Situs Rumah Pengasingan Bung Karno
di Ende, Nusa Tenggara Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende: Rahim Pancasila di Tanah Flobamora
Situs Rumah Pengasingan Bung Karno yang terletak di Jalan Perwira, Kelurahan Kotaraja, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar bangunan tua peninggalan kolonial. Tempat ini merupakan saksi bisu salah satu fragmen paling krusial dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di rumah sederhana inilah, Soekarno, sang Proklamator, menjalani masa pengasingannya selama empat tahun (1934β1938) dan merumuskan fondasi filosofis bangsa yang kita kenal sebagai Pancasila.
#
Latar Belakang Sejarah dan Masa Pembuangan
Awal mula keberadaan situs ini berkaitan erat dengan kebijakan represif pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap tokoh-tokoh pergerakan nasional. Pada tanggal 28 Desember 1933, Gubernur Jenderal Jonkheer Meester Bonifacius Cornelis de Jonge mengeluarkan keputusan pengasingan Soekarno ke Ende. Keputusan ini diambil tanpa melalui proses pengadilan (hak exorbitante rechten) setelah Soekarno ditangkap di kediaman Mohammad Husni Thamrin di Jakarta.
Soekarno tiba di pelabuhan Ende pada 14 Januari 1934 dengan kapal Jan van Riebeeck. Beliau tidak datang sendiri, melainkan membawa serta istrinya, Inggit Garnasih, ibu mertuanya, Ibu Amsi, serta kedua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika. Pemerintah Belanda memilih Ende karena lokasinya yang terisolasi di Pulau Flores, dengan harapan dapat memutus hubungan politik Soekarno dengan jejaring pergerakan di Jawa dan melunakkan semangat revolusionernya melalui kesepian dan keterasingan.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi Bangunan
Rumah yang ditempati Soekarno adalah milik seorang penduduk lokal bernama Haji Abdullah Ambuwaru. Secara arsitektural, bangunan ini merepresentasikan hunian kelas menengah di daerah tropis pada awal abad ke-20. Struktur utamanya mengusung gaya bangunan tradisional Flores yang dipadukan dengan sentuhan kolonial sederhana.
Bangunan ini memiliki dinding yang terbuat dari bata yang diplester halus dan dicat putih. Lantainya berupa semen biasa, mencerminkan kesederhanaan hidup Soekarno selama masa pembuangan. Atapnya berbentuk limasan yang cukup tinggi untuk sirkulasi udara yang baik di iklim Ende yang panas. Interior rumah terdiri dari ruang tamu, beberapa kamar tidur, serta ruang belakang yang berfungsi sebagai dapur dan area servis.
Keunikan dari situs ini adalah keaslian tata letaknya yang tetap terjaga. Di bagian belakang rumah, terdapat sebuah sumur tua yang hingga kini masih berfungsi. Sumur ini digunakan oleh Soekarno dan keluarganya untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, terdapat area halaman yang cukup luas, tempat di mana Soekarno kerap berkebun untuk mengusir kejenuhan dan menjaga kebugaran fisiknya.
#
Signifikansi Historis: Lahirnya Butir-Butir Pancasila
Nilai sejarah paling fundamental dari situs ini adalah perannya sebagai "laboratorium pemikiran" Soekarno. Di tengah keterasingan, Soekarno melakukan kontemplasi mendalam mengenai masa depan bangsa Indonesia yang majemuk. Salah satu fakta unik yang paling terkenal adalah kebiasaan Soekarno merenung di bawah pohon sukun bercabang lima yang menghadap ke Teluk Ende.
Di bawah pohon sukun itulah, Soekarno mendapatkan inspirasi tentang lima butir mutiara pemikiran yang kemudian menjadi Pancasila. Beliau menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia harus didasarkan pada nilai-nilai yang digali dari bumi Indonesia sendiri, bukan sekadar meniru ideologi luar. Oleh karena itu, Ende sering dijuluki sebagai "Kota Rahim Pancasila".
Selain perenungan filosofis, Soekarno juga aktif dalam kegiatan sosial-budaya di Ende. Beliau mendirikan kelompok sandiwara bernama "Kelimutu" dan menulis setidaknya 12 naskah drama, seperti Dr. Sjaitan, Rahasia Kelimutu, dan Roro Hoeloebalang. Melalui seni drama, Soekarno menyelipkan pesan-pesan patriotisme dan persatuan kepada warga lokal tanpa dicurigai secara berlebihan oleh pengawas Belanda.
#
Tokoh Terkait dan Kehidupan Sosial
Selama di Ende, Soekarno menjalin hubungan erat dengan berbagai lapisan masyarakat. Salah satu hubungan yang paling signifikan adalah persahabatannya dengan para biarawan Katolik dari Ordo Societas Verbi Divini (SVD), seperti Pater Huijtink dan Pater Bouma. Meskipun berbeda keyakinan, mereka sering berdiskusi tentang teologi, filsafat, dan masalah sosial di perpustakaan biara St. Konradus yang kini dikenal sebagai Biara Santo Yosef. Interaksi lintas agama ini memperkuat pemikiran Soekarno tentang toleransi dan kebangsaan yang inklusif.
Keberadaan Ibu Amsi di rumah ini juga memberikan catatan emosional tersendiri. Ibu mertua Soekarno tersebut wafat pada tahun 1935 dan dimakamkan di Ende. Makam Ibu Amsi hingga kini menjadi bagian dari narasi sejarah yang tak terpisahkan dari situs pengasingan ini, menunjukkan betapa besarnya pengorbanan keluarga dalam mendampingi perjuangan Soekarno.
#
Upaya Pelestarian dan Status Cagar Budaya
Situs Rumah Pengasingan Bung Karno telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya tingkat nasional. Pengelolaannya berada di bawah naungan Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Upaya restorasi besar-besaran dilakukan pada tahun 2012 oleh Yayasan Bung Karno bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Dalam restorasi tersebut, pemerintah sangat berhati-hati untuk tidak mengubah bentuk asli bangunan. Barang-barang asli peninggalan Soekarno masih tersimpan rapi di dalam rumah, termasuk tempat tidur besi yang digunakan Soekarno, biola, peralatan makan, lukisan karya Bung Karno, hingga naskah-naskah drama asli. Penataan interior dilakukan sedemikian rupa agar pengunjung dapat merasakan atmosfer kehidupan Soekarno pada tahun 1930-an.
#
Pentingnya Situs dalam Konteks Modern
Bagi masyarakat Ende dan Indonesia pada umumnya, situs ini bukan sekadar museum, melainkan simbol keteguhan prinsip. Keberhasilan Soekarno mengubah penderitaan pengasingan menjadi energi intelektual untuk melahirkan ideologi negara menjadikannya tempat ziarah ideologis bagi para pemimpin dan pemuda bangsa. Setiap tanggal 1 Juni, bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, situs ini menjadi pusat perhatian nasional dengan berbagai upacara dan peringatan budaya.
Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende berdiri sebagai pengingat bahwa di tempat yang paling terpencil sekalipun, sebuah ide besar tentang persatuan bangsa bisa lahir. Kekuatan arsitektur yang sederhana namun kokoh, dipadu dengan kekayaan narasi sejarah di dalamnya, menjadikan tempat ini sebagai salah satu situs sejarah paling sakral dalam perjalanan panjang menuju Indonesia merdeka.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Ende
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kami