Situs Sejarah

Monumen Pancasila Sakti

di Jakarta Timur, Jakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Monumen Pancasila Sakti: Abstraksi Perjuangan dan Memori Kolektif Bangsa

Monumen Pancasila Sakti berdiri sebagai salah satu situs sejarah paling krusial di Indonesia, menjadi saksi bisu dari peristiwa kelam yang mengubah haluan politik nasional. Terletak di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, monumen ini bukan sekadar struktur beton dan perunggu, melainkan sebuah narasi visual tentang kesetiaan terhadap ideologi negara. Situs ini dibangun untuk mengenang perjuangan para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S).

#

Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan

Pembangunan Monumen Pancasila Sakti diinisiasi tak lama setelah situasi politik Indonesia mulai stabil di bawah pemerintahan Orde Baru. Proyek ini dimulai pada pertengahan tahun 1967 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Oktober 1973, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila. Pemilihan lokasi di Lubang Buaya didasarkan pada fakta sejarah bahwa kawasan ini merupakan basis pelatihan Pemuda Rakyat dan Gerwani yang berafiliasi dengan PKI, serta menjadi tempat pembuangan jenazah para perwira TNI AD yang diculik.

Kawasan ini mencakup lahan seluas kurang lebih 14,6 hektar. Sebelum menjadi monumen, tempat ini hanyalah sebuah tanah kosong dan pemukiman penduduk yang terpencil di pinggiran Jakarta. Transformasi lahan ini menjadi situs memorial bertujuan untuk menciptakan ruang pengingat (memorial space) agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Monumen Pancasila Sakti mengadopsi gaya realisme sosialis yang dipadukan dengan simbolisme nasionalis. Ikon utama dari kompleks ini adalah dinding melengkung setinggi 17 meter yang di atasnya berdiri tujuh patung perunggu Pahlawan Revolusi. Patung-patung tersebut adalah Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta Suprapto, Letjen TNI Anumerta S. Parman, Letjen TNI Anumerta M.T. Haryono, Majjen TNI Anumerta DI Panjaitan, Majjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Czi Anumerta Pierre Tendean.

Di belakang barisan patung tersebut, terdapat dinding monumental dengan relief yang membentang sepanjang 50 meter. Relief ini memahat kronologi peristiwa secara visual, mulai dari kondisi masyarakat sebelum pemberontakan, proses kudeta, hingga penumpasan gerakan tersebut oleh TNI. Di atas dinding patung, terdapat simbol burung Garuda Pancasila dengan sayap terkembang, melambangkan perlindungan ideologi negara terhadap ancaman apapun.

Konstruksi patung dikerjakan oleh maestro pematung Indonesia, Edhi Sunarso, yang juga dikenal lewat karya-karya ikonik lainnya seperti Monumen Selamat Datang. Penggunaan material perunggu berkualitas tinggi memastikan detail wajah dan seragam para pahlawan terlihat sangat presisi dan ekspresif.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Nilai historis utama dari Monumen Pancasila Sakti terletak pada keberadaan Sumur Maut. Sumur tua dengan kedalaman sekitar 12 meter dan diameter 75 centimeter ini adalah tempat di mana jenazah para perwira ditemukan pada 4 Oktober 1965. Penemuan sumur ini menjadi titik balik dalam sejarah Indonesia, yang memicu reaksi besar-besaran terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI).

Selain sumur, terdapat tiga bangunan asli yang dipertahankan fungsinya sebagai museum ruang terbuka:

1. Rumah Penyiksaan: Sebuah gubuk kecil yang digunakan oleh pasukan pemberontak untuk melakukan interogasi dan penyiksaan terhadap para perwira.

2. Pos Komando: Rumah penduduk milik warga bernama Bambang Harjono yang diambil alih sebagai pusat koordinasi pelaksanaan operasi penculikan.

