Gong Nekara Selayar
di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menguak Tabir Keagungan Gong Nekara Selayar: Jejak Peradaban Logam di Kepulauan Selayar
Kepulauan Selayar, yang terletak di ujung selatan Sulawesi Selatan, tidak hanya dikenal karena keindahan alam bawah lautnya, tetapi juga sebagai penyimpan rahasia peradaban prasejarah yang luar biasa. Salah satu artefak paling ikonik dan bernilai sejarah tinggi di wilayah ini adalah Gong Nekara Selayar. Sebagai situs sejarah (Situs Nekara), keberadaannya menjadi bukti vital mengenai jaringan perdagangan maritim kuno dan kemajuan teknologi metalurgi di Asia Tenggara.
#
Asal-Usul Historis dan Periode Pembuatan
Gong Nekara Selayar, atau yang sering disebut oleh penduduk setempat dengan nama *Pung Tongko-tongko*, diyakini berasal dari kebudayaan Dong Son yang berkembang di Lembah Sông Hồng, Vietnam Utara. Berdasarkan analisis arkeologis, benda ini diperkirakan dibuat dalam rentang waktu antara 600 SM hingga 200 Masehi, yang menandai puncak Zaman Perunggu di Asia Tenggara.
Keberadaan benda ini di Selayar pertama kali teridentifikasi secara luas oleh otoritas kolonial Belanda pada abad ke-19, meskipun masyarakat lokal telah mengeramatkannya selama berabad-abad sebelumnya. Penemuan ini memicu spekulasi sejarah mengenai bagaimana sebuah benda perunggu berukuran raksasa dari daratan Asia Tenggara dapat mendarat di pulau kecil di selatan Sulawesi. Para ahli sejarah sepakat bahwa Nekara ini merupakan komoditas prestisius dalam jalur perdagangan rempah-rempah kuno, di mana Selayar berfungsi sebagai titik singgah strategis bagi para pelaut yang berlayar dari barat menuju Kepulauan Maluku.
#
Detail Arsitektur dan Konstruksi Metalurgi
Secara fisik, Gong Nekara Selayar merupakan mahakarya seni logam. Nekara ini memiliki dimensi yang mengesankan dengan tinggi mencapai 92 cm dan diameter bidang pukul (bagian atas) sebesar 160 cm, menjadikannya salah satu nekara terbesar di dunia, bersaing dengan Nekara Bulan Pejeng di Bali.
Konstruksinya menggunakan teknik cire perdue (cetak lilin hilang). Detail hiasan pada permukaannya sangat spesifik dan memiliki nilai estetika tinggi:
1. Bidang Pukul: Di tengah-tengah bidang pukul terdapat motif bintang berujung 16, yang dikelilingi oleh pola hias geometris berupa garis-garis meander, tumpal, dan lingkaran konsentris.
2. Motif Flora dan Fauna: Salah satu ciri khas unik Nekara Selayar adalah adanya hiasan berbentuk burung bangau (pelikan) yang sedang terbang dan motif gajah. Kehadiran motif gajah sangat menarik karena hewan tersebut tidak pernah menjadi fauna asli Sulawesi, yang memperkuat teori bahwa benda ini merupakan barang impor dari daratan Asia.
3. Hiasan Katak: Pada bagian pinggir bidang pukul, terdapat empat patung katak kecil yang berdiri secara tiga dimensi (plastis). Dalam kosmologi masyarakat agraris kuno, katak merupakan simbol pemanggil hujan dan kesuburan.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Situs Gong Nekara Selayar bukan sekadar tempat penyimpanan artefak, melainkan simbol kedaulatan dan diplomasi masa lalu. Dalam Catatan pelaut Belanda dan manuskrip lokal, keberadaan Nekara sering dikaitkan dengan kedatangan pengaruh luar di Selayar. Terdapat legenda lokal yang menyebutkan bahwa Nekara ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang petani bernama Sabuna di daerah Matalalang pada tahun 1686 saat ia sedang menggarap ladangnya.
Secara politis, penguasaan atas Nekara ini di masa lalu sering kali dikaitkan dengan hegemoni kekuasaan lokal. Pada masa pemerintahan kerajaan-kerajaan di Selayar, Nekara dianggap sebagai pusaka kedatuan yang memiliki kekuatan supranatural. Keberadaannya membuktikan bahwa Selayar telah terlibat dalam jaringan perdagangan internasional jauh sebelum bangsa Eropa tiba di nusantara, berfungsi sebagai koridor penting dalam jalur sutra maritim.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Meskipun identitas pembuat aslinya di Vietnam tidak diketahui, dalam konteks lokal Selayar, benda ini erat kaitannya dengan periode Kerajaan Putabangun. Nekara ini disimpan di bawah pengawasan tetua adat dan penguasa lokal secara turun-temurun. Pada masa kolonial, pejabat Belanda seperti J.G.F. Riedel dan para peneliti dari Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memberikan perhatian khusus pada benda ini, yang kemudian mengangkat nama Selayar dalam peta arkeologi dunia.
#
Kepentingan Budaya dan Religi
Bagi masyarakat Kepulauan Selayar, Gong Nekara bukan sekadar benda logam mati. Hingga saat ini, Nekara tersebut memiliki kedudukan sakral. Dalam tradisi lisan, Nekara dianggap sebagai instrumen ritual untuk memohon hujan (Rain Drum). Suara yang dihasilkan dari tabuhan nekara diyakini mampu menembus alam langit dan berkomunikasi dengan kekuatan supranatural untuk menjamin keberhasilan panen dan keselamatan para nelayan.
Secara budaya, motif-motif yang terdapat pada Nekara seperti pola geometris dan bentuk bintang telah menginspirasi berbagai motif kain tenun dan seni ukir lokal di Sulawesi Selatan. Ia menjadi identitas kolektif masyarakat Selayar yang melambangkan kemakmuran dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan leluhur.
#
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Saat ini, Gong Nekara Selayar dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Artefak ini ditempatkan di sebuah bangunan khusus yang berfungsi sebagai museum situs di Kelurahan Bontobangun, Kecamatan Bontoharu.
Upaya pelestarian menghadapi tantangan besar karena faktor usia dan oksidasi logam perunggu (patina hijau). Pemerintah telah melakukan beberapa kali upaya pembersihan dan konservasi kimiawi untuk mencegah korosi lebih lanjut. Situs ini sekarang telah ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pengamanan diperketat mengingat nilai sejarah dan materialnya yang tak ternilai, serta untuk menjaga agar artefak ini tetap berada di lokasi aslinya sebagai bagian dari konteks sejarah lokal.
#
Fakta Unik dan Penutup
Satu fakta unik yang membedakan Nekara Selayar dengan nekara lainnya adalah adanya relief bergambar kapal kuno yang sangat mendetail di bagian badannya. Gambar kapal ini memberikan informasi berharga bagi para sejarawan mengenai teknologi perkapalan pada masa awal Masehi. Selain itu, ukuran diameternya yang mencapai 1,6 meter menjadikannya spesimen tipe Heger I yang paling terawat dan terbesar di wilayah Indonesia Timur.
Gong Nekara Selayar tetap berdiri sebagai monumen bisu dari megahnya peradaban logam dan luasnya jangkauan pelayaran nenek moyang. Keberadaannya di Selayar adalah testimoni bahwa pulau ini pernah menjadi episentrum pertukaran budaya global yang menghubungkan daratan Asia dengan kepulauan Nusantara dalam harmoni perdagangan dan kepercayaan.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Kepulauan Selayar
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Kepulauan Selayar
Pelajari lebih lanjut tentang Kepulauan Selayar dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Kepulauan Selayar