Istana Malige
di Bau Bau, Sulawesi Tenggara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Istana Malige: Keagungan Arsitektur dan Simbol Kedaulatan Kesultanan Buton
Istana Malige merupakan salah satu warisan sejarah paling ikonik di Kota Bau-Bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Sebagai bekas kediaman resmi Sultan Buton, bangunan ini bukan sekadar struktur kayu biasa, melainkan manifestasi fisik dari filosofi, struktur sosial, dan kemajuan peradaban Kesultanan Buton pada masanya. Berdiri kokoh di kawasan Keraton Buton, Istana Malige menjadi saksi bisu transisi kekuasaan dan ketahanan budaya masyarakat Buton menghadapi arus kolonialisasi.
#
Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan
Istana Malige yang berdiri saat ini di Jalan Putih Melati, Kota Bau-Bau, merupakan replika sekaligus representasi dari istana-istana Sultan Buton terdahulu. Pembangunan struktur yang kita lihat sekarang secara spesifik dikaitkan dengan masa pemerintahan Sultan Buton ke-37, Muhammad Hamidi (1928–1937). Namun, secara historis, konsep "Malige" telah ada sejak berabad-abad sebelumnya sebagai pusat pemerintahan.
Nama "Malige" sendiri berasal dari bahasa lokal yang berarti "Mahligai" atau istana. Berbeda dengan istana-istana di Jawa yang seringkali menggunakan material batu atau bata, Istana Malige mempertahankan tradisi maritim dan agraris masyarakat Buton dengan menggunakan kayu sebagai bahan utama. Pembangunannya mencerminkan kejayaan kesultanan yang mampu menyatukan berbagai etnis di wilayah Sulawesi Tenggara di bawah payung hukum "Martabat Tujuh", sebuah konstitusi kuno yang mengatur tata kelola pemerintahan dan kemasyarakatan.
#
Keunikan Arsitektur: Keajaiban Tanpa Paku
Salah satu aspek yang paling memukau dari Istana Malige adalah teknik konstruksinya. Bangunan ini dibangun sepenuhnya tanpa menggunakan paku besi. Para pengrajin dan arsitek tradisional Buton menggunakan sistem "pasak" dan "pen" yang saling mengunci. Teknik ini tidak hanya menunjukkan kecerdasan teknis, tetapi juga memberikan fleksibilitas struktur terhadap guncangan gempa yang sering terjadi di wilayah tersebut.
Istana Malige merupakan bangunan panggung berlantai tiga atau empat, tergantung pada interpretasi struktur atapnya. Material utamanya menggunakan kayu jati dan kayu rumbia yang sangat berkualitas. Secara visual, bangunan ini berbentuk persegi panjang yang memanjang, melambangkan kapal yang sedang berlayar—sebuah penghormatan terhadap identitas Buton sebagai bangsa pelaut.
Struktur bangunan dibagi menjadi tiga bagian utama yang mencerminkan anatomi tubuh manusia: kaki (tiang penyangga), badan (ruang hunian), dan kepala (atap). Tiang-tiang penyangga istana tidak ditanam ke dalam tanah, melainkan diletakkan di atas batu landasan (pedestal), yang bertujuan untuk mencegah pembusukan kayu akibat kelembaban tanah.
#
Detail Konstruksi dan Simbolisme
Setiap elemen di Istana Malige memiliki makna simbolis. Jumlah tiang penyangga yang mencapai puluhan buah mencerminkan jumlah unit pemukiman atau distrik yang berada di bawah naungan Kesultanan Buton. Di bagian atap, terdapat ornamen "Naga" dan "Nenas". Nanas melambangkan kemandirian dan kemampuan untuk tumbuh di mana saja, serta kulitnya yang berduri melindungi isinya yang manis—simbol pertahanan rakyat Buton. Sementara naga melambangkan kekuasaan, keagungan, dan hubungan diplomatik dengan kekaisaran di luar negeri, termasuk pengaruh dari Tiongkok.
