Benteng De Verwachting
di Kepulauan Sula, Maluku Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kolonial di Ujung Sula: Sejarah dan Kejayaan Benteng De Verwachting
Benteng De Verwachting berdiri sebagai saksi bisu ambisi kolonialisme Eropa di wilayah Maluku Utara, khususnya di Kepulauan Sula. Berlokasi strategis di Sanana, benteng ini bukan sekadar tumpukan batu karang dan semen kuno, melainkan manifestasi dari perebutan jalur rempah yang pernah membakar semangat bangsa-bangsa Barat untuk menguasai Nusantara. Nama "De Verwachting" yang berasal dari bahasa Belanda berarti "Harapan," mencerminkan optimisme Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dalam mengamankan pengaruh ekonomi dan politik mereka di wilayah timur Indonesia.
#
Latar Belakang dan Pendirian (Abad ke-18)
Pendirian Benteng De Verwachting berkaitan erat dengan kebijakan monopoli rempah-rempah oleh Belanda. Pada abad ke-17 dan ke-18, Kepulauan Sula merupakan wilayah strategis yang menghubungkan jalur pelayaran antara Ternate, Tidore, dan wilayah Ambon serta Makassar. VOC merasa perlu membangun pos pertahanan permanen untuk mengawasi pergerakan kapal-kapal pribumi maupun pesaing Eropa lainnya.
Pembangunan benteng ini tercatat dimulai pada tahun 1734 di bawah instruksi Gubernur Jenderal Belanda saat itu. Pemilihan lokasi di Sanana didasarkan pada posisi geografisnya yang terlindungi dari ombak besar namun memiliki pandangan luas ke arah laut lepas. Pembangunan ini juga bertujuan untuk menekan pengaruh Kesultanan Ternate dan Tidore yang terkadang memiliki hubungan pasang-surut dengan Belanda, serta untuk memastikan bahwa penduduk lokal tetap berada di bawah kendali administratif kolonial.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Benteng De Verwachting mengadopsi gaya benteng pertahanan Eropa abad pertengahan yang disesuaikan dengan kondisi tropis. Material utama yang digunakan adalah batu karang (coral stone) yang diambil dari pesisir pantai sekitar Sula, dipadukan dengan campuran kapur, pasir, dan putih telur sebagai perekat tradisional yang terbukti sangat kuat melintasi zaman.
Bentuk dasar benteng ini adalah persegi empat dengan empat bastion (menara pengintai) di setiap sudutnya. Bastion-bastion ini dirancang untuk menempatkan meriam-meriam berat guna menghalau serangan dari arah laut maupun darat. Dindingnya memiliki ketebalan yang cukup signifikan, mencapai lebih dari satu meter di beberapa titik, untuk meredam hantaman peluru meriam musuh. Di dalam kompleks benteng, awalnya terdapat berbagai bangunan fungsional seperti barak prajurit, gudang penyimpanan rempah, rumah komandan, dan ruang tahanan. Salah satu ciri khas unik dari De Verwachting adalah adanya sistem drainase kuno yang terintegrasi dengan struktur bangunan untuk mencegah banjir saat musim hujan tropis yang ekstrem di Kepulauan Sula.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Benteng De Verwachting memainkan peran kunci sebagai pusat administratif kolonial di Kepulauan Sula. Selama masa kejayaannya, benteng ini berfungsi sebagai pos pengumpul (collecting point) untuk komoditas seperti kelapa, hasil laut, dan kayu, sebelum dikirim ke pusat-pusat perdagangan besar.
Salah satu peristiwa sejarah yang mencolok adalah penggunaan benteng ini sebagai basis pertahanan selama masa pergolakan lokal. Masyarakat Sula dikenal memiliki semangat perlawanan yang tinggi terhadap praktik monopoli. Benteng ini sering menjadi target pengepungan oleh para pejuang lokal yang merasa dirugikan oleh kebijakan pajak dan kerja paksa Belanda. Selain itu, pada masa Perang Dunia II, struktur benteng ini sempat dimanfaatkan oleh pasukan pendudukan Jepang sebagai basis pertahanan udara dan komunikasi karena letaknya yang strategis di bibir pantai sebelum akhirnya kembali ke tangan sekutu dan pemerintah Indonesia.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Beberapa tokoh penting dalam sejarah kolonial Belanda di Maluku pernah menginjakkan kaki di sini, termasuk para Gubernur Maluku yang melakukan inspeksi rutin. Namun, yang lebih menarik adalah keterkaitan benteng ini dengan relasi antara Belanda dan para penguasa lokal (Jogugu). Benteng ini menjadi tempat negosiasi diplomatik sekaligus simbol intimidasi militer terhadap para pemimpin tradisional di Sula.
Selama periode kolonial akhir, De Verwachting juga berfungsi sebagai penjara bagi tahanan politik dan pembangkang yang dianggap berbahaya bagi stabilitas VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Hal ini menambah dimensