Situs Sejarah

Gedung Juang Tambun

di Bekasi, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Gedung Juang Tambun: Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Bekasi dalam Lintasan Sejarah

Gedung Juang Tambun, yang kini resmi bertransformasi menjadi Museum Digital Bekasi, bukan sekadar bangunan tua yang berdiri kokoh di Jalan Sultan Hasanuddin, Tambun Selatan. Bangunan ini merupakan monumen sejarah yang merekam metamorfosis Bekasi dari wilayah perkebunan kolonial hingga menjadi medan pertempuran sengit dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Dikenal juga dengan nama Landhuis Tamboen, gedung ini menyimpan memori kolektif tentang kolonialisme, feodalisme, dan heroisme rakyat.

#

Asal-usul dan Pembangunan: Era Landhuis Tamboen

Sejarah Gedung Juang Tambun bermula pada awal abad ke-20. Pembangunannya dilakukan dalam dua tahap oleh keluarga Khouw, sebuah keluarga Tionghoa kaya raya (tuan tanah) yang memiliki pengaruh besar di wilayah Batavia dan sekitarnya. Tahap pertama dimulai pada tahun 1906 dan selesai pada 1910, kemudian dilanjutkan dengan renovasi besar hingga mencapai bentuk finalnya pada tahun 1925.

Pemilik pertama gedung ini adalah Khouw Tjeng Kee, disusul oleh ahli warisnya, Khouw Oen Huy. Pada masa itu, gedung ini berfungsi sebagai rumah tinggal mewah sekaligus kantor pusat administrasi perkebunan milik keluarga Khouw yang sangat luas di wilayah Tambun. Sebagai sebuah Landhuis (rumah tuan tanah), gedung ini menjadi simbol status sosial dan kekuatan ekonomi di tengah hamparan sawah dan kebun karet yang mendominasi lanskap Bekasi kala itu.

#

Arsitektur: Perpaduan Gaya Neoklasik dan Tropis

Gedung Juang Tambun menampilkan gaya arsitektur Indische Empire Style, sebuah gaya yang sangat populer di Hindia Belanda pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Karakteristik paling mencolok adalah penggunaan pilar-pilar besar bergaya Neoklasik yang memberikan kesan megah dan kokoh. Langit-langit bangunan dibuat sangat tinggi untuk memastikan sirkulasi udara yang baik, menyesuaikan dengan iklim tropis Bekasi yang panas.

Lantai gedung ini menggunakan ubin marmer berkualitas tinggi yang diimpor dari Eropa, sementara daun pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati solid dengan ukuran yang sangat besar. Uniknya, di tengah kemegahan Eropa tersebut, terdapat sentuhan ornamen lokal dan Tionghoa pada beberapa detail ukiran, mencerminkan latar belakang pemiliknya. Struktur bangunan yang sangat kuat terbukti dengan ketahanannya menghadapi berbagai konflik fisik yang terjadi di sekitarnya selama puluhan tahun.

#

Peran Strategis dalam Perang Kemerdekaan

Nilai historis terbesar dari Gedung Juang Tambun terletak pada perannya selama masa Revolusi Fisik (1945-1949). Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, gedung ini diambil alih dari keluarga Khouw dan dijadikan pusat pertahanan militer Jepang. Namun, pasca Proklamasi Kemerdekaan, gedung ini menjadi rebutan yang sengit.

Bekasi, yang dijuluki sebagai "Bumi Patriot", merupakan wilayah perbatasan (garis demarkasi) antara kekuasaan Sekutu/NICA di Jakarta dan wilayah Republik Indonesia di Jawa Barat. Gedung Juang Tambun berfungsi sebagai markas komando perjuangan rakyat Bekasi. Tokoh-tokoh pejuang lokal seperti KH Noer Ali, yang dikenal sebagai "Singa Karawang-Bekasi", sering menjadikan tempat ini sebagai titik koordinasi serangan gerilya terhadap tentara Belanda.

