Benteng Keraton Kulisusu
di Buton Utara, Sulawesi Tenggara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Periodisasi Sejarah
Akar sejarah Benteng Keraton Kulisusu tidak dapat dipisahkan dari keberadaan eksistensi masyarakat lokal sebelum masa kolonial. Wilayah Kulisusu, yang secara etimologi sering dikaitkan dengan kata "Kuli" (Kulit) dan "Susu" (Susu), merujuk pada legenda lokal, namun secara administratif historis, kawasan ini merupakan bagian penting dari wilayah kekuasaan Kesultanan Buton yang dikenal sebagai Barata.
Pembangunan benteng diperkirakan mencapai puncaknya pada abad ke-16 hingga ke-17, masa di mana ancaman dari luar—baik dari perompak (bajau), ekspansi kerajaan tetangga, hingga kedatangan bangsa Eropa—mulai meningkat. Kulisusu difungsikan sebagai benteng pertahanan terluar di sisi utara Kesultanan Buton. Posisi strategisnya menghadap Laut Banda menjadikannya titik pengamatan krusial untuk memantau pergerakan kapal yang melintasi jalur perdagangan rempah.
Arsitektur dan Teknik Konstruksi Tradisional
Salah satu keunikan utama Benteng Keraton Kulisusu terletak pada teknik konstruksinya yang menggunakan material lokal secara masif. Berbeda dengan benteng-benteng kolonial yang menggunakan bata merah atau beton, Benteng Kulisusu dibangun menggunakan susunan batu gunung dan batu karang.
Struktur dinding benteng memiliki ketebalan yang bervariasi, namun rata-rata mencapai 1 hingga 2 meter dengan ketinggian yang menyesuaikan topografi lahan. Hal yang paling menakjubkan adalah penggunaan putih telur dan kapur sebagai perekat antar batu, sebuah teknik arsitektur tradisional Nusantara yang terbukti sangat kokoh menghadapi cuaca ekstrem dan gempa bumi selama berabad-abad.
Di dalam kompleks benteng, terdapat tata ruang yang mencerminkan hierarki sosial dan fungsi relijius. Area keraton (istana) berada di titik tertinggi atau paling terlindungi, dikelilingi oleh tembok lapis kedua. Terdapat pula beberapa pintu gerbang yang dalam bahasa lokal disebut Lawa, yang masing-masing memiliki nama dan fungsi khusus, baik untuk akses militer maupun akses upacara adat.
Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting
Benteng Keraton Kulisusu memainkan peran vital selama masa peperangan melawan kolonialisme Belanda. Dalam catatan sejarah, Kulisusu menjadi basis pertahanan yang sulit ditembus karena sistem pengawasannya yang efektif. Para prajurit Kulisusu dikenal memiliki keahlian dalam pertempuran laut dan gerilya di pesisir.
Peristiwa penting yang dicatat adalah keterlibatan para bangsawan Kulisusu dalam menyokong stabilitas Kesultanan Buton saat terjadi konflik internal maupun tekanan dari VOC. Benteng ini menjadi tempat perlindungan bagi penduduk saat terjadi serangan bajak laut yang sering menghantui perairan Sulawesi Tenggara pada masa lampau. Selain itu, benteng ini menjadi pusat konsolidasi kekuatan antara para pemimpin adat (Bonto) dan utusan dari pusat Kesultanan di Bau-Bau.
Tokoh Penting dan Struktur Pemerintahan
Secara historis, pengelolaan benteng dan wilayah Kulisusu berada di bawah kendali seorang pemimpin yang bergelar Lakina Kulisusu. Jabatan ini bukan sekadar posisi administratif, melainkan pemimpin spiritual dan militer yang bertanggung jawab langsung kepada Sultan Buton.
Tokoh-tokoh yang mendiami keraton ini adalah para bangsawan yang memiliki kaitan darah dengan garis keturunan raja-raja Buton. Mereka menjalankan sistem pemerintahan yang disebut Sarano Kulisusu, sebuah lembaga adat yang mengatur hukum, pembagian lahan, hingga urusan keagamaan. Keberadaan para pemangku adat ini memastikan bahwa fungsi benteng sebagai pusat peradaban tetap terjaga meski pusat kekuasaan berada jauh di selatan.
Kedudukan Budaya dan Religi
Benteng Keraton Kulisusu tidak hanya berfungsi secara militer, tetapi juga sebagai pusat penyebaran agama Islam di Buton Utara. Di dalam atau di sekitar lingkungan benteng, biasanya terdapat masjid tua yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan pendidikan agama. Islam meresap dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Kulisusu, yang tercermin dalam upacara-upacara adat yang diselenggarakan di dalam kompleks benteng.
Ritual seperti Bacano Kamba (doa bersama untuk keselamatan negeri) dan perayaan hari besar Islam sering kali dipusatkan di area keraton. Hal ini menciptakan ikatan emosional yang kuat antara masyarakat dengan situs sejarah tersebut. Bagi penduduk lokal, benteng ini adalah "rumah besar" yang sakral dan harus dihormati secara spiritual.
Status Preservasi dan Upaya Restorasi
Saat ini, kondisi Benteng Keraton Kulisusu mengalami berbagai tantangan. Sebagian struktur dinding telah ditumbuhi vegetasi liar yang akarnya berpotensi merusak susunan batu. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Buton Utara bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah setempat telah mulai memberikan perhatian lebih.
Upaya restorasi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian agar tidak merubah bentuk asli dan nilai historisnya. Sosialisasi kepada masyarakat sekitar mengenai pentingnya menjaga situs ini sebagai aset wisata sejarah dan identitas budaya terus digalakkan. Meskipun beberapa bagian benteng telah runtuh akibat usia, sisa-sisa kemegahannya masih sangat jelas terlihat dan terus menarik minat peneliti sejarah serta wisatawan domestik.
Fakta Unik: Sistem Pertahanan "Lapis Karang"
Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa sistem pertahanan Kulisusu tidak hanya mengandalkan dinding benteng. Masyarakat Kulisusu zaman dahulu memanfaatkan kondisi geografis pantai yang berkarang tajam sebagai pertahanan alami lapis pertama. Kapal-kapal musuh yang tidak mengenal medan akan mudah karam sebelum mencapai daratan, sementara dari atas benteng, para pemanah dan penembak meriam dapat dengan mudah membidik sasaran. Kombinasi antara arsitektur buatan manusia dan bentang alam ini menjadikan Kulisusu salah satu benteng paling efisien di wilayah Sulawesi Tenggara pada masanya.
Sebagai warisan agung dari masa lalu, Benteng Keraton Kulisusu adalah bukti nyata bahwa Buton Utara memiliki akar peradaban yang kuat. Pelestarian situs ini bukan hanya soal menjaga tumpukan batu, melainkan merawat memori kolektif sebuah bangsa tentang kedaulatan, keberanian, dan kejayaan maritim di masa lalu.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Buton Utara
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Buton Utara
Pelajari lebih lanjut tentang Buton Utara dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Buton Utara