Situs Sejarah

Gereja Katholik Sugapa

di Intan Jaya, Papua Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Iman di Jantung Intan Jaya: Sejarah dan Eksistensi Gereja Katolik Sugapa

Gereja Katolik Sugapa bukan sekadar bangunan peribadatan; ia adalah monumen hidup yang merekam transformasi sosial, spiritual, dan kultural masyarakat di wilayah pegunungan tengah Papua. Terletak di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, situs ini merupakan salah satu titik awal masuknya pengaruh modernitas dan misi kemanusiaan yang mengubah lanskap peradaban suku Moni sebagai penduduk asli wilayah tersebut.

#

Asal-Usul Historis dan Masa Pendirian

Sejarah Gereja Katolik Sugapa tidak dapat dipisahkan dari ekspansi misi Gereja Katolik di wilayah pedalaman Papua pada pertengahan abad ke-20. Pada dekade 1950-an, wilayah Intan Jaya masih sangat terisolasi dari dunia luar. Misi Katolik masuk ke wilayah ini melalui para misionaris dari Ordo Fransiskan (OFM) yang berbasis di Enarotali.

Pendirian gereja pertama di Sugapa dimulai sekitar tahun 1952-1954. Pada masa itu, akses menuju Sugapa hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama berhari-hari melintasi medan pegunungan yang ekstrem atau menggunakan pesawat perintis kecil. Para misionaris awal, seperti Pastor Michael Angkur (yang nantinya menjadi Uskup) dan rekan-rekannya, bekerja sama dengan kepala-kepala suku lokal untuk membuka lahan di sebuah lereng yang strategis, yang kini menjadi pusat Distrik Sugapa. Pembangunan gereja ini menjadi simbol "kontak pertama" yang damai antara budaya luar dengan struktur sosial tradisional suku Moni.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Gereja Katolik Sugapa telah mengalami beberapa kali renovasi, namun struktur aslinya mencerminkan gaya "Arsitektur Misi Pedalaman" yang pragmatis namun kokoh. Pada awal pendiriannya, bangunan gereja menggunakan material lokal seperti kayu besi dan atap rumbia, sebelum akhirnya diganti dengan seng yang diterbangkan khusus menggunakan pesawat Dakota.

Salah satu karakteristik unik dari situs ini adalah penggunaan fondasi batu alam yang disusun manual oleh umat setempat. Konstruksi bangunan dirancang untuk tahan terhadap guncangan gempa yang sering terjadi di wilayah pegunungan tengah. Interior gereja menampilkan perpaduan antara ikonografi Katolik tradisional dengan sentuhan seni ukir lokal. Mimbar dan bangku umat seringkali dihiasi dengan motif geometris khas pegunungan, menciptakan harmoni antara teologi universal dengan kearifan lokal. Jendela-jendela besar di sisi bangunan dirancang untuk memaksimalkan cahaya alami, mengingat keterbatasan listrik di wilayah tersebut selama puluhan tahun.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Gereja Katolik Sugapa memegang peran krusial sebagai sentral pendidikan dan kesehatan di Intan Jaya. Sebelum pemerintah secara efektif menjangkau wilayah ini, kompleks gereja telah berfungsi sebagai sekolah (YPPK) dan klinik sederhana. Peristiwa sejarah yang paling menonjol terkait situs ini adalah perannya sebagai tempat perlindungan (sanctuary) selama masa-masa konflik atau ketegangan sosial.

Pada masa transisi politik Papua di tahun 1960-an, kompleks gereja ini menjadi titik temu bagi para pemuka adat untuk berdialog mengenai masa depan wilayah mereka. Gereja ini juga menjadi saksi bisu pembangunan lapangan terbang Sugapa (Bandara Bilogai), di mana para misionaris dan umat bahu-membahu membuka lahan secara manual agar pesawat pengangkut logistik dan obat-obatan bisa mendarat.

#

Tokoh-Tokoh Terkait dan Warisan Misi

Beberapa tokoh penting yang namanya melekat pada sejarah Gereja Sugapa adalah para Pastor OFM berkebangsaan Belanda yang kemudian digantikan oleh putra daerah. Peran para "Katekis" lokal dari suku Moni tidak bisa diabaikan; mereka adalah jembatan bahasa dan budaya yang memungkinkan pesan-pesan gereja diterima oleh masyarakat. Salah satu tokoh yang sering disebut dalam sejarah lisan setempat adalah mereka yang berhasil menyatukan klan-klan yang bertikai melalui pendekatan iman di pelataran gereja ini.

Kehadiran gereja ini juga menandai berakhirnya praktik perang suku yang berkepanjangan di lembah-lembah sekitar Sugapa. Melalui ajaran kasih yang dibawa oleh misi, gereja berhasil menciptakan zona perdamaian yang memungkinkan perdagangan dan interaksi antarsuku berjalan lebih terbuka.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Gereja Katolik Sugapa berdiri sebagai situs sejarah yang dilindungi oleh kesepakatan adat dan gerejawi. Meskipun beberapa bagian bangunan telah mengalami modernisasi—seperti penggunaan dinding beton dan lantai keramik—situs aslinya tetap dipertahankan di lokasi yang sama sebagai pengingat sejarah.

Upaya restorasi terus dilakukan oleh Keuskupan Timika bersama umat paroki. Tantangan utama dalam preservasi situs ini adalah faktor geografis dan situasi keamanan di Intan Jaya. Namun, bagi masyarakat Sugapa, gereja ini bukan sekadar bangunan tua; ia adalah identitas kolektif. Setiap kali terjadi kerusakan akibat faktor usia atau cuaca ekstrem, masyarakat secara swadaya melakukan perbaikan kolektif yang disebut dengan semangat "Gotong Royong Pegunungan".

#

Makna Budaya dan Religi

Bagi suku Moni, Gereja Katolik Sugapa adalah pusat gravitasi spiritual. Sinkretisme budaya yang positif terlihat dalam upacara-upacara besar seperti Natal atau Paskah, di mana tarian adat dan prosesi bakar batu dilakukan di halaman gereja. Gereja telah berhasil menginkulturasi nilai-nilai Injil ke dalam struktur "Mee" dan "Moni", menjadikannya bagian tak terpisahkan dari adat istiadat setempat.

Situs sejarah ini juga menjadi simbol ketahanan (resilience). Di tengah berbagai tantangan pembangunan di Provinsi Papua Tengah, Gereja Katolik Sugapa tetap tegak berdiri sebagai institusi yang paling dipercaya oleh masyarakat. Ia adalah penjaga memori kolektif tentang masa lalu yang sulit, sekaligus mercu suar harapan bagi masa depan anak-anak Intan Jaya.

Sebagai sebuah situs sejarah, Gereja Katolik Sugapa menawarkan perspektif mendalam tentang bagaimana sebuah bangunan keagamaan mampu menjadi katalisator bagi perubahan peradaban di salah satu wilayah paling terpencil di dunia. Keberadaannya adalah bukti nyata bahwa sejarah tidak hanya ditulis dalam buku, tetapi dipahat dalam batu, kayu, dan keyakinan masyarakat yang mendiami puncak-puncak pegunungan Papua.

📋 Informasi Kunjungan

address
Pusat Kota Sugapa, Kabupaten Intan Jaya
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Intan Jaya

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Intan Jaya

Pelajari lebih lanjut tentang Intan Jaya dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Intan Jaya