukan dalam penentuan awal bulan Hijriah melalui pengamatan hilal, menjadikannya jembatan penting antara sains modern dan praktik keagamaan di Indonesia.

#

Fakta Unik Sejarah

Ada beberapa fakta unik yang jarang diketahui publik mengenai Bosscha. Pertama, Teleskop Zeiss di Bosscha adalah salah satu teleskop refraktor ganda terbesar di dunia yang masih berfungsi dengan baik hingga saat ini. Kedua, selama masa pembangunannya, pengangkutan lensa besar dari Jerman ke perbukitan Lembang melibatkan logistik yang sangat rumit menggunakan transportasi kereta api dan truk khusus melewati medan pegunungan yang terjal. Ketiga, lokasi Bosscha dipilih karena kondisi langit Lembang pada tahun 1920-an dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia untuk pengamatan bintang, sebelum akhirnya terdegradasi oleh urbanisasi.

Sebagai penutup sejarah panjangnya, Observatorium Bosscha tetap berdiri sebagai monumen kecerdasan manusia. Dari sebuah mimpi seorang astronom Belanda dan kedermawanan seorang pengusaha teh, situs ini telah bertransformasi menjadi pusat keunggulan ilmiah di Indonesia, menghubungkan masa lalu kolonial dengan masa depan astronomi modern.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Peneropongan Bintang No.45, Lembang, Kabupaten Bandung Barat
entrance fee
Rp 50.000 per orang
opening hours
Kunjungan terjadwal (Sesuai reservasi)

Tempat Menarik Lainnya di Bandung Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bandung Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Bandung Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bandung Barat