Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo
di Dairi, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo: Simbol Harmoni dan Pusat Edukasi Budaya Dairi
Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo bukan sekadar destinasi wisata religi biasa. Terletak di perbukitan hijau Desa Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, kawasan seluas kurang lebih 13 hektar ini merupakan manifestasi nyata dari filosofi hidup masyarakat Dairi yang menjunjung tinggi toleransi, keberagaman, dan pelestarian nilai luhur. Sebagai pusat kebudayaan, TWI Sitinjo menjadi ruang pertemuan antara spiritualitas berbagai agama dengan kekayaan tradisi lokal suku Pakpak yang menjadi akar budaya di wilayah ini.
#
Filosofi Pendirian dan Struktur Kawasan
Didirikan pada masa pemerintahan Bupati Master Parulian Tumanggor, TWI Sitinjo dirancang untuk merepresentasikan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Di dalam satu kawasan terpadu, pengunjung dapat menemukan fasilitas ibadah dari lima agama resmi: Masjid, Gereja (Protestan dan Katolik), Vihara, Pura, serta miniatur perjalanan spiritual masing-masing keyakinan. Secara kultural, penataan bangunan-bangunan ini mengikuti kontur perbukitan yang alami, mencerminkan kearifan lokal masyarakat Dairi yang sangat menghormati alam (tanah dan air) sebagai pemberian Tuhan.
#
Aktivitas dan Program Kebudayaan
Sebagai pusat kebudayaan, TWI Sitinjo menyelenggarakan berbagai program harian dan periodik yang bertujuan memperkuat kohesi sosial. Salah satu aktivitas utama adalah "Dialog Lintas Iman" yang sering diadakan di aula pertemuan terbuka. Program ini melibatkan tokoh adat, pemuka agama, dan generasi muda untuk mendiskusikan integrasi nilai-nilai agama dengan adat istiadat setempat.
Selain itu, terdapat program "Wisata Literasi Budaya" bagi para pengunjung. Program ini memberikan penjelasan mendalam mengenai kaitan antara simbol-simbol keagamaan yang ada di TWI dengan tradisi masyarakat Dairi, seperti penggunaan ornamen Gorga (seni ukir khas Batak dan Pakpak) pada beberapa elemen arsitektur di kawasan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa identitas budaya lokal tetap menjadi fondasi utama meskipun terdapat pengaruh dari berbagai sistem kepercayaan.
#
Kesenian Tradisional, Kerajinan, dan Pertunjukan
TWI Sitinjo menjadi panggung bagi pelestarian kesenian khas suku Pakpak. Pada hari-hari tertentu atau saat menyambut tamu kenegaraan, kawasan ini menampilkan pertunjukan musik Genderang Sisibah. Ini adalah musik ansambel tradisional Pakpak yang terdiri dari sembilan buah gendang yang memiliki makna filosofis mendalam terkait struktur sosial masyarakat.
Di sektor kerajinan, TWI Sitinjo berfungsi sebagai etalase bagi produk unggulan Dairi, khususnya Tenun Ulos dan sarung khas Pakpak yang dikenal dengan motif Persentabien. Para pengrajin lokal sering diundang untuk mendemonstrasikan cara menenun secara tradisional di area khusus, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar tentang makna simbolis dari setiap motif yang ditenun, seperti motif yang melambangkan keberanian, kesucian, atau kepemimpinan.
#
Program Edukasi dan Keterlibatan Masyarakat
Pusat kebudayaan ini memiliki peran krusial dalam pendidikan karakter bagi siswa-siswi di Kabupaten Dairi dan sekitarnya. Melalui program "Kemah Toleransi", para pelajar dari berbagai latar belakang keyakinan diajak untuk menginap di kawasan TWI, melakukan aktivitas bersama, dan mempelajari sejarah perkembangan agama-agama di Sumatera Utara tanpa meninggalkan identitas kultural mereka.
Masyarakat lokal Desa Sitinjo terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan. Keterlibatan ini diwujudkan melalui pembentukan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang memberikan pelatihan pemanduan wisata berbasis narasi budaya. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga narasumber yang menceritakan sejarah lisan mengenai tanah Sitinjo dan pentingnya menjaga harmoni di tanah Dairi.
