Benteng Lohayong
di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Dominika dan Portugis di Solor: Narasi Sejarah Benteng Lohayong
Benteng Lohayong, yang secara historis dikenal dengan nama Benteng Henricus (Fortaleza de Henrique), merupakan salah satu monumen kolonial tertua dan paling signifikan di wilayah Kepulauan Solor, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Terletak di tepi pantai Desa Lohayong, situs ini menjadi saksi bisu dari fase awal ekspansi bangsa Eropa di Nusantara, persaingan kekuasaan antara ordo keagamaan, serta dinamika perdagangan rempah di kawasan timur Indonesia.
#
Asal-Usul dan Periode Pendirian
Cikal bakal Benteng Lohayong tidak terlepas dari misi penginjilan Ordo Dominikan (OP) dari Portugal. Pada sekitar tahun 1561, para biarawan Dominikan mulai membangun pemukiman di Pulau Solor sebagai basis penyebaran agama Katolik di wilayah Flores dan sekitarnya. Pembangunan benteng secara permanen dimulai pada tahun 1566 di bawah pengawasan Pastor Antonio da Cruz.
Awalnya, bangunan ini didirikan sebagai perlindungan bagi para misionaris dan penduduk lokal yang telah beralih keyakinan dari serangan kelompok-kelompok yang menentang kehadiran Portugis, serta ancaman dari bajak laut. Nama "Henricus" diberikan untuk menghormati Raja Portugal saat itu. Kehadiran benteng ini menandai Solor sebagai pusat administrasi dan militer Portugis di Kepulauan Sunda Kecil sebelum pusat kekuasaan nantinya bergeser ke Larantuka dan kemudian ke Dili, Timor.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Benteng Lohayong mencerminkan gaya benteng pertahanan Eropa abad ke-16 yang diadaptasi dengan material lokal. Benteng ini dibangun menggunakan campuran batu karang, batu gunung, dan perekat tradisional yang terbuat dari campuran kapur, pasir, serta putih telur. Konstruksi ini terbukti sangat kokoh, mampu bertahan selama berabad-abad di tengah iklim pesisir yang korosif.
Denah dasar benteng berbentuk segi empat dengan bastion-bastion di sudutnya yang berfungsi sebagai tempat penempatan meriam. Dinding-dindingnya memiliki ketebalan yang signifikan, dirancang untuk menahan gempuran artileri kapal perang. Di dalam kompleks benteng, dahulu terdapat kapel, gudang persenjataan, ruang logistik, dan kediaman bagi para biarawan serta komandan militer. Meskipun saat ini sebagian besar struktur telah menjadi reruntuhan, sisa-sisa fondasi dan bagian dinding luar masih memperlihatkan kemegahan teknik sipil Portugis pada masanya.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Benteng Lohayong memiliki nilai historis yang luar biasa karena posisinya sebagai "pintu masuk" bagi pengaruh Barat di wilayah Nusa Tenggara. Pada abad ke-16 dan ke-17, Solor menjadi titik transit vital bagi perdagangan kayu cendana yang diambil dari Pulau Timor. Siapa pun yang menguasai Lohayong, secara otomatis mengendalikan jalur perdagangan kayu wangi yang sangat berharga di pasar dunia tersebut.
Situs ini juga menjadi saksi konflik berkepanjangan antara Portugis dan Belanda (VOC). Pada tahun 1613, armada VOC di bawah pimpinan Apollonius Schotte berhasil merebut benteng ini dari tangan Portugis setelah pengepungan yang intens. Belanda kemudian mengganti nama benteng ini menjadi Fort Henricus. Namun, penguasaan Belanda tidak berlangsung mulus; pemberontakan lokal dan serangan balik Portugis membuat kendali atas benteng ini berpindah tangan beberapa kali hingga akhirnya ditinggalkan secara permanen pada abad ke-18 seiring dengan menurunnya nilai ekonomi kayu cendana di Solor.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Beberapa tokoh kunci yang terkait dengan situs ini antara lain Pastor Antonio da Cruz, sang arsitek awal, dan Kapten Portugis yang mempertahankan benteng tersebut. Di sisi Belanda, nama Apollonius Schotte tercatat dalam sejarah sebagai penakluk pertama benteng ini bagi VOC.
Periode kejayaan Benteng Lohayong terjadi antara tahun 1566 hingga 1646. Selama masa ini, Lohayong bukan hanya pusat militer, tetapi juga pusat pendidikan dan kebudayaan. Di tempat inilah tradisi penulisan dan pencatatan sejarah di wilayah Flores Timur dimulai oleh para biarawan Dominikan yang rajin mengirimkan laporan (annuae) ke pusat ordo mereka di Goa, India, atau ke Lisbon, Portugal.
#
Dimensi Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Flores Timur, khususnya di Pulau Solor, Benteng Lohayong adalah simbol identitas. Situs ini merupakan titik awal masuknya agama Katolik yang kini menjadi agama mayoritas di wilayah tersebut. Meskipun masyarakat Lohayong saat ini mayoritas beragama Islam, keberadaan benteng ini tetap dihormati sebagai warisan leluhur yang menunjukkan bahwa Solor pernah menjadi titik pertemuan peradaban global.
Ada keunikan sosiologis di mana komunitas Muslim di sekitar benteng turut menjaga situs ini sebagai bagian dari sejarah kolektif mereka. Hal ini mencerminkan semangat "Lamaholot" yang menjunjung tinggi persaudaraan lintas agama di Flores Timur. Benteng ini juga menjadi pengingat akan hubungan sejarah antara Solor, Larantuka, dan Malaka.
#
Status Pelestarian dan Restorasi
Saat ini, Benteng Lohayong berstatus sebagai Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang. Kondisi fisik benteng memang memprihatinkan karena faktor usia dan faktor alam. Sebagian besar dinding telah runtuh dan tertutup vegetasi, namun beberapa bagian bastion masih berdiri tegak.
Upaya pelestarian telah dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV. Ekskavasi arkeologi sesekali dilakukan untuk menemukan artefak-artefak seperti keramik Cina, peluru meriam, dan sisa-sisa peralatan rumah tangga kolonial yang dapat memberikan informasi lebih dalam mengenai kehidupan sehari-hari di dalam benteng. Pemerintah daerah terus berupaya mempromosikan Benteng Lohayong sebagai destinasi wisata sejarah unggulan guna meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga warisan dunia ini.
#
Fakta Sejarah Unik
Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Benteng Lohayong pernah menjadi tempat pelarian bagi penduduk Portugis-Melayu (Topasses atau "Larantuqueiros") saat terjadi konflik internal di wilayah tersebut. Selain itu, sistem pertahanan benteng ini pernah dianggap sebagai salah satu yang terkuat di belahan bumi timur pada akhir abad ke-16, sebelum teknologi meriam Belanda yang lebih maju mampu menembusnya. Keberadaan benteng ini jugalah yang secara tidak langsung memicu migrasi besar-besaran penduduk Solor ke Larantuka, yang kemudian melahirkan tradisi prosesi Semana Santa yang terkenal hingga saat ini.
Dengan segala narasi yang melingkupinya, Benteng Lohayong bukan sekadar tumpukan batu karang tua. Ia adalah monumen ketahanan, pusat penyebaran iman, dan pelabuhan tempat bertemunya berbagai kepentingan bangsa-bangsa besar di masa lalu yang membentuk wajah Flores Timur modern.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Flores Timur
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Flores Timur
Pelajari lebih lanjut tentang Flores Timur dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Flores Timur