Pada tahun 1947, saat terjadi Agresi Militer Belanda I, gedung ini sempat dikuasai kembali oleh Belanda dan dijadikan kantor pemerintahan sipil mereka. Namun, semangat rakyat tidak padam. Gedung ini menjadi saksi bisu upaya diplomasi dan pertukaran tawanan perang. Salah satu fakta uniknya adalah gedung ini pernah digunakan sebagai tempat perundingan pertukaran tawanan antara pejuang kemerdekaan Indonesia dengan tentara Belanda, di mana tawanan Belanda yang ditahan pejuang ditukar dengan pejuang Indonesia yang ditawan di Jakarta.

#

Fungsi dari Masa ke Masa

Setelah kedaulatan Indonesia diakui sepenuhnya pada tahun 1949, fungsi Gedung Juang Tambun terus berganti mengikuti dinamika zaman. Gedung ini pernah digunakan sebagai Kantor DPRD Kabupaten Bekasi, Kantor Dinas Pertanian, hingga menjadi kantor Sekretariat Pemilu. Sempat pula gedung ini menjadi markas bagi Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Bekasi.

Selama beberapa dekade di akhir abad ke-20, kondisi gedung sempat memprihatinkan. Kurangnya perawatan dan alih fungsi yang tidak terintegrasi membuat kemegahan Landhuis Tamboen meredup dan terkesan angker. Banyak bagian bangunan yang rusak dimakan usia dan vandalisme, sebelum akhirnya kesadaran akan pentingnya pelestarian sejarah muncul kembali.

#

Restorasi dan Transformasi Museum Digital

Pemerintah Kabupaten Bekasi melakukan langkah revolusioner dengan melakukan restorasi besar-besaran pada tahun 2020. Gedung Juang Tambun tidak hanya diperbaiki fisiknya, tetapi direvitalisasi menjadi Museum Digital Bekasi (Museum Gedung Juang). Restorasi ini mempertahankan struktur asli bangunan namun menyisipkan teknologi modern di dalamnya.

Saat ini, pengunjung dapat menikmati sejarah Bekasi melalui layar sentuh, teknologi Virtual Reality (VR), dan proyeksi peta digital. Museum ini membagi kontennya ke dalam beberapa periode: era prasejarah dengan temuan Buni, era Kerajaan Tarumanegara, era kolonial, hingga Bekasi di masa modern. Upaya ini berhasil menarik minat generasi muda untuk mempelajari sejarah tanpa merasa bosan, menjadikan Gedung Juang sebagai pusat wisata edukasi unggulan di Jawa Barat.

#

Makna Budaya dan Simbolisme

Bagi masyarakat Bekasi, Gedung Juang Tambun adalah simbol harga diri. Ia melambangkan keteguhan rakyat dalam menghadapi penindasan. Keberadaan gedung ini di tengah hiruk-pikuk modernitas Tambun menjadi pengingat bahwa kemajuan ekonomi Bekasi saat ini berdiri di atas fondasi perjuangan para pahlawan masa lalu.

Secara kultural, gedung ini juga menjadi saksi heterogenitas Bekasi. Dibangun oleh pengusaha Tionghoa, dikuasai Jepang, diperebutkan Belanda, dan akhirnya dimenangkan oleh rakyat pribumi Bekasi, gedung ini mencerminkan lapisan-lapisan identitas yang membentuk masyarakat Bekasi saat ini. Dengan statusnya sebagai Cagar Budaya, Gedung Juang Tambun kini terlindungi oleh undang-undang, memastikan bahwa narasi "Bumi Patriot" akan terus bergema bagi generasi mendatang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Sultan Hasanudin No.39, Setiadarma, Kec. Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi
entrance fee
Gratis
opening hours
Selasa - Minggu, 09:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Bekasi

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bekasi

Pelajari lebih lanjut tentang Bekasi dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bekasi