Situs Sejarah

Masjid Agung Kendal

di Kendal, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Syiar Islam: Sejarah dan Arsitektur Masjid Agung Kendal

Masjid Agung Kendal bukan sekadar bangunan peribadatan bagi masyarakat Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia merupakan saksi bisu perjalanan sejarah Islam di pesisir utara Jawa, sebuah monumen perlawanan terhadap kolonialisme, serta pusat peradaban yang mempertemukan nilai-nilai spiritual dengan kearifan lokal. Terletak tepat di jantung kota, berhadapan dengan Alun-alun Kendal, masjid ini menjadi poros utama kehidupan religius dan sosial masyarakat sejak berabad-abad silam.

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Masjid Agung Kendal memiliki akar sejarah yang sangat tua, yang merujuk pada masa keemasan Kesultanan Mataram Islam. Berdasarkan catatan sejarah lokal dan tradisi lisan yang terjaga, masjid ini didirikan sekitar tahun 1493 Masehi atau pada abad ke-15. Sosok sentral di balik berdirinya tempat suci ini adalah Raden Hamzah, yang lebih dikenal dengan gelar Sunan Katong. Beliau merupakan seorang ulama sekaligus tokoh pemerintahan yang diutus untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Kaliwungu dan sekitarnya.

Pembangunan masjid ini tidak lepas dari peran para wali dan ulama penyebar Islam di tanah Jawa. Konon, lokasi masjid ini dipilih karena letaknya yang strategis di jalur transportasi utama masa itu. Sejak awal berdirinya, Masjid Agung Kendal difungsikan sebagai pusat pendidikan Islam (pesantren) dan tempat berkumpulnya para pejuang dalam mengatur strategi melawan pengaruh asing yang mulai merambah pesisir Jawa.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Masjid Agung Kendal menyajikan perpaduan harmonis antara gaya tradisional Jawa dan sentuhan perkembangan zaman. Struktur bangunan utamanya mengikuti pola "Tajug" atau atap tumpang, yang merupakan ciri khas masjid-masjid kuno di Jawa. Atap tumpang tiga ini memiliki filosofi mendalam dalam Islam, yang melambangkan tiga tingkatan spiritualitas: Iman, Islam, dan Ihsan.

Salah satu keunikan yang paling menonjol dan masih terjaga keasliannya adalah keberadaan 16 tiang penyangga utama (saka guru) yang terbuat dari kayu jati pilihan. Kayu-kayu ini konon didatangkan langsung dari hutan jati di wilayah Kendal selatan yang terkenal kuat. Berbeda dengan masjid modern yang menggunakan beton, tiang-tiang kayu ini memberikan kesan hangat dan kokoh, mencerminkan ketangguhan masyarakat lokal.

Pintu utama masjid dihiasi dengan ukiran khas motif tumbuhan dan kaligrafi Arab yang halus, menunjukkan kemahiran pengrajin lokal masa lalu. Di bagian interior, terdapat mimbar khutbah yang merupakan benda cagar budaya. Mimbar ini terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang sangat rumit, menyerupai gaya ukiran Jepara namun memiliki karakteristik motif Kendal yang lebih tegas.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Masjid Agung Kendal memegang peranan vital dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada masa pendudukan Belanda, masjid ini bukan hanya tempat salat, melainkan juga markas rahasia bagi para pejuang lokal. Salah satu peristiwa heroik yang berkaitan dengan situs ini adalah peran para ulama Kendal dalam menggerakkan massa untuk menolak kebijakan kerja paksa (Rodi) dan pajak yang memberatkan dari pemerintah kolonial.

Selain itu, masjid ini menjadi titik kumpul utama saat perayaan hari besar Islam yang dibalut dengan tradisi lokal, seperti tradisi "Syawalan" di Kaliwungu yang gaungnya sampai ke Masjid Agung. Pada masa lalu, halaman masjid ini sering digunakan sebagai tempat pengadilan agama untuk memutus perkara-perkara kemasyarakatan berdasarkan hukum Islam yang diselaraskan dengan adat setempat.

#

Tokoh-Tokoh Terkait

Selain Sunan Katong, nama lain yang sangat lekat dengan Masjid Agung Kendal adalah Kyai Guru atau KH Asy'ari. Beliau adalah ulama besar yang merevitalisasi fungsi masjid sebagai pusat literasi Islam di abad ke-19. Pengaruhnya membuat Kendal dikenal sebagai "Kota Santri". Para ulama pengurus masjid secara turun-temurun menjaga sanad keilmuan yang tersambung hingga ke kota suci Makkah, menjadikan masjid ini referensi utama bagi perkembangan hukum Islam di Jawa Tengah bagian utara.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai situs sejarah yang masih aktif digunakan, Masjid Agung Kendal telah mengalami beberapa kali renovasi untuk mengakomodasi jumlah jamaah yang terus meningkat. Namun, Pemerintah Kabupaten Kendal beserta pengelola yayasan masjid sangat berkomitmen menjaga keaslian struktur inti.

Restorasi besar dilakukan tanpa mengubah bentuk asli atap tumpang dan posisi tiang-tiang kayu jati. Bagian serambi diperluas dan lantai diganti dengan marmer berkualitas untuk kenyamanan, namun area pengimaman (mihrab) tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya. Statusnya sebagai cagar budaya memastikan bahwa setiap perubahan fisik harus melalui kajian mendalam agar tidak menghilangkan nilai historisnya. Saat ini, masjid juga dilengkapi dengan fasilitas museum mini yang menyimpan beberapa naskah kuno dan artefak peninggalan masa lalu.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Hingga saat ini, Masjid Agung Kendal tetap menjadi jantung spiritual bagi warga Kendal. Setiap hari Jumat, ribuan jamaah memadati masjid ini, menciptakan pemandangan religius yang megah. Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah keberadaan sumur kuno di kompleks masjid yang airnya diyakini masyarakat memiliki keberkahan dan tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang melanda.

Kegiatan rutin seperti pengajian kitab kuning, peringatan Maulid Nabi dengan pembacaan Al-Barzanji, serta tradisi buka puasa bersama selama bulan Ramadhan, terus dilakukan secara konsisten. Hal ini menjadikan Masjid Agung Kendal bukan sekadar museum yang mati, melainkan "sejarah yang bernapas". Ia adalah simbol identitas masyarakat Kendal yang memegang teguh prinsip Al-Muhafadzatu β€˜ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Melalui arsitekturnya yang megah dan sejarahnya yang panjang, Masjid Agung Kendal terus berdiri tegak sebagai pengingat akan kejayaan Islam di masa lalu sekaligus kompas moral bagi generasi masa depan di Jawa Tengah.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Pemuda No.1, Pegulon, Kec. Kendal, Kabupaten Kendal
entrance fee
Gratis / Sukarela
opening hours
24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Kendal

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kendal

Pelajari lebih lanjut tentang Kendal dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kendal