Situs Megalitik Desa Dahana
di Gunungsitoli, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Peradaban Batu: Situs Megalitik Desa Dahana di Gunungsitoli
Situs Megalitik Desa Dahana merupakan salah satu monumen hidup yang merepresentasikan kejayaan kebudayaan megalitik di Pulau Nias, khususnya di wilayah Kota Gunungsitoli, Sumatera Utara. Situs ini bukan sekadar tumpukan batu mati, melainkan sebuah artefak sosiologis yang menjelaskan struktur sosial, sistem kepercayaan, dan kemahiran teknis leluhur masyarakat Nias (Ono Niha) pada masa lampau. Terletak di perbukitan Desa Dahana, situs ini menjadi saksi bisu transisi zaman batu menuju peradaban modern yang tetap menjaga nilai-nilai luhur adat.
#
Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan
Secara historis, tradisi megalitik di Desa Dahana diperkirakan berkembang pesat pada periode pemukiman awal suku Nias di wilayah Gunungsitoli, yang secara kronologis berada pada rentang waktu Zaman Logam hingga awal abad ke-19. Pembangunan situs ini berkaitan erat dengan tradisi Owasa, yaitu pesta adat besar yang diselenggarakan oleh seorang bangsawan atau pimpinan adat (Si’ulu) untuk meningkatkan status sosialnya.
Pendirian batu-batu di Desa Dahana tidak dilakukan secara serentak, melainkan bertahap sesuai dengan pencapaian prestasi sosial para pemimpin klan di masa lalu. Setiap batu yang berdiri menandakan satu peristiwa besar, baik itu pengukuhan gelar adat, kemenangan dalam peperangan antar-wilayah (Banua), maupun peringatan bagi leluhur yang telah meninggal. Desa Dahana sendiri secara tradisional merupakan bagian dari wilayah adat yang memiliki pengaruh kuat dalam distribusi kekuasaan di Gunungsitoli utara.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi Megalitik
Arsitektur Situs Megalitik Desa Dahana didominasi oleh dua jenis batu utama: Osa-osa dan Gowe. Osa-osa adalah kursi kebesaran yang terbuat dari batu utuh, sering kali dipahat dengan motif kepala hewan mitologi. Di Desa Dahana, ditemukan Osa-osa dengan motif Lasara (hewan legendaris menyerupai naga) dan kepala burung yang melambangkan kekuasaan vertikal dan perlindungan.
Teknik konstruksi yang digunakan menunjukkan kecerdasan teknik sipil purba. Batu-batu besar ini (sering kali berupa batu pasir atau batu gamping keras) diambil dari sungai-sungai besar atau tebing di sekitar Gunungsitoli. Proses pengangkutan batu yang beratnya bisa mencapai hitungan ton dilakukan dengan bantuan ratusan orang menggunakan sistem pengungkit kayu dan tali rotan, sebuah prosesi yang disebut Mangosisi Gowe. Permukaan batu dihaluskan menggunakan alat batu yang lebih keras atau logam awal, menciptakan detail ukiran geometris yang rumit yang merepresentasikan simbol klan dan status kekuasaan.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Situs ini memiliki signifikansi sebagai pusat hukum adat (Gora-gora) pada masanya. Dahulu, area di sekitar batu-batu megalitik ini berfungsi sebagai tempat pertemuan para tetua untuk memutuskan perkara hukum atau strategi pertahanan desa. Salah satu peristiwa sejarah yang melekat pada situs ini adalah momen rekonsiliasi antar-klan di Gunungsitoli yang dikukuhkan dengan penanaman batu peringatan.
Keberadaan batu Ni’ogowe di Desa Dahana juga mencerminkan sistem ekonomi masa lalu. Pembangunan satu monumen batu mengharuskan penyelenggara menyembelih ratusan ekor babi dan membagikan emas sebagai bentuk redistribusi kekayaan. Hal ini membuktikan bahwa pada masa pembangunan situs ini, Desa Dahana merupakan pusat pemukiman yang makmur dengan surplus pangan dan tatanan ekonomi yang stabil.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Tokoh-tokoh di balik pembangunan situs ini adalah para pimpinan adat yang memegang gelar Si’ulu. Meskipun nama-nama spesifik dari abad-abad awal sulit dilacak karena tradisi lisan yang terputus, masyarakat setempat meyakini bahwa situs ini didirikan oleh nenek moyang klan-klan dominan di Dahana yang memiliki hubungan darah dengan pendiri pemukiman Orahua. Periode keemasan situs ini terjadi sebelum masuknya pengaruh misionaris Jerman (Rhenish Missionary Society) pada akhir abad ke-19, yang perlahan mengubah orientasi pemujaan leluhur menjadi kepercayaan Kristen.
#
Makna Budaya dan Keagamaan
Bagi masyarakat Nias kuno, Situs Megalitik Desa Dahana adalah medium penghubung antara dunia manusia dengan dunia roh (Lowalangi dan Lature Danö). Batu-batu ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur yang akan melindungi keturunannya dari malapetaka. Ukiran-ukiran pada batu bukan sekadar hiasan, melainkan bahasa visual. Misalnya, ukiran payudara pada batu melambangkan kesuburan dan kemakmuran, sementara ukiran pedang atau senjata melambangkan keberanian dan perlindungan.
Secara kultural, situs ini menegaskan konsep Fondrakö, yaitu penetapan hukum adat yang sakral. Di tempat inilah sumpah-sumpah besar diucapkan. Hingga saat ini, meskipun mayoritas penduduk telah memeluk agama Kristen, rasa hormat terhadap situs ini tetap tinggi sebagai identitas kultural yang membedakan identitas lokal Gunungsitoli dengan wilayah lain di Sumatera Utara.
#
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Saat ini, Situs Megalitik Desa Dahana berada di bawah pengawasan pemerintah daerah Kota Gunungsitoli dan Balai Pelestarian Kebudayaan. Upaya pelestarian menghadapi tantangan berupa faktor alam, seperti pertumbuhan lumut dan pelapukan batuan akibat cuaca tropis yang ekstrem. Beberapa bagian dari situs telah diberikan pagar pelindung dan papan informasi untuk mengedukasi pengunjung.
Restorasi secara fisik dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga otentisitas posisi batu. Karena bagi masyarakat adat, posisi batu yang bergeser dianggap dapat mengubah makna filosofis dari situs tersebut. Pemerintah setempat terus berupaya mengintegrasikan situs ini ke dalam rute wisata sejarah Gunungsitoli untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga warisan megalitik yang langka ini.
#
Fakta Sejarah Unik
Salah satu fakta unik dari Situs Megalitik Desa Dahana adalah adanya batu yang memiliki lubang-lubang kecil yang konon digunakan untuk menghitung jumlah ternak yang dikurbankan atau jumlah hari dalam penanggalan tradisional Nias. Selain itu, berbeda dengan situs megalitik di Eropa yang cenderung terisolasi, megalitik di Dahana terletak terintegrasi dengan pola pemukiman, menunjukkan bahwa bagi masyarakat Nias, kehidupan sehari-hari dan penghormatan terhadap leluhur adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Situs Megalitik Desa Dahana tetap berdiri tegak sebagai monumen ketangguhan fisik dan kedalaman spiritual manusia Nias. Ia adalah bukti bahwa jauh sebelum teknologi modern masuk, peradaban di Gunungsitoli telah mampu menciptakan karya seni monumental yang menggabungkan estetika, fungsi sosial, dan spiritualitas dalam satu wujud batu abadi.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Gunungsitoli
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Gunungsitoli
Pelajari lebih lanjut tentang Gunungsitoli dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Gunungsitoli