Situs Sejarah

Situs Penjara Tua Tanah Merah

di Boven Digoel, Papua Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Perlawanan di Ujung Timur: Sejarah dan Signifikansi Situs Penjara Tua Tanah Merah

Situs Penjara Tua Tanah Merah yang terletak di Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, bukan sekadar reruntuhan bangunan kolonial. Tempat ini merupakan monumen bisu dari salah satu babak paling kelam sekaligus heroik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dikenal sebagai "Bastille-nya Indonesia," penjara ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai lokasi pembuangan bagi para aktivis politik yang dianggap paling berbahaya dan sulit dikendalikan.

#

Asal-Usul dan Latar Belakang Pendirian

Pendirian kamp tawanan di Tanah Merah bermula dari pecahnya pemberontakan besar yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap pemerintah kolonial pada November 1926 di Jawa dan awal 1927 di Sumatera Barat. Gubernur Jenderal de Graeff saat itu merasa perlu menciptakan sebuah tempat pengasingan yang terisolasi secara geografis dan psikologis untuk memutus rantai komunikasi para tokoh pergerakan dengan basis massa mereka.

Lokasi di tepian Sungai Digul dipilih karena karakteristik alamnya yang ekstrem. Dikelilingi oleh hutan hujan tropis yang sangat lebat dan rawa-rawa yang menjadi sarang nyamuk malaria anopheles, Tanah Merah secara alami adalah penjara tanpa jeruji besi. Arus Sungai Digul yang deras dan keberadaan suku-suku pedalaman yang saat itu masih dianggap asing oleh orang luar membuat peluang untuk melarikan diri hampir mustahil. Pada tahun 1927, gelombang pertama tawanan tiba, menandai dimulainya fungsi Tanah Merah sebagai pusat internir politik.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi Penjara

Secara arsitektural, Situs Penjara Tua Tanah Merah mencerminkan gaya bangunan fungsional kolonial awal abad ke-20 yang mengutamakan keamanan dan daya tahan. Bangunan penjara utama dibangun menggunakan material beton tebal dengan sistem ventilasi yang sangat terbatas untuk mencegah pelarian namun tetap memungkinkan sirkulasi udara di tengah cuaca lembap Papua.

Struktur bangunan terdiri dari beberapa barak besar dan sel-sel isolasi yang dikenal sebagai "sel gelap." Pintu-pintu sel terbuat dari besi tempa tebal dengan mekanisme penguncian ganda. Salah satu ciri khas konstruksinya adalah penggunaan fondasi yang ditinggikan untuk menghindari banjir dari luapan Sungai Digul serta serangan rayap. Di sekitar area penjara, terdapat sisa-sisa menara pengawas dan pagar kawat berduri yang dulunya mengelilingi kompleks tersebut. Meski sebagian besar struktur kayu telah lapuk dimakan usia, fondasi beton dan beberapa dinding utama masih berdiri kokoh, menunjukkan kualitas material yang digunakan pada masa itu.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Tanah Merah bukan sekadar tempat hukuman fisik, melainkan tempat penghancuran mental. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik. Di tempat yang terisolasi ini, para tokoh pergerakan dari berbagai latar belakang ideologi—mulai dari komunis, sosialis, hingga nasionalis religius—bertemu dan bertukar pikiran. Pengasingan ini justru menjadi "universitas politik" bagi para tahanan.

Salah satu peristiwa unik yang tercatat dalam sejarah adalah bagaimana para tahanan mengelola kehidupan sosial mereka. Mereka mendirikan sekolah, grup sandiwara, hingga orkes musik untuk menjaga semangat hidup. Kehidupan di penjara ini juga diwarnai oleh perjuangan melawan wabah malaria yang merenggut banyak nyawa tawanan. Makam-makam tanpa nama di sekitar situs menjadi saksi bisu betapa beratnya perjuangan bertahan hidup di Boven Digoel.

#

Tokoh-Tokoh Besar di Boven Digoel

Nama Tanah Merah tidak dapat dipisahkan dari tokoh-tokoh besar bangsa. Mohammad Hatta (Bapak Proklamator sekaligus Wakil Presiden pertama RI) dan Sutan Sjahrir (Perdana Menteri pertama RI) adalah dua tokoh paling terkemuka yang pernah diasingkan ke sini pada tahun 1935. Berbeda dengan tahanan lain, Hatta membawa peti-peti berisi buku ke pengasingan, menunjukkan bahwa intelektualitas tidak bisa dipenjara.

Selain mereka, tokoh-tokoh seperti Sayuti Melik (pengetik naskah proklamasi), Marco Kartodikromo (jurnalis radikal), dan Thomas Nani (tokoh pergerakan asal Minahasa) juga pernah merasakan dinginnya sel Tanah Merah. Keberadaan para intelektual ini menjadikan Boven Digoel sebagai simbol perlawanan kaum terpelajar terhadap kolonialisme.

#

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Saat ini, Situs Penjara Tua Tanah Merah telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Mengingat lokasinya yang jauh dari ibu kota provinsi, tantangan utama dalam pelestarian adalah aksesibilitas dan pemeliharaan rutin. Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah Papua secara berkala melakukan pendataan dan pembersihan situs.

Beberapa bagian bangunan telah mengalami restorasi terbatas, terutama pada bagian atap dan penguatan dinding untuk mencegah keruntuhan lebih lanjut. Pemerintah Kabupaten Boven Digoel juga mulai mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah (dark tourism). Pembangunan museum kecil di sekitar situs bertujuan untuk memamerkan artefak berupa peralatan makan tawanan, belenggu kaki, dan replika dokumen pengasingan agar generasi muda dapat memahami nilai sejarah tempat ini.

#

Nilai Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat lokal di Boven Digoel, keberadaan penjara tua ini memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia adalah pengingat akan masa kolonial yang kelam, namun di sisi lain, ia adalah simbol kebanggaan bahwa tanah mereka menjadi bagian penting dalam narasi besar pembentukan bangsa Indonesia. Hubungan antara para tahanan politik dengan penduduk asli setempat pada masa itu juga menciptakan akulturasi budaya tertentu, terutama dalam hal penggunaan bahasa dan teknik pertanian.

Secara edukatif, Situs Penjara Tua Tanah Merah mengajarkan tentang keteguhan prinsip. Meskipun para tokoh bangsa dibuang ke ujung timur Nusantara yang saat itu masih berupa hutan belantara, semangat mereka untuk memerdekakan Indonesia tidak pernah padam. Situs ini adalah bukti nyata bahwa kemerdekaan tidak diraih dengan mudah, melainkan melalui penderitaan di tempat-tempat terpencil seperti Boven Digoel.

#

Penutup Sejarah

Hingga hari ini, setiap sudut beton di Situs Penjara Tua Tanah Merah masih menyimpan aura masa lalu. Suara desau angin di antara pohon-pohon besar di tepi Sungai Digul seolah membisikkan doa bagi para pejuang yang pernah berdiam di sana. Sebagai daerah yang kini menjadi bagian dari Provinsi Papua Selatan, Boven Digoel dan penjara tuanya tetap berdiri sebagai mercusuar sejarah yang mengingatkan seluruh rakyat Indonesia bahwa persatuan nasional seringkali ditempa di tempat-tempat yang paling tidak terduga dan penuh penderitaan. Memelihara situs ini berarti memelihara ingatan kolektif bangsa akan harga sebuah kemerdekaan.

📋 Informasi Kunjungan

address
Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan
entrance fee
Gratis (Donasi sukarela)
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Boven Digoel

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Boven Digoel

Pelajari lebih lanjut tentang Boven Digoel dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Boven Digoel