3. Dapur Umum: Fasilitas yang digunakan untuk menyediakan logistik bagi para pasukan pendukung gerakan tersebut.

Situs ini juga menyimpan sisa-sisa kendaraan bersejarah, seperti mobil dinas Jenderal Ahmad Yani dan kendaraan lapis baja yang digunakan untuk mengangkut jenazah menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata.

#

Tokoh Penting dan Koleksi Museum

Selain ketujuh Pahlawan Revolusi, situs ini juga memberikan penghormatan kepada Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiyono yang gugur di Yogyakarta dalam peristiwa yang sama. Di dalam kompleks monumen, terdapat dua museum utama: Museum Pengkhianatan PKI (Komunisme) dan Museum Monumen Pancasila Sakti.

Museum Pengkhianatan PKI berisi puluhan diorama yang menggambarkan berbagai upaya pemberontakan di berbagai daerah di Indonesia sejak tahun 1945 hingga 1965. Sementara itu, Museum Monumen Pancasila Sakti lebih fokus pada artefak pribadi para pahlawan, termasuk pakaian terakhir yang mereka kenakan saat diculik, yang masih menyisakan noda darah dan bekas peluru. Keberadaan benda-benda personal ini memberikan dampak emosional yang kuat bagi para pengunjung.

#

Pelestarian dan Status Konservasi

Sebagai Situs Cagar Budaya nasional, Monumen Pancasila Sakti dikelola dengan sangat ketat oleh Pusat Sejarah TNI. Upaya pelestarian mencakup perawatan rutin terhadap patung perunggu agar terhindar dari korosi, serta konservasi bangunan-bangunan kayu asli agar tetap kokoh meskipun telah berusia lebih dari setengah abad. Pencahayaan dramatis dipasang di sekitar area sumur dan monumen untuk memberikan suasana khidmat, terutama pada saat upacara kenegaraan.

Restoran dan renovasi dilakukan secara berkala pada bagian museum tanpa mengubah struktur asli bangunan sejarah yang ada. Digitalisasi narasi juga mulai diterapkan untuk menarik minat generasi muda dalam mempelajari sejarah melalui teknologi multimedia di dalam museum.

#

Makna Kultural dan Edukasi

Bagi masyarakat Indonesia, Monumen Pancasila Sakti bukan sekadar objek wisata sejarah, melainkan tempat ziarah ideologis. Setiap tanggal 1 Oktober, tempat ini menjadi pusat perhatian nasional karena Presiden Republik Indonesia memimpin upacara Hari Kesaktian Pancasila di lapangan utama monumen ini.

Secara kultural, situs ini berfungsi sebagai "memento mori" bagi bangsa Indonesia tentang bahaya disintegrasi. Meskipun narasi sejarah yang ditampilkan sering menjadi subjek diskusi akademis yang mendalam, monumen ini tetap berdiri sebagai simbol kedaulatan negara. Pengunjung yang datang, mulai dari pelajar hingga masyarakat umum, diharapkan dapat menyerap nilai patriotisme dan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

#

Fakta Unik dan Detail Spesifik

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa sumur tempat pembuangan jenazah tersebut awalnya merupakan sumur air penduduk yang sudah kering. Kedalamannya yang sempit membuat proses evakuasi jenazah pada tahun 1965 menjadi sangat sulit dan dilakukan oleh satuan elit KIPAM (sekarang Taifib) Korps Marinir TNI AL. Selain itu, pohon-pohon karet yang ada di sekitar lokasi merupakan vegetasi asli yang dipertahankan untuk menjaga atmosfer asli kawasan Lubang Buaya pada tahun 1965, menciptakan suasana yang sunyi dan mencekam yang kontras dengan hiruk-pikuk kota Jakarta di luar tembok monumen.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur
entrance fee
Rp 5.000 per orang
opening hours
Selasa - Minggu, 08:00 - 15:30

Tempat Menarik Lainnya di Jakarta Timur

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jakarta Timur

Pelajari lebih lanjut tentang Jakarta Timur dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jakarta Timur