#
Acara Budaya dan Festival Tahunan
Salah satu momen paling spektakuler di TWI Sitinjo adalah perayaan "Pesta Budaya Njuah-Njuah". Meskipun festival ini mencakup seluruh wilayah Dairi, TWI Sitinjo sering menjadi salah satu lokasi utama untuk ritual pembukaan atau penutupan. Festival ini menampilkan parade busana adat, lomba musik tradisional, serta ritual doa bersama lintas agama untuk memohon keberkahan bagi hasil bumi Dairi, terutama kopi dan durian yang menjadi komoditas unggulan.
Selain itu, pada momen hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Natal, Nyepi, atau Waisak, TWI menjadi pusat perayaan yang unik. Misalnya, saat perayaan Paskah, dilakukan prosesi Jalan Salib di miniatur Bukit Golgota yang ada di TWI, yang menarik ribuan peziarah. Uniknya, persiapan acara-acara besar ini sering kali dibantu secara gotong royong oleh warga setempat tanpa memandang perbedaan agama, sebuah praktik budaya yang disebut Mersidohisi dalam tradisi Pakpak.
#
Pelestarian Warisan Budaya dan Alam
TWI Sitinjo berperan aktif dalam konservasi lingkungan sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya non-bendawi. Bagi masyarakat Dairi, alam adalah bagian dari identitas. Oleh karena itu, kawasan TWI tetap dijaga keasriannya dengan hutan-hutan kecil dan aliran sungai yang jernih. Program penanaman pohon langka khas Sumatera Utara secara berkala dilakukan di area ini untuk memastikan ekosistem tetap terjaga.
Dalam hal pelestarian arsitektur, TWI Sitinjo mengintegrasikan bentuk-bentuk rumah adat Pakpak (Sapo) ke dalam fasilitas-fasilitas pendukung seperti tempat istirahat dan pusat informasi. Ini memastikan bahwa estetika arsitektur lokal tetap dikenal dan dihargai oleh generasi mendatang dan wisatawan mancanegara.
#
Peran TWI dalam Pengembangan Budaya Lokal
Kehadiran TWI Sitinjo telah mengubah paradigma pembangunan di Dairi, dari sekadar pembangunan fisik menjadi pembangunan manusia berbasis nilai. TWI bertindak sebagai "Laboratorium Sosial" di mana keberagaman dikelola menjadi kekuatan ekonomi dan daya tarik wisata. Pusat kebudayaan ini telah mendorong munculnya ekonomi kreatif di sekitar Sitinjo, mulai dari kuliner tradisional hingga industri suvenir berbasis budaya.
Secara lebih luas, TWI Sitinjo memposisikan Kabupaten Dairi sebagai pusat studi kerukunan di Sumatera Utara. Banyak peneliti budaya dan sosiolog berkunjung ke sini untuk mempelajari bagaimana nilai-nilai lokal mampu menjadi perekat bagi perbedaan yang sangat kontras. TWI telah membuktikan bahwa kemajuan zaman dan pengaruh luar tidak harus menggerus akar budaya, melainkan bisa memperkayanya jika dikelola dengan visi yang kuat.
#
Penutup: Warisan untuk Masa Depan
Taman Wisata Iman Sitinjo adalah bukti bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang dinamis. Ia bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan praktik hidup sehari-hari yang penuh dengan toleransi dan rasa syukur. Dengan terus mengedepankan program-program edukasi, pertunjukan seni tradisional, dan pelestarian lingkungan, TWI Sitinjo akan terus berdiri sebagai mercusuar kebudayaan di Sumatera Utara. Kawasan ini mengajak setiap pengunjung untuk tidak hanya melihat keindahan fisik bangunan, tetapi juga meresapi spirit "Njuah-Njuah"—sebuah sapaan khas Dairi yang mengandung doa agar semua orang berada dalam keadaan sehat, sejahtera, dan penuh kedamaian. Melalui TWI Sitinjo, Dairi menunjukkan kepada dunia bahwa di atas tanah yang subur ini, iman dan budaya tumbuh berdampingan, menciptakan harmoni yang abadi.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Dairi
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Dairi
Pelajari lebih lanjut tentang Dairi dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Dairi