Interior istana dibagi menjadi beberapa ruangan dengan fungsi yang sangat spesifik. Lantai pertama biasanya digunakan untuk menerima tamu umum dan ruang sidang terbuka. Lantai kedua merupakan ruang privat bagi keluarga sultan, sedangkan lantai ketiga digunakan sebagai tempat meditasi, penyimpanan benda pusaka, atau ruang bagi putri sultan yang sedang menjalani masa "Posuo" (pingitan).
#
Signifikansi Sejarah dan Tokoh Terkait
Istana Malige berkaitan erat dengan tokoh Sultan Muhammad Hamidi. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang visioner dan mampu menjaga keseimbangan antara tradisi kesultanan dengan tuntutan zaman kolonial Belanda. Di bawah naungannya, Istana Malige menjadi pusat diplomasi. Kesultanan Buton memiliki keunikan sejarah karena tidak pernah dijajah secara fisik oleh Belanda melalui peperangan, melainkan melalui perjanjian politik yang relatif sejajar, sehingga struktur pemerintahan asli tetap terjaga hingga pertengahan abad ke-20.
Peristiwa bersejarah yang sering dikaitkan dengan lokasi ini adalah prosesi pelantikan Sultan dan rapat-rapat penting dewan "Sara Kidina" (Dewan Agama) dan "Sara Pangka" (Dewan Pemerintah). Di sinilah hukum Martabat Tujuh ditegakkan, yang mengatur bahwa seorang Sultan bisa diberhentikan jika melanggar konstitusi, menunjukkan bahwa Buton telah mengenal sistem demokrasi parlementer jauh sebelum konsep modern masuk ke nusantara.
#
Kepentingan Budaya dan Religi
Masyarakat Buton sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, dan hal ini tercermin dalam tata ruang Istana Malige. Arah bangunan dan pengaturan ruang di dalamnya selalu mempertimbangkan nilai-nilai kesopanan dan privasi sesuai syariat. Istana ini juga menjadi titik pusat dalam berbagai upacara adat, seperti "Pekande-kandea" (pesta makan bersama) yang merayakan kepulangan para pahlawan atau tamu agung.
Keberadaan istana ini menegaskan identitas Bau-Bau sebagai Kota Semerbak (Sejahtera, Menawan, Ramah, Bersih, Aman, Kenangan). Bagi penduduk lokal, Malige bukan sekadar objek wisata, melainkan "ruh" dari kebanggaan identitas mereka sebagai keturunan bangsa yang berdaulat.
#
Pelestarian dan Status Saat Ini
Saat ini, Istana Malige telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya nasional. Pemerintah Kota Bau-Bau bersama Balai Pelestarian Kebudayaan secara rutin melakukan upaya konservasi. Mengingat material utamanya adalah kayu, tantangan terbesar adalah pelapukan dan serangan rayap. Restoran besar terakhir dilakukan untuk memastikan struktur bangunan tetap stabil tanpa menghilangkan keaslian materialnya.
Kini, Istana Malige berfungsi sebagai museum yang menyimpan berbagai artefak kesultanan, mulai dari perlengkapan upacara, pakaian adat, hingga foto-foto bersejarah para Sultan Buton. Pengunjung dapat melihat langsung kemegahan masa lalu dan merasakan atmosfer kehidupan bangsawan Buton.
#
Fakta Unik Istana Malige
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa desain Istana Malige tidak memiliki plafon di beberapa bagian untuk sirkulasi udara alami, namun tetap terasa sejuk meski berada di daerah pesisir yang panas. Selain itu, penempatan jendela-jendelanya diatur sedemikian rupa sehingga Sultan dapat mengawasi situasi di luar tanpa dirinya terlihat dengan jelas dari bawah, sebuah strategi keamanan tradisional yang efektif.
Dengan segala kemegahan dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Istana Malige tetap berdiri sebagai monumen kecerdasan lokal. Ia adalah pengingat bahwa arsitektur nusantara memiliki kedalaman makna yang setara dengan bangunan-bangunan megah di belahan dunia lain, yang dibangun dengan kearifan lokal untuk menyelaraskan manusia, alam, dan Tuhan.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Bau Bau
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Bau Bau
Pelajari lebih lanjut tentang Bau Bau dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Bau Bau