Istana Lima Laras
di Batu Bara, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul Historiografi dan Periode Pembangunan
Sejarah Istana Lima Laras tidak dapat dipisahkan dari sosok Datuk Muhammad Yudha, yang bergelar Datuk Matyo. Ia adalah pemangku takhta ke-XII dari Kedatukan Lima Laras. Pembangunan istana ini dimulai pada tahun 1907 dan memakan waktu sekitar lima tahun hingga selesai sepenuhnya pada tahun 1912. Sebelum istana permanen ini berdiri, pusat pemerintahan Kedatukan Lima Laras telah berpindah-pindah sebanyak beberapa kali akibat dinamika politik dan keamanan di pesisir Sumatera.
Pembangunan istana ini menelan biaya yang sangat besar pada masanya, yakni sekitar 150.000 Gulden. Dana tersebut diperoleh dari hasil pajak perdagangan dan hasil bumi, terutama kopra dan rempah-rempah yang menjadi komoditas unggulan Batu Bara saat itu. Keberhasilan finansial ini memungkinkan Datuk Matyo membangun istana yang sangat megah untuk menunjukkan eksistensi kedatukan di tengah tekanan politik Pemerintah Hindia Belanda dan dominasi Kesultanan Deli di utara.
Arsitektur: Perpaduan Estetika Melayu, Eropa, dan Tiongkok
Salah satu aspek paling unik dari Istana Lima Laras adalah gaya arsitekturnya yang eklektik. Bangunan ini mencerminkan keterbukaan masyarakat Melayu pesisir terhadap pengaruh luar namun tetap mempertahankan akar tradisi yang kuat. Secara fisik, istana ini merupakan bangunan berlantai empat dengan struktur utama yang mengombinasikan kayu jati berkualitas tinggi dan beton permanen.
Lantai pertama terbuat dari beton yang berfungsi sebagai pondasi sekaligus ruang pertemuan publik. Sementara itu, lantai kedua hingga keempat didominasi oleh material kayu. Keunikan utama terletak pada keberadaan 28 anak tangga di bagian depan yang melambangkan status sosial dan tata krama dalam menyambut tamu. Atapnya mengikuti gaya atap limas yang khas, namun dihiasi dengan ornamen-ornamen yang menunjukkan pengaruh gaya Eropa (Barok) pada jendelanya yang besar dan tinggi, serta sentuhan Tiongkok pada detail ukiran naga dan bunga di beberapa sudut tertentu.
Nama "Lima Laras" sendiri merujuk pada lima wilayah atau pemukiman (laras) yang berada di bawah kekuasaan kedatukan ini. Hal ini direpresentasikan secara simbolis dalam struktur bangunan yang memiliki banyak tiang penyangga besar, yang menurut masyarakat setempat, jumlah dan posisinya memiliki makna filosofis dalam tata kelola pemerintahan adat.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Istana Lima Laras menjadi saksi bisu transisi kekuasaan dari kedaulatan tradisional menuju masa kolonial hingga kemerdekaan. Pada masa kejayaannya, istana ini berfungsi sebagai pusat administrasi, pengadilan adat, dan pusat kegiatan sosial keagamaan. Wilayah Batu Bara sendiri dikenal sebagai daerah yang dihuni oleh komunitas Melayu yang memiliki kaitan erat dengan Minangkabau (sering disebut Melayu Batu Bara), sehingga hukum adat yang berlaku di istana ini memiliki nuansa perpaduan yang unik.
Kejadian penting yang mencatat nama istana ini dalam sejarah nasional adalah perannya sebagai basis pertahanan dan logistik selama masa perjuangan kemerdekaan. Namun, pasca-Proklamasi 1945, terjadi peristiwa "Revolusi Sosial" di Sumatera Timur pada tahun 1946. Banyak istana di pesisir timur dihancurkan atau dibakar sebagai bentuk protes terhadap sistem feodalisme yang dianggap pro-Belanda. Beruntungnya, Istana Lima Laras tidak mengalami nasib tragis seperti Istana Langkat atau Istana Serdang. Bangunan ini berhasil selamat dari pengrusakan massal tersebut, meskipun fungsi politiknya sebagai pusat kedatukan berakhir sejak saat itu.
Tokoh Kunci: Datuk Muhammad Yudha
Datuk Muhammad Yudha dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan diplomatis. Ia mampu menavigasi kepentingan Kedatukan di antara ambisi kolonial Belanda dan persaingan antar-kesultanan di Sumatera Timur. Beliau tidak hanya membangun fisik istana, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi rakyat dengan membuka jalur perdagangan langsung ke semenanjung Malaya. Keberaniannya dalam membangun istana megah di tengah pengawasan ketat Belanda dianggap sebagai bentuk perlawanan simbolis untuk menunjukkan bahwa kedaulatan pribumi tetap tegak berdiri.
Upaya Pelestarian dan Status Saat Ini
Saat ini, Istana Lima Laras berada di bawah perlindungan Undang-Undang Cagar Budaya. Meskipun telah ditetapkan sebagai situs sejarah, kondisi fisik bangunan sempat mengalami degradasi yang cukup memprihatinkan akibat faktor usia dan cuaca pesisir yang lembap. Struktur kayu pada lantai atas seringkali menjadi titik paling rentan terhadap pelapukan.
Pemerintah Kabupaten Batu Bara bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah Sumatera Utara telah melakukan beberapa kali upaya restorasi. Proses pemugaran dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian material dan bentuk aslinya. Meskipun demikian, tantangan terbesar dalam pelestarian ini adalah biaya perawatan yang tinggi dan pengelolaan sebagai destinasi wisata sejarah yang berkelanjutan.
Setiap tahun, terutama pada hari-hari besar Islam atau upacara adat, keturunan dari keluarga Kedatukan Lima Laras masih sering berkumpul di istana ini. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun fungsi administratifnya telah hilang, fungsi kultural dan emosionalnya sebagai "rumah besar" masyarakat Melayu Batu Bara tetap terjaga.
Nilai Budaya dan Edukasi
Bagi masyarakat Sumatera Utara, Istana Lima Laras adalah monumen pendidikan. Ia mengajarkan tentang kemajuan teknologi pertukangan masa lalu dan bagaimana harmoni antar-etnis (Melayu, Tiongkok, Eropa) dapat terwujud dalam sebuah karya arsitektur. Keberadaannya mengingatkan generasi muda bahwa Batu Bara pernah memiliki pengaruh besar dalam peta perdagangan dunia.
Sebagai salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Kabupaten Batu Bara, Istana Lima Laras menawarkan pengalaman bagi pengunjung untuk melihat sisa-sisa kejayaan masa lalu, mulai dari singgasana yang masih tersisa, foto-foto tua para datuk, hingga struktur bangunan yang menantang waktu. Mengunjungi istana ini adalah upaya untuk merawat ingatan kolektif tentang jati diri bangsa yang besar di pesisir Sumatera.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Batu Bara
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Batu Bara
Pelajari lebih lanjut tentang Batu Bara dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Batu Bara