Situs Sejarah

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

di Bukittinggi, Sumatera Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Sang Proklamator: Sejarah dan Filosofi Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta bukan sekadar bangunan kayu biasa yang berdiri di jantung Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Terletak di Jalan Soekarno-Hatta No. 37, bangunan ini merupakan replika dari rumah asli tempat lahirnya Mohammad Hatta, salah satu pendiri bangsa Indonesia dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Melalui dinding-dinding bambu dan lantai kayunya, museum ini menyimpan narasi mendalam tentang masa kecil seorang intelektual besar yang membentuk fondasi ekonomi dan politik Indonesia.

#

Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan

Rumah asli tempat Bung Hatta dilahirkan pada 12 Agustus 1902 sebenarnya telah runtuh pada tahun 1960-an. Konstruksi aslinya diperkirakan dibangun sekitar tahun 1860-an oleh kakek dari pihak ibu Hatta, Ilyas Bagindo Marah, yang merupakan seorang pengusaha sukses di Bukittinggi pada masanya. Hatta menghabiskan masa kecilnya di rumah ini hingga tahun 1913, sebelum melanjutkan pendidikan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang.

Setelah puluhan tahun lahan tersebut kosong, muncul inisiatif dari Pemerintah Kota Bukittinggi dan keluarga besar Bung Hatta untuk menghidupkan kembali memori sejarah tersebut. Pembangunan replika dimulai pada November 1994 dan diresmikan pada 12 Agustus 1995 oleh Bapak Azwar Anas, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Upaya rekonstruksi ini dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan tingkat akurasi yang tinggi terhadap bentuk aslinya.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi Tradisional

Secara arsitektural, Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta menampilkan gaya hunian khas Minangkabau pada akhir abad ke-19 namun dengan pengaruh fungsional yang kuat. Bangunan ini terdiri dari struktur utama yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi dan bambu anyaman (sasak) untuk dindingnya, serta atap seng yang menyerupai pola aslinya.

Struktur bangunan dibagi menjadi beberapa bagian utama:

1. Bangunan Utama: Terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan sebagai ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar tidur kakek Hatta. Di lantai ini pula terdapat kamar tempat Hatta dilahirkan.

2. Lantai Atas: Area ini difungsikan sebagai kamar tidur bagi anak-anak lelaki dalam keluarga tersebut, termasuk Hatta muda. Penggunaan lantai atas untuk anak laki-laki mencerminkan tradisi Minangkabau di mana anak laki-laki yang sudah beranjak remaja biasanya tidur di surau atau ruang luar, namun dalam keluarga Hatta yang lebih modern-tradisional, disediakan ruang khusus di lantai atas.

3. Paviliun: Terletak di bagian belakang, digunakan sebagai dapur dan area servis.

Keunikan konstruksinya terletak pada penggunaan pasak kayu tanpa paku besi yang dominan, mencerminkan teknik pertukangan tradisional Sumatra Barat yang tahan terhadap guncangan gempa. Tata letak interior juga mempertahankan keaslian dengan menempatkan perabot kuno yang sebagian besar merupakan hibah dari keluarga atau barang-barang antik yang identik dengan periode 1900-an.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Setiap sudut rumah ini memiliki cerita tentang pembentukan karakter Hatta. Di rumah inilah Hatta pertama kali terpapar pada nilai-nilai kedisiplinan, keagamaan, dan semangat kewirausahaan. Salah satu fakta unik sejarah adalah keberadaan bendi (kereta kuda) di area belakang museum. Bendi ini bukan sekadar pajangan; bendi tersebut merupakan replika dari kendaraan yang digunakan kakek Hatta untuk menjemput dan mengantar Hatta kecil, yang melambangkan status sosial keluarga serta pentingnya mobilitas pendidikan bagi Hatta sejak dini.

Rumah ini juga menjadi saksi bisu bagaimana tradisi Minangkabau yang egaliter dan mengutamakan musyawarah meresap ke dalam pemikiran Hatta. Di ruang tengah, sering diadakan diskusi keluarga yang melibatkan tokoh-tokoh lokal, yang secara tidak langsung membentuk pola pikir kritis Hatta sebelum ia bertolak ke Belanda untuk belajar ekonomi.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Tokoh sentral tentu saja Mohammad Hatta. Namun, museum ini juga menyoroti peran ibundanya, Siti Saleha, dan kakeknya, Ilyas Bagindo Marah. Periode yang paling ditekankan adalah masa kolonial Hindia Belanda awal abad ke-20 (1902-1913), sebuah masa transisi di mana politik etis mulai diberlakukan, memungkinkan sosok seperti Hatta mendapatkan akses pendidikan formal yang layak.

Keberadaan museum ini juga berkaitan erat dengan sejarah perjuangan kemerdekaan. Meskipun Hatta mencapai puncak perjuangannya di Batavia (Jakarta) dan pengasingan di Digul serta Banda Neira, akar intelektualitasnya tertanam kuat di tanah Bukittinggi ini.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai Situs Sejarah yang dilindungi, Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta berada di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bukittinggi. Karena bangunan ini adalah replika, tantangan terbesarnya adalah menjaga material organik seperti kayu dan bambu agar tidak lapuk dimakan usia dan iklim tropis yang lembap.

Restorasi berkala dilakukan pada bagian atap dan pengecatan ulang dinding sasak. Pemerintah setempat juga berupaya mengumpulkan artefak asli yang masih tersisa di tangan kolektor atau keluarga jauh untuk dikembalikan ke rumah ini. Saat ini, pengunjung dapat melihat tempat tidur asli, meja belajar, serta koleksi buku-buku lama yang memberikan gambaran nyata tentang keseharian sang Bapak Koperasi Indonesia.

#

Kepentingan Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat Sumatra Barat, museum ini adalah simbol kebanggaan intelektual. Ia bukan hanya destinasi wisata, melainkan pusat edukasi bagi generasi muda tentang nilai-nilai kesederhanaan. Hatta dikenal sebagai sosok yang sangat jujur dan hemat; nilai-nilai ini dituangkan dalam narasi pemandu museum kepada setiap siswa yang berkunjung.

Secara religius, keberadaan ruang shalat dan penekanan pada pendidikan agama dalam tata ruang rumah menunjukkan bahwa Hatta tumbuh dalam lingkungan Islam yang taat, yang kemudian berpadu dengan pemikiran sosialisme demokratis yang ia pelajari di Eropa.

#

Fakta Unik dan Penutup

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa denah rumah ini dibangun kembali berdasarkan ingatan Bung Hatta sendiri yang tertuang dalam memoarnya, serta bantuan ingatan dari kerabat dekat yang masih hidup saat proyek rekonstruksi dimulai. Akurasi letak jendela, tangga, hingga arah hadap bangunan dihitung secara mendetail untuk menciptakan atmosfer yang sama persis dengan kondisi tahun 1902.

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta kini berdiri tegak sebagai monumen hidup bagi kejujuran dan kecerdasan. Ia mengingatkan setiap pengunjung bahwa seorang pemimpin besar tidak lahir dari kemewahan instan, melainkan dari rumah sederhana yang penuh dengan nilai-nilai luhur, pendidikan yang disiplin, dan cinta tanah air yang mendalam. Museum ini tetap menjadi salah satu destinasi sejarah paling krusial di Bukittinggi, menjembatani masa lalu kolonial dengan masa depan Indonesia yang berdaulat.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Soekarno Hatta No.37, Campago Ipuh, Kec. Mandiangin Koto Selayan, Kota Bukittinggi
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Bukittinggi

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bukittinggi

Pelajari lebih lanjut tentang Bukittinggi dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bukittinggi