Situs Sejarah

Makam Raja-Raja Imogiri

di Bantul, Yogyakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Makam Raja-Raja Imogiri: Pusara Agung Wangsa Mataram di Bukit Merak

Makam Raja-Raja Imogiri, atau yang secara resmi dikenal sebagai Pajimatan Imogiri, merupakan kompleks pemakaman tersuci bagi dinasti Kerajaan Mataram Islam. Terletak di Bukit Merak, Dusun Pajimatan, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, situs ini bukan sekadar tempat persemayanan terakhir, melainkan simbol legitimasi politik, spiritualitas Jawa, dan kesinambungan sejarah yang menghubungkan masa lalu keemasan Mataram dengan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta saat ini.

#

Asal-Usul Historis dan Pembangunan

Pembangunan kompleks pemakaman ini diprakarsai oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa ketiga Mataram Islam yang memerintah antara tahun 1613 hingga 1645. Sejarah mencatat bahwa pembangunan dimulai sekitar tahun 1632. Terdapat narasi sejarah unik yang menyebutkan bahwa Sultan Agung awalnya hendak membangun makam di Mekkah. Namun, sebuah petunjuk spiritual membawanya kembali ke tanah Jawa.

Legenda lokal menceritakan bahwa Sultan Agung melemparkan segenggam pasir yang dibawa dari Mekkah. Pasir tersebut jatuh di Bukit Merak, yang kemudian dipilih sebagai lokasi pemakaman. Secara teknis, pemilihan lokasi di atas buit mengikuti tradisi kuno masyarakat Jawa mengenai konsep "punden berundak", di mana tempat yang tinggi dianggap sebagai tempat yang suci dan dekat dengan sang pencipta serta leluhur. Arsitek utama di balik kemegahan situs ini adalah Kyai Tumenggung Citrokusumo.

#

Arsitektur dan Struktur Kompleks

Arsitektur Makam Imogiri merupakan perpaduan harmonis antara langgam Hindu-Jawa dan nilai-nilai Islam. Kompleks ini dibangun menggunakan material batu bata merah tanpa semen (teknik gosok), yang sangat khas dengan gaya arsitektur era Majapahit.

Untuk mencapai puncak makam, pengunjung harus menaiki sekitar 409 anak tangga. Jumlah anak tangga ini memiliki makna simbolis tersendiri yang berkaitan dengan masa pembangunan dan silsilah raja-raja. Di sepanjang jalur pendakian, terdapat gerbang-gerbang (kori) besar berbentuk Candi Bentar yang membagi kompleks menjadi beberapa halaman atau halaman.

Bagian utama makam terbagi menjadi tiga zona besar:

1. Kedaton Sultan Agungan: Area paling sakral yang menjadi tempat peristirahat Sultan Agung, permaisuri, serta beberapa keturunan terdekatnya.

2. Wilayah Kasunanan Surakarta: Terletak di sebelah kiri (barat) Sultan Agungan, berisi makam raja-raja dari Kerajaan Surakarta.

3. Wilayah Kasultanan Yogyakarta: Terletak di sebelah kanan (timur) Sultan Agungan, berisi makam raja-raja dari Kerajaan Yogyakarta.

Setiap kedaton memiliki pintu gerbang kayu jati berukir yang hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu untuk upacara ziarah resmi.

#

Signifikansi Sejarah dan Tokoh-Tokoh Penting

Makam Imogiri adalah saksi bisu pecahnya Kerajaan Mataram Islam melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Meskipun secara administratif kekuasaan terbagi menjadi dua, Imogiri tetap menjadi satu-satunya tempat di mana kedua wangsa (Surakarta dan Yogyakarta) kembali bersatu dalam keabadian.

Tokoh paling sentral di sini tentu saja Sultan Agung Hanyokrokusumo. Di bawah kepemimpinannya, Mataram mencapai puncak kejayaan militer dan budaya. Tokoh besar lainnya yang dimakamkan di sini termasuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia dan Wakil Presiden RI kedua, serta Sri Sunan Pakubuwono X dari Surakarta yang membawa era modernisasi bagi kerajaannya.

Salah satu fakta unik dan tragis yang terekam dalam sejarah Imogiri adalah keberadaan makam Tumenggung Endranata. Ia dianggap sebagai pengkhianat karena membocorkan strategi Sultan Agung saat menyerang Batavia (VOC) pada 1628-1629. Sebagai hukuman abadi, jasadnya dimakamkan di bagian anak tangga menuju kompleks utama, tepatnya di bawah gerbang masuk, agar setiap peziarah yang melintas menginjak-injak makam sang pengkhianat tersebut.

#

Nilai Budaya dan Keagamaan

Bagi masyarakat Jawa, Imogiri adalah pusat energi spiritual. Setiap tahun, terdapat tradisi "Nguras Enceh", yaitu ritual menguras dan mengisi kembali empat tempayan (gentong) suci yang berada di depan gerbang makam Sultan Agung. Keempat gentong tersebut merupakan pemberian dari kerajaan-kerajaan sahabat pada masa itu: Kyai Danumaya (Aceh), Nyai Danumurti (Palembang), Kyai Mendung (Ngerum/Turki), dan Nyai Siyem (Siam/Thailand). Air dari gentong ini sering dianggap membawa berkah oleh para peziarah.

Tata krama di Imogiri sangat ketat. Pengunjung yang ingin masuk ke area dalam makam raja harus mengenakan pakaian adat Jawa (peranakan untuk pria dan kain kemben untuk wanita) serta dilarang mengenakan alas kaki. Hal ini melambangkan kesetaraan di hadapan Tuhan dan penghormatan setinggi-tingginya kepada para leluhur.

#

Pelestarian dan Status Saat Ini

Makam Raja-Raja Imogiri telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya nasional. Pengelolaannya dilakukan secara kolaboratif antara Abdi Dalem dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Hal ini menjadikannya salah satu dari sedikit situs di Indonesia di mana dua institusi tradisional bekerja sama secara aktif dalam pelestarian harian.

Upacara restorasi besar pernah dilakukan setelah gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 yang sempat merusak beberapa bagian tembok dan gerbang. Pemerintah Indonesia bersama kedua keraton memastikan bahwa setiap perbaikan menggunakan material dan teknik tradisional untuk menjaga otentisitas situs. Pada tahun 2019, terjadi longsor di lereng makam akibat cuaca ekstrem, yang kemudian memicu proyek penguatan struktur bukit secara masif oleh pemerintah pusat guna melindungi situs suci ini dari kerusakan lebih lanjut.

Hingga saat ini, Pajimatan Imogiri tetap menjadi destinasi wisata religi dan sejarah yang paling dihormati di Yogyakarta. Ia berdiri tegak sebagai monumen yang mengingatkan bangsa Indonesia akan kejayaan peradaban Nusantara dan pentingnya menjaga harmoni antara kekuasaan duniawi dengan ketenangan spiritual. Bagi para sejarawan, situs ini adalah buku terbuka yang menceritakan dinamika politik Jawa selama hampir empat abad.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Pajimatan, Girirejo, Imogiri, Bantul
entrance fee
Sukarela (Donasi)
opening hours
Senin 10:00 - 13:00, Jumat 13:00 - 16:00 (Hari tertentu saja)

Tempat Menarik Lainnya di Bantul

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bantul

Pelajari lebih lanjut tentang Bantul dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bantul