Situs Sejarah

Pendopo Bupati Bireuen (Rumah Radio Perjuangan)

di Bireuen, Aceh

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Pendopo Bupati Bireuen: Jejak Megah Rumah Radio Perjuangan dan Ibu Kota RI yang Terlupakan

Pendopo Bupati Bireuen bukan sekadar kompleks kediaman resmi kepala daerah; ia adalah monumen hidup yang menyimpan memori kolektif bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Terletak strategis di pusat Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, bangunan ini menyandang gelar prestisius sebagai "Rumah Radio Perjuangan". Situs ini menjadi saksi bisu saat Bireuen menjadi benteng terakhir informasi Republik di tengah agresi militer penjajah, sekaligus menjadi kediaman sementara bagi Presiden Soekarno dalam salah satu periode paling kritis dalam sejarah Indonesia.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Secara historis, Pendopo Bupati Bireuen dibangun pada masa kolonial Belanda, sekitar tahun 1934. Pada awalnya, bangunan ini berfungsi sebagai Landhuis atau rumah kediaman resmi bagi Controleur (pejabat pengawas pemerintah kolonial) Belanda yang bertugas di wilayah Afdeeling Noord Kust van Aceh (Pantai Utara Aceh). Pilihan lokasi di Bireuen tidaklah sembarangan; kota ini pada masanya merupakan simpul transportasi krusial yang menghubungkan wilayah timur, barat, dan tengah Aceh.

Setelah Belanda hengkang dan Jepang masuk, bangunan ini beralih fungsi menjadi markas militer Jepang. Namun, puncak signifikansi historisnya terjadi pada masa revolusi fisik (1945-1949). Pasca proklamasi, bangunan ini diambil alih oleh pejuang kemerdekaan dan dijadikan markas Divisi X Komandemen Sumatera yang dipimpin oleh Kolonel Hussein Jusuf.

#

Arsitektur: Perpaduan Tropis dan Indis

Arsitektur Pendopo Bupati Bireuen mencerminkan gaya Indische Empire, sebuah gaya bangunan yang berkembang di Hindia Belanda dengan mengadaptasi iklim tropis. Ciri khas yang paling menonjol adalah langit-langit yang tinggi, jendela-jendela besar yang berfungsi sebagai ventilasi silang, serta teras luas yang mengelilingi bangunan utama.

Struktur bangunan didominasi oleh perpaduan kayu berkualitas tinggi dan beton tebal. Salah satu detail unik adalah penggunaan material kayu jati dan merbau pada bagian tertentu yang masih kokoh hingga hari ini. Atapnya yang berbentuk limasan memberikan kesan megah namun tetap teduh. Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi, struktur inti dan tata ruang interior tetap dipertahankan untuk menjaga keaslian nilai sejarahnya. Di bagian depan, terdapat halaman luas yang sering digunakan sebagai tempat upacara dan pertemuan penting kenegaraan pada masa lalu.

#

Rumah Radio Perjuangan dan Peran Strategis

Julukan "Rumah Radio Perjuangan" bukanlah gelar sembarangan. Pada tahun 1948, ketika Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda melalui Agresi Militer II dan para pemimpin nasional ditawan, eksistensi Republik Indonesia berada di ujung tanduk. Di tengah kegelapan informasi tersebut, dari Pendopo Bireuen inilah suara perlawanan dikumandangkan.

Sebuah pemancar radio yang dikenal dengan nama Radio Rimba Raya (yang kemudian berpindah-pindah lokasi ke hutan di Aceh Tengah/Bener Meriah) awalnya dikoordinasikan teknisnya dari wilayah Bireuen. Dari sini, pesan-pesan perjuangan dikirimkan untuk membantah propaganda Belanda yang menyatakan bahwa RI telah runtuh. Melalui siaran radio ini, dunia internasional mengetahui bahwa Indonesia masih ada, tentara Indonesia masih melawan, dan pemerintah masih menjalankan fungsinya dari Aceh.

