Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan)
di Banjar, Jawa Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Spiritual Nusantara: Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan)
Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang lebih dikenal dengan julukan Datu Kalampayan, merupakan salah satu situs sejarah dan religi paling signifikan di Indonesia. Meskipun secara historis beliau sangat erat kaitannya dengan Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan, keberadaan jejak sejarah dan penghormatan terhadap beliau juga membentang hingga ke wilayah Jawa, termasuk sebuah situs yang didedikasikan untuk mengenang pengaruh besarnya di wilayah Banjar, Jawa Barat. Situs ini bukan sekadar kompleks pemakaman, melainkan simbol transmisi keilmuan Islam yang menghubungkan tanah Banjar dengan pusat-pusat peradaban Islam di dunia.
#
Asal-Usul Historis dan Sosok Sang Ulama
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari lahir di Lok Gabang pada 17 Maret 1710 dan wafat pada 3 Oktober 1812. Beliau adalah seorang ulama fiqih mazhab Syafi'i yang berasal dari Kota Martapura. Nama "Datu Kalampayan" disematkan karena beliau dimakamkan di Desa Kalampayan. Perjalanan hidupnya mencerminkan dedikasi luar biasa terhadap ilmu pengetahuan; beliau menghabiskan sekitar 30 tahun belajar di Makkah dan Madinah sebelum kembali ke Nusantara untuk melakukan reformasi pendidikan dan hukum Islam.
Kaitan situs ini dengan wilayah Banjar di Jawa Barat bermula dari migrasi keturunan dan murid-murid beliau ke tanah Jawa. Sebagai tokoh yang menulis kitab Sabilal Muhtadin—sebuah mahakarya hukum Islam yang menjadi rujukan hingga ke Malaysia, Brunei, dan Thailand—pengaruhnya melintasi batas geografis. Makam atau petilasan yang berada di Jawa Barat berfungsi sebagai pusat ziarah bagi para pengikut tarekat dan penuntut ilmu yang ingin menyerap barakah dari garis keturunan keilmuan beliau.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Kompleks makam ini menampilkan perpaduan arsitektur yang khas, menggabungkan elemen tradisional Banjar dengan pengaruh tipikal bangunan religi di Jawa. Secara fisik, bangunan utama yang menaungi makam biasanya berbentuk Cungkup dengan atap tumpang, yang merupakan ciri khas arsitektur Islam Nusantara. Penggunaan kayu ulin yang sangat kuat sering ditemukan pada bagian-bagian tertentu, mencerminkan material utama dari daerah asalnya di Kalimantan.
Detail konstruksi pada nisan dan interior makam sering kali dihiasi dengan ukiran kaligrafi Arab yang halus, dipadukan dengan motif flora. Lantai kompleks biasanya menggunakan marmer atau ubin keramik berwarna putih untuk memberikan kesan sejuk dan sakral. Struktur bangunan dirancang sedemikian rupa agar dapat menampung ribuan peziarah, dengan sirkulasi udara yang terbuka, mencerminkan konsep keterbukaan dalam dakwah yang diajarkan oleh Datu Kalampayan.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Situs ini menjadi saksi bisu bagaimana Islam disebarkan melalui pendekatan kultural dan intelektual. Salah satu peristiwa sejarah yang paling menonjol terkait dengan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah perannya dalam membentuk sistem peradilan agama di Kesultanan Banjar, yang kemudian pola-polanya juga diadopsi oleh komunitas Muslim di berbagai wilayah lain di Nusantara, termasuk Jawa.
Keberadaan situs makam ini juga berkaitan dengan periode kebangkitan literasi Islam. Di tempat inilah, ingatan kolektif masyarakat tentang penyusunan kitab-kitab kuning dijaga. Datu Kalampayan dikenal sebagai ulama pertama yang memperkenalkan metode penentuan arah kiblat menggunakan ilmu falak di Nusantara, sebuah peristiwa sains-religius yang mengubah cara pembangunan masjid di tanah Jawa dan Kalimantan pada abad ke-18.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Selain sosok Syekh Muhammad Arsyad sendiri, situs ini juga berkaitan dengan tokoh-tokoh besar lainnya seperti Sultan Tahmidullah II, yang membiayai studi beliau ke Timur Tengah. Di Jawa Barat, keberadaan makam ini sering dikaitkan dengan jaringan ulama-ulama besar yang merupakan keturunan langsung atau murid dari jalur keilmuan Al-Banjari. Periode abad ke-18 dan ke-19 menjadi masa keemasan di mana ajaran beliau menyebar luas, menjembatani hubungan diplomatik dan religius antara Kesultanan-Kesultanan di Nusantara.
#
Status Preservasi dan Upaya Restorasi
Sebagai situs sejarah yang sangat dihormati, Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah dan yayasan keluarga. Upaya restorasi dilakukan secara berkala untuk menjaga keutuhan bangunan tanpa menghilangkan nilai-nilai historisnya. Pemeliharaan meliputi penguatan struktur bangunan utama, perluasan area parkir dan fasilitas peziarah, serta pendokumentasian artefak-artefak yang ada di sekitar makam.
Pemerintah sering kali memasukkan situs ini ke dalam daftar cagar budaya yang dilindungi. Restorasi terakhir menekankan pada pengembalian estetika tradisional, di mana elemen plastik atau beton modern yang berlebihan mulai diganti dengan material yang lebih mendekati bentuk aslinya untuk menjaga aura spiritualitas dan nilai sejarahnya.
#
Kepentingan Budaya dan Religi
Secara budaya, situs ini adalah pusat dari tradisi Haul—peringatan hari wafatnya sang ulama. Setiap tahun, puluhan ribu orang dari berbagai penjuru Nusantara, termasuk dari mancanegara, berkumpul di tempat ini. Tradisi ini menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat sekitar Banjar, Jawa Barat, mempererat ikatan ukhuwah antarumat Islam.
Secara religi, Datu Kalampayan dianggap sebagai salah satu Wali Allah yang memiliki karamah. Peziarah datang tidak hanya untuk mendoakan almarhum, tetapi juga untuk merenungi perjalanan hidup beliau yang penuh dengan jihad ilmu. Kitab Sabilal Muhtadin yang lahir dari tangan beliau tetap dibacakan dan dikaji di serambi-serambi makam, menjadikan situs ini sebagai institusi pendidikan non-formal yang terus hidup.
#
Fakta Sejarah Unik
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari memiliki hubungan kekerabatan spiritual dengan Syekh Abdus Samad al-Palimbani dan Syekh Yasin al-Fadani. Selain itu, beliau adalah ulama yang mempelopori sistem pengairan atau kanal yang disebut "Sungei Tuan" di Kalimantan, yang filosofi kemaslahatan publiknya sering kali diceritakan oleh para juru kunci makam kepada peziarah di Jawa sebagai contoh ulama yang tidak hanya ahli ibadah, tetapi juga ahli tata kota dan lingkungan.
Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan) di Banjar, Jawa Barat, tetap berdiri sebagai mercusuar sejarah. Ia adalah pengingat bahwa batas laut dan daratan tidak pernah mampu menghalangi penyebaran ilmu dan kearifan seorang ulama besar yang cintanya terhadap umat terus dirasakan hingga berabad-abad setelah kepergiannya.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Banjar
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Banjar
Pelajari lebih lanjut tentang Banjar dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Banjar