Situs Sejarah

Balla Lompoa Turatea

di Jeneponto, Sulawesi Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Kerajaan Binamu: Menelusuri Sejarah Balla Lompoa Turatea

Balla Lompoa Turatea bukan sekadar bangunan kayu yang berdiri kokoh di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Situs sejarah ini merupakan manifestasi fisik dari kejayaan Kerajaan Binamu, salah satu kerajaan lokal paling berpengaruh di wilayah selatan semenanjung Sulawesi. Sebagai "Rumah Besar" (arti harfiah dari Balla Lompoa), bangunan ini menyimpan memori kolektif masyarakat Turatea tentang kedaulatan, struktur sosial, dan perlawanan terhadap kolonialisme.

#

Asal-Usul dan Pendirian Kerajaan Binamu

Secara historis, Balla Lompoa Turatea berfungsi sebagai istana atau kediaman resmi bagi Raja-Raja Binamu yang bergelar Tutauluang ri Binamu. Kerajaan Binamu sendiri muncul sebagai kekuatan politik yang signifikan setelah pecahnya konfederasi kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Turatea. Pembangunan istana ini diperkirakan mencapai bentuk puncaknya pada masa pemerintahan Raja Binamu ke-22, Mattewakkang Daeng Raja, yang memerintah di awal abad ke-20.

Nama "Turatea" sendiri merujuk pada identitas kultural masyarakat setempat yang berarti "orang atas" atau orang yang bermukim di dataran tinggi, untuk membedakannya dengan masyarakat pesisir atau kerajaan tetangga. Istana ini didirikan sebagai simbol pemersatu klan-klan di bawah payung Kerajaan Binamu yang dikenal memiliki karakter masyarakat yang keras, pemberani, namun sangat menjunjung tinggi kehormatan (Siri’).

#

Arsitektur Khas dan Filosofi Konstruksi

Balla Lompoa Turatea adalah mahakarya arsitektur tradisional Makassar yang murni. Berbeda dengan rumah panggung masyarakat umum, istana ini memiliki skala yang jauh lebih besar dan detail yang lebih rumit. Konstruksi utamanya menggunakan kayu jati dan kayu besi (kayu bayam) berkualitas tinggi yang mampu bertahan selama ratusan tahun.

Struktur bangunan mengikuti konsep Sulapa Appaka (Empat Sisi), yang merepresentasikan empat elemen alam: api, air, angin, dan tanah. Ciri khas yang paling mencolok adalah Timpalaja (hiasan pada segitiga atap). Jumlah tingkatan pada Timpalaja di Balla Lompoa Turatea menunjukkan kasta atau status sosial penghuninya; sebagai istana raja, ia memiliki tingkatan maksimal (biasanya lima tingkat) yang menandakan kekuasaan tertinggi.

Interior istana dibagi menjadi beberapa bagian utama:

1. Selasar (Teras): Tempat penerimaan tamu umum.

2. Kale Balla (Ruang Utama): Ruang luas tanpa sekat permanen yang digunakan untuk musyawarah adat atau upacara kerajaan.

3. Paddakkang: Kamar-kamar khusus bagi keluarga kerajaan dan penyimpanan benda pusaka.

4. Balla Rate: Bagian loteng yang dahulu digunakan untuk menyimpan cadangan pangan atau sebagai tempat perlindungan bagi putri-putri raja saat terjadi konflik.

Keunikan lainnya terletak pada sambungan kayunya yang tidak menggunakan paku besi, melainkan pasak kayu, yang memungkinkan bangunan tetap fleksibel namun kokoh saat terjadi gempa bumi.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Balla Lompoa Turatea merupakan saksi bisu transisi kekuasaan dari sistem kerajaan tradisional menuju administrasi kolonial Hindia Belanda, hingga akhirnya bergabung dengan Republik Indonesia. Salah satu peristiwa paling bersejarah yang terkait dengan situs ini adalah perlawanan rakyat Binamu terhadap kebijakan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) Belanda.

Pada masa pendudukan, istana ini menjadi pusat diplomasi sekaligus koordinasi strategi tempur. Para pejuang Turatea sering menggunakan area sekitar istana sebagai titik kumpul sebelum melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda di wilayah Jeneponto. Keberadaan istana ini memberikan legitimasi moral bagi rakyat Turatea bahwa simbol kedaulatan mereka belum runtuh meski di bawah tekanan asing.

#

Tokoh Utama dan Pusaka Kerajaan

Nama Mattewakkang Daeng Raja adalah sosok yang paling melekat dengan pelestarian Balla Lompoa Turatea. Sebagai Raja Binamu terakhir yang memerintah secara penuh, beliau berperan penting dalam menjaga marwah istana di tengah perubahan zaman.

Di dalam Balla Lompoa, tersimpan berbagai Kalompoang atau benda-benda kebesaran kerajaan yang dianggap sakral. Pusaka-pusaka tersebut meliputi Ponto Jonga (gelang emas berbentuk rusa), keris-keris bertatahkan permata, payung kebesaran, hingga naskah kuno Lontara yang mencatat silsilah raja-raja Binamu. Benda-benda ini tidak hanya dipandang sebagai benda antik, tetapi diyakini memiliki kekuatan spiritual yang melindungi wilayah Jeneponto.

#

Upacara Adat dan Fungsi Budaya

Hingga saat ini, Balla Lompoa Turatea masih menjadi pusat pelaksanaan upacara adat Accera Kalompoang. Ritual ini adalah prosesi pencucian benda-benda pusaka kerajaan yang dilakukan setiap tahun, biasanya bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Upacara ini melibatkan para pemangku adat (Perangkat Adat 12) dan dihadiri oleh keturunan raja-raja dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Prosesi ini bukan sekadar pembersihan fisik senjata, melainkan simbol penyucian diri bagi masyarakat Turatea dan penghormatan terhadap leluhur. Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar pada acara ini membuktikan bahwa nilai-nilai kebangsawanan dan tradisi Binamu masih berakar kuat dalam identitas modern masyarakat Jeneponto.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Balla Lompoa Turatea telah mengalami beberapa kali renovasi untuk menjaga keaslian strukturnya. Tantangan terbesar dalam pelestarian situs ini adalah pelapukan kayu akibat cuaca ekstrem di Jeneponto yang cenderung panas dan kering.

Pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto bersama Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah setempat terus berupaya menjadikan Balla Lompoa sebagai destinasi wisata sejarah unggulan. Penataan lingkungan sekitar istana, pembangunan museum kecil untuk memamerkan artefak, serta digitalisasi naskah Lontara adalah beberapa langkah konkret yang diambil. Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak mengubah bentuk asli dan detail ukiran yang memiliki makna filosofis mendalam.

#

Kesimpulan

Balla Lompoa Turatea adalah monumen keteguhan hati masyarakat Jeneponto. Ia berdiri sebagai pengingat bahwa di tanah Turatea, pernah ada sebuah peradaban yang mampu memadukan kearifan lokal, ketangkasan arsitektur, dan keberanian politik. Menjaga Balla Lompoa berarti menjaga ruh perjuangan dan identitas kultural yang akan terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai fondasi pembangunan karakter bangsa.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto
entrance fee
Sukarela
opening hours
Senin - Sabtu, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Jeneponto

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Jeneponto

Pelajari lebih lanjut tentang Jeneponto dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Jeneponto