Situs Sejarah

Masjid Agung Demak

di Demak, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periodisasi Pembangunan

Masjid Agung Demak diyakini didirikan pada abad ke-15, tepatnya sekitar tahun 1477 Masehi atau 1401 Saka. Berdasarkan catatan sejarah dan tradisi lisan, pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Raden Patah, sultan pertama Kesultanan Demak, bersama dengan anggota Walisongo—sembilan wali penyebar agama Islam di Jawa.

Terdapat bukti unik berupa candrasengkala (kronogram) yang terpahat di beberapa bagian masjid. Salah satu yang paling terkenal adalah gambar bulus (kura-kura) yang melambangkan "Sarira Sunyi Kiblating Gusti", yang merujuk pada tahun 1401 Saka. Secara filosofis, bulus terdiri dari kepala, empat kaki, dan badan, yang jika dijumlahkan menunjukkan angka tahun tersebut. Keberadaan simbol ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sinkretisme budaya pada masa itu, di mana nilai-nilai Islam disampaikan melalui simbolisme lokal yang mudah dipahami masyarakat.

Arsitektur Khas: Akulturasi Budaya dan Saka Tatal

Secara arsitektural, Masjid Agung Demak menjadi purwarupa bagi arsitektur masjid tradisional di Indonesia. Berbeda dengan masjid di Timur Tengah yang identik dengan kubah, Masjid Demak memiliki atap tumpang tiga yang berbentuk limas (tajug). Atap ini mencerminkan pengaruh arsitektur Majapahit dan mengandung filosofi Islam mengenai tingkatan keimanan: Iman, Islam, dan Ihsan.

Salah satu elemen konstruksi yang paling legendaris adalah empat tiang utama yang disebut Saka Guru. Tiang-tiang ini konon dibuat oleh empat anggota Walisongo: Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Hal yang paling unik adalah Saka Tatal milik Sunan Kalijaga yang terletak di sisi timur laut. Berbeda dengan tiga tiang lainnya yang terbuat dari batang kayu jati utuh, Saka Tatal terbuat dari serpihan-serpihan kayu jati (tatal) yang disusun dan diikat sedemikian rupa hingga menjadi tiang yang kokoh. Ini melambangkan kekuatan persatuan (persatuan dari berbagai elemen kecil menjadi satu kesatuan yang kuat).

Dinding masjid terbuat dari batu bata kuno yang direkatkan tanpa semen, melainkan menggunakan teknik gosok atau perekat tradisional. Di bagian dalam, terdapat Mihrab (tempat imam) yang dihiasi dengan ukiran motif bunga dan tanaman, serta hiasan piring-piring porselen dari Dinasti Ming yang merupakan hadiah dari penguasa Tiongkok pada masa itu.

Signifikansi Sejarah dan Peran Walisongo

Masjid Agung Demak berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat dakwah Islam pada masa kejayaannya. Di sinilah para Walisongo sering berkumpul untuk bermusyawarah (syuro) membahas strategi penyebaran Islam serta urusan kenegaraan. Peristiwa penting seperti pelantikan sultan-sultan Demak dilakukan di dalam masjid ini.

Masjid ini juga menjadi saksi bisu lahirnya berbagai karya budaya yang digunakan sebagai media dakwah. Sunan Kalijaga, misalnya, menggunakan pelataran masjid untuk menggelar pertunjukan wayang kulit dan sekaten guna menarik perhatian masyarakat agar memeluk Islam. Hal ini menjadikan Masjid Agung Demak sebagai titik nol penyebaran Islam yang bersifat persuasif dan akomodatif terhadap budaya lokal.

Pintu Bledeg: Legenda Ki Ageng Selo

Salah satu artefak paling menarik di Masjid Agung Demak adalah Pintu Bledeg (Pintu Petir). Menurut legenda masyarakat setempat, pintu ini dibuat oleh Ki Ageng Selo pada tahun 1466 M. Konon, ia mampu menangkap petir, dan rupa petir tersebut kemudian diabadikan dalam ukiran pada pintu kayu jati tersebut. Ukiran pada Pintu Bledeg menampilkan motif mahkota, kepala naga, dan sulur-suluran yang sangat detail. Saat ini, pintu asli disimpan di dalam museum masjid untuk menghindari kerusakan, sementara yang terpasang di bangunan utama adalah replika.

Situs Makam Kesultanan

Di kompleks Masjid Agung Demak, tepatnya di sisi barat dan utara, terdapat pemakaman raja-raja Kesultanan Demak. Di sini bersemayam Raden Patah (Sultan Syah Alam Akbar I), Pati Unus (Sultan Syah Alam Akbar II) yang dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor karena keberaniannya menyerang Portugis di Malaka, serta Sultan Trenggono. Keberadaan makam-makam ini menjadikan Masjid Demak sebagai destinasi wisata religi (ziarah) yang tak pernah sepi oleh pengunjung dari berbagai penjuru Nusantara.

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai situs cagar budaya nasional, Masjid Agung Demak telah melalui beberapa kali tahap renovasi tanpa menghilangkan keaslian bentuk dan struktur utamanya. Renovasi besar pertama tercatat dilakukan pada tahun 1920-an oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memperkuat struktur bangunan.

Pada tahun 1980-an, melalui koordinasi dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dilakukan pemugaran menyeluruh terhadap bagian atap dan penggantian beberapa kerangka kayu yang mulai lapuk. Pemerintah Indonesia sangat berhati-hati dalam menjaga keaslian material kayu jati yang digunakan. Museum Masjid Agung Demak juga didirikan di dalam kompleks untuk menyimpan benda-benda bersejarah yang tidak lagi terpasang di bangunan utama, seperti sisa-sisa kayu saka guru yang asli, bedug lama, dan naskah-naskah kuno.

Pentingnya Budaya dan Religi di Era Modern

Hingga hari ini, Masjid Agung Demak tetap memegang peran sentral dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Jawa Tengah. Tradisi "Gerebeg Syawal" dan "Gerebeg Besar" yang diadakan setiap Idul Adha selalu berpusat di masjid ini, diawali dengan prosesi penjamasan (pembersihan) pusaka peninggalan Sunan Kalijaga.

Secara keseluruhan, Masjid Agung Demak adalah bukti nyata kecerdasan arsitektur masa lalu dan keharmonisan antara agama dan budaya. Ia berdiri bukan hanya sebagai tempat sujud bagi umat Muslim, tetapi juga sebagai monumen sejarah yang mengingatkan bangsa Indonesia akan identitasnya yang berakar pada semangat toleransi, kreativitas, dan perjuangan melawan penjajahan. Keberadaannya terus menginspirasi generasi masa kini tentang bagaimana Islam dapat bersemi di Nusantara melalui pendekatan budaya yang damai dan luhur.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Sultan Fatah No.57, Kauman, Bintoro, Kec. Demak, Kabupaten Demak
entrance fee
Gratis (donasi sukarela)
opening hours
Setiap hari, 24 jam (area publik)

Tempat Menarik Lainnya di Demak

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Demak

Pelajari lebih lanjut tentang Demak dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Demak