Situs Sejarah

Museum Daerah Deli Serdang

di Deli Serdang, Sumatera Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban di Balik Kemegahan Museum Daerah Deli Serdang

Museum Daerah Deli Serdang bukan sekadar sebuah bangunan penyimpan artefak, melainkan sebuah narasi visual yang merangkum kejayaan, kolonialisme, dan kekayaan budaya di wilayah Sumatera Utara. Terletak secara strategis di kawasan Lubuk Pakam, tepat di seberang Masjid Agung Sultan Thaf Sinar Basarsyah, museum ini berdiri sebagai ikon identitas masyarakat Deli Serdang yang majemuk.

#

Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian

Pembangunan Museum Daerah Deli Serdang berakar pada keinginan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang untuk mendokumentasikan sejarah panjang wilayah yang dahulu merupakan bagian dari Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang. Gedung museum yang berdiri megah saat ini diresmikan oleh Bupati Deli Serdang, Ashari Tambunan, pada tanggal 8 September 2017.

Meskipun bangunannya relatif baru, esensi dari museum ini adalah untuk menggantikan fungsi wadah sejarah yang sebelumnya tersebar. Pendiriannya merupakan bagian dari upaya integrasi kawasan pusat seni dan budaya di Lubuk Pakam. Lokasinya yang berada di bekas lahan kompleks perkantoran pemerintah daerah memberikan simbolisme bahwa pusat administrasi modern pun tidak boleh melupakan akar sejarahnya.

#

Arsitektur: Perpaduan Modernitas dan Tradisionalisme

Secara arsitektural, Museum Daerah Deli Serdang menyajikan estetika yang unik dan sarat makna. Bangunan ini mengadopsi gaya arsitektur modern yang dipadukan dengan sentuhan lokal Melayu yang kental. Salah satu ciri khas yang paling mencolok adalah bentuk atapnya yang mengadopsi gaya atap rumah tradisional Melayu dengan ornamen "Pucuk Rebung" yang melambangkan pertumbuhan dan harapan.

Konstruksi bangunan terdiri dari beberapa lantai yang dirancang dengan konsep alur cerita (storytelling). Bagian fasad bangunan didominasi oleh warna kuning keemasan dan hijau, yang secara tradisional merupakan warna kebesaran Kesultanan Melayu di Sumatera Timur. Penggunaan kaca-kaca besar pada beberapa sisi memberikan kesan transparan dan terbuka, mencerminkan keterbukaan masyarakat Deli Serdang terhadap kemajuan zaman tanpa meninggalkan jati diri.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Museum ini menjadi saksi bisu atas transformasi Deli Serdang dari masa pra-sejarah hingga era kemerdekaan. Signifikansi sejarah yang paling menonjol adalah dokumentasi mengenai masa keemasan perkebunan tembakau (Deli Tabak). Pada abad ke-19, wilayah ini dikenal dunia sebagai penghasil tembakau terbaik untuk cerutu, yang memicu pertumbuhan ekonomi pesat namun juga menyisakan kisah pahit tentang kuli kontrak di perkebunan.

Koleksi di dalam museum mencakup berbagai peninggalan dari masa Kesultanan Serdang dan Kesultanan Deli. Pengunjung dapat melihat replika singgasana, pakaian adat kebesaran, hingga senjata tradisional seperti keris dan tumbuk lada. Selain itu, museum ini menyimpan artefak arkeologi berupa batuan megalitikum dan peralatan rumah tangga kuno yang ditemukan di sekitar aliran Sungai Ular dan wilayah pesisir Pantai Cermin.

#

Tokoh Penting dan Periode Sejarah

Nama-nama besar seperti Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah dari Deli dan Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah dari Serdang menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi museum ini. Periode kepemimpinan para sultan ini digambarkan sebagai masa di mana diplomasi dengan pihak kolonial Belanda dilakukan demi mempertahankan kedaulatan dan kesejahteraan rakyat, meskipun di bawah tekanan politik yang besar.

Museum ini juga menyoroti peran para pejuang lokal selama masa revolusi fisik di Sumatera Utara. Deli Serdang merupakan medan pertempuran sengit saat Agresi Militer Belanda, dan museum ini mengabadikan semangat perlawanan rakyat melalui diorama dan catatan sejarah mengenai heroisme lokal di Front Area Medan Area yang bersinggungan langsung dengan wilayah Deli Serdang.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai lembaga konservasi, Museum Daerah Deli Serdang menerapkan standar modern dalam perawatan koleksinya. Pemerintah daerah secara rutin melakukan digitalisasi data artefak untuk memastikan informasi sejarah tetap terjaga bagi generasi mendatang. Restorasi dilakukan secara berkala pada koleksi-koleksi berbahan organik seperti naskah kuno dan pakaian adat yang rentan terhadap kelembapan udara tropis.

Selain perawatan fisik, pelestarian dilakukan melalui kegiatan edukatif. Museum ini sering menjadi tuan rumah bagi kompetisi budaya, pameran temporer, dan diskusi sejarah yang melibatkan sejarawan dari Universitas Sumatera Utara (USU). Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa museum tidak menjadi "gedung mati", melainkan ruang publik yang hidup.

#

Kepentingan Budaya dan Keagamaan

Deli Serdang dikenal dengan semboyan "Bhinneka Perkasa Jaya". Museum ini dengan apik merepresentasikan kemajemukan tersebut. Selain kebudayaan Melayu yang menjadi pilar utama, terdapat ruang khusus yang menampilkan kekayaan budaya suku Karo, Simalungun, Jawa, dan etnis Tionghoa yang telah berabad-abad menetap di wilayah ini.

Dari sisi keagamaan, museum ini mendokumentasikan masuknya Islam di pesisir Sumatera Timur yang dibawa oleh para pedagang dan ulama, yang kemudian menjadi agama resmi kesultanan. Pengaruh Islam terlihat jelas pada koleksi kaligrafi kuno dan naskah-naskah keagamaan. Namun, museum juga menghargai keberadaan kepercayaan lokal dan agama lain yang ikut membentuk struktur sosial masyarakat Deli Serdang hingga saat ini.

#

Fakta Sejarah Unik

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Museum Daerah Deli Serdang menyimpan informasi mengenai sejarah kereta api di Sumatera Utara. Deli Serdang merupakan salah satu wilayah pertama di Hindia Belanda yang memiliki jalur kereta api modern (Deli Spoorweg Maatschappij) yang dibangun khusus untuk mengangkut hasil perkebunan tembakau dan karet menuju Pelabuhan Belawan.

Selain itu, museum ini memiliki koleksi alat musik tradisional yang sangat lengkap, termasuk "Gordang Sambilan" yang meskipun identik dengan Mandailing, memiliki variasi penggunaan yang unik di wilayah Deli Serdang sebagai simbol penyambutan tamu agung.

Dengan mengunjungi Museum Daerah Deli Serdang, seseorang tidak hanya melihat benda-benda kuno, tetapi juga memahami bagaimana sebuah wilayah bertransformasi dari hutan rimba menjadi pusat perkebunan dunia, dan akhirnya menjadi kabupaten yang modern dan religius di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Negara, Petapahan, Kec. Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang
entrance fee
Rp 5.000 per orang
opening hours
Selasa - Minggu, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Deli Serdang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Deli Serdang

Pelajari lebih lanjut tentang Deli Serdang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Deli Serdang