Masjid Tua Siguntur
di Dharmasraya, Sumatera Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Konteks Historis dan Fondasi Kerajaan
Pembangunan Masjid Tua Siguntur diperkirakan terjadi pada masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Bin Sultan Bagindo Muhammad di abad ke-18. Namun, narasi sejarah yang melekat padanya jauh lebih tua. Masjid ini didirikan di atas lahan yang dulunya merupakan kompleks percandian atau pusat kegiatan keagamaan masa pra-Islam. Hal ini terlihat dari keberadaan reruntuhan bata kuno di sekitar situs dan pola tata ruang yang mengikuti pakem istana melayu lama.
Secara historis, masjid ini menjadi simbol transformasi Kerajaan Siguntur dari pengaruh Hindu-Buddha menuju Kesultanan Islam. Letaknya yang strategis di tepian Sungai Batang Hari menegaskan peran pentingnya dalam jalur perdagangan dan penyebaran agama di masa lampau. Hubungan erat antara pihak istana (Keluarga Kerajaan Siguntur) dengan para ulama tercermin dari posisi masjid yang berdekatan dengan kompleks makam raja-raja Siguntur.
Tipologi Arsitektur Vernakular Minangkabau
Berbeda dengan masjid-masjid modern yang didominasi kubah beton, Masjid Tua Siguntur mempertahankan bentuk asli arsitektur vernakular Sumatera Barat dengan pengaruh kuat gaya atap tumpang. Gaya ini lazim ditemukan pada masjid kuno di Nusantara seperti Masjid Agung Demak, namun dengan sentuhan lokal yang spesifik.
Struktur bangunan berbentuk bujur sangkar dengan denah yang simetris. Atapnya berbentuk tajug atau tumpang dua yang terbuat dari seng (menggantikan ijuk di masa lampau). Bentuk atap ini memiliki makna filosofis "Merapi-Singgalang", yang melambangkan keseimbangan alam dan perlindungan Tuhan. Puncak atap dihiasi dengan mustaka yang memiliki ukiran khas, mempertegas identitas arsitektur Islam tradisional.
Inovasi Struktur dan Material Lokal
Keunikan utama Masjid Tua Siguntur terletak pada sistem struktur kayunya. Bangunan ini ditopang oleh tiang-tiang kayu jati dan kayu ulin berkualitas tinggi yang diambil dari hutan-hutan Dharmasraya. Tiang utama atau soko guru diletakkan tepat di tengah ruang salat, berfungsi sebagai titik tumpu beban atap sekaligus simbol poros vertikal antara hamba dan Pencipta.
Dinding masjid terbuat dari papan kayu yang disusun secara vertikal dan horizontal dengan teknik sambung pen (tenon and mortise) tanpa menggunakan paku besi secara dominan. Teknik ini memberikan fleksibilitas pada bangunan dalam menghadapi guncangan gempa, sebuah kearifan lokal yang telah teruji selama ratusan tahun di wilayah busur Sumatera. Ventilasi udara dirancang melalui celah-celah ukiran pada dinding dan bagian bawah atap, memastikan sirkulasi udara tetap sejuk meskipun berada di wilayah Dharmasraya yang cenderung panas.
Ornamen dan Estetika Simbolis
Meskipun tampilannya terlihat bersahaja dari luar, interior Masjid Tua Siguntur menyimpan detail estetika yang kaya. Ukiran-ukiran pada bagian mimbar dan mihrab menunjukkan kemahiran pengrajin masa lalu. Motif ukiran didominasi oleh pola flora, seperti sulur-suluran, bunga melati, dan daun-daun merambat yang distilasi. Sesuai dengan ajaran Islam, motif makhluk hidup (fauna) dihindari dan diganti dengan pola geometris yang rumit namun harmonis.
Mihrab masjid menjorok keluar pada sisi barat, dengan lengkungan yang mengingatkan pada bentuk relung candi, namun diberikan sentuhan kaligrafi Arab yang halus. Transisi visual dari elemen arsitektur Hindu-Buddha ke estetika Islam ini menjadi bukti betapa halusnya proses asimilasi budaya di Siguntur.
Makam Raja-Raja Siguntur: Kesatuan Ruang Sakral
Satu elemen yang tidak dapat dipisahkan dari arsitektur Masjid Tua Siguntur adalah kompleks pemakaman yang berada tepat di sisi bangunan. Di sini terdapat makam Sultan-Sultan Siguntur beserta keluarganya. Keberadaan makam ini menciptakan sebuah ruang sakral yang menghubungkan konsep "duniawi" (masjid sebagai tempat interaksi sosial dan ibadah) dengan "ukhrawi" (pengingat akan kematian).
Batu nisan yang ditemukan di kompleks ini memiliki nilai arkeologis tinggi, dengan bentuk yang bervariasi mulai dari tipe nisan Aceh hingga nisan lokal dengan pengaruh gaya megalitik. Penempatan makam yang menyatu dengan area masjid adalah ciri khas pusat pemerintahan Islam di Nusantara, di mana raja dianggap sebagai pelindung agama (Zhillullah fil 'Alam).
Signifikansi Budaya dan Sosial
Bagi masyarakat Dharmasraya, Masjid Tua Siguntur adalah identitas kolektif. Dahulu, masjid ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan spiritual kerajaan, tempat musyawarah adat, dan pusat penyebaran ilmu agama. Hingga saat ini, tradisi seperti "Batagak Gadang" atau upacara adat lainnya masih sering berkaitan dengan keberadaan masjid ini.
Masjid ini juga menjadi pengingat akan kejayaan Sungai Batang Hari sebagai urat nadi kehidupan. Arsitekturnya yang menghadap atau berorientasi dekat dengan sungai menunjukkan bahwa peradaban Siguntur adalah peradaban air yang sangat menghargai ekosistem sungai.
Pengalaman Pengunjung dan Konservasi
Saat ini, Masjid Tua Siguntur telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan. Pengunjung yang datang akan merasakan suasana hening dan magis. Lantai kayu yang berderit saat diinjak dan aroma kayu tua memberikan kesan nostalgia yang kuat.
Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi, terutama pada bagian atap dan lantai, struktur inti masjid tetap dipertahankan keasliannya. Tantangan utama saat ini adalah menjaga kelestarian material kayu dari pelapukan dan serangan rayap, serta memastikan bahwa pengembangan infrastruktur di sekitarnya tidak merusak integritas visual situs bersejarah ini.
Masjid Tua Siguntur adalah sebuah narasi visual tentang bagaimana sebuah bangsa mampu mempertahankan akarnya sambil merangkul perubahan. Melalui bentuk atapnya yang menjulang dan tiang-tiang kayunya yang kokoh, ia terus membisikkan kisah tentang kejayaan Dharmasraya, kearifan lokal Minangkabau, dan cahaya Islam yang menyatu dalam keselarasan arsitektural.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Dharmasraya
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Dharmasraya
Pelajari lebih lanjut tentang Dharmasraya dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Dharmasraya