#

Bireuen sebagai Ibu Kota RI Ketiga

Fakta unik yang sering terlupakan oleh buku sejarah nasional adalah peran Bireuen sebagai ibu kota sementara Republik Indonesia. Selama satu minggu, tepatnya pada pertengahan Juni 1948, Presiden Soekarno memindahkan pusat pemerintahan ke Bireuen. Selama masa tersebut, Pendopo ini berfungsi sebagai istana presiden.

Kehadiran Soekarno di Bireuen bukan sekadar pelarian, melainkan strategi untuk menggalang dukungan dari rakyat Aceh yang dikenal sangat loyal dan memiliki kekayaan materi untuk membiayai negara yang baru lahir. Di pendopo inilah, Bung Karno menerima komitmen dari para saudagar dan tokoh Aceh untuk membantu pembelian pesawat terbang pertama Indonesia, Dakota RI-001 Seulawah. Oleh karena itu, masyarakat setempat dengan bangga menyebut Bireuen sebagai "Ibu Kota RI Ketiga" setelah Jakarta dan Yogyakarta.

#

Tokoh Penting dan Peristiwa Bersejarah

Selain Presiden Soekarno, tokoh sentral yang melekat pada sejarah pendopo ini adalah Kolonel Hussein Jusuf, Panglima Divisi X. Beliau adalah sosok yang memastikan keamanan presiden selama di Aceh dan mengelola logistik perjuangan di wilayah utara. Selain itu, tokoh ulama kharismatik seperti Tgk. Muhammad Daud Beureueh juga kerap melakukan pertemuan strategis di bangunan ini untuk membahas sinkronisasi antara perjuangan fisik dan dukungan spiritual masyarakat Aceh terhadap kedaulatan Indonesia.

#

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Saat ini, Pendopo Bupati Bireuen telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Status ini memberikan perlindungan hukum agar bentuk asli bangunan tidak diubah secara sewenang-wenang. Upaya restorasi yang dilakukan sejauh ini difokuskan pada penguatan struktur kayu yang mulai dimakan usia dan pengecatan ulang sesuai dengan warna aslinya.

Di dalam pendopo, terdapat sebuah ruangan khusus yang disebut "Kamar Bung Karno". Ruangan ini dirawat dengan sangat baik, lengkap dengan tempat tidur dan meja kerja yang pernah digunakan oleh Sang Proklamator. Pemerintah Kabupaten Bireuen juga menjadikan situs ini sebagai destinasi wisata sejarah (Heritage Tourism) untuk mengedukasi generasi muda mengenai peran vital Aceh dalam mempertahankan NKRI.

#

Makna Budaya dan Kebangsaan

Bagi masyarakat Bireuen, pendopo ini adalah simbol harga diri dan patriotisme. Ia mengingatkan bahwa dalam masa paling sulit sekalipun, masyarakat Aceh berdiri teguh di belakang Republik. Keberadaan situs ini memperkuat identitas Bireuen sebagai "Kota Juang". Secara religi, pendopo ini juga sering menjadi pusat kegiatan sosial keagamaan, mencerminkan nilai-nilai masyarakat Aceh yang menyatukan semangat nasionalisme dengan landasan spiritual Islam yang kuat.

Secara keseluruhan, Pendopo Bupati Bireuen (Rumah Radio Perjuangan) adalah aset tak ternilai. Ia bukan hanya sekadar bangunan tua bergaya kolonial, melainkan "kotak hitam" sejarah Indonesia yang menyimpan rekaman suara-suara keberanian dari ujung barat Nusantara demi tegaknya kedaulatan bangsa. Menjaga kelestarian pendopo ini berarti merawat ingatan bangsa agar tidak lupa pada akar perjuangannya sendiri.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Teuku Hamzah Bendahara, Kota Juang, Bireuen
entrance fee
Gratis
opening hours
Dengan izin khusus (area pemerintahan)

Tempat Menarik Lainnya di Bireuen

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bireuen

Pelajari lebih lanjut tentang Bireuen dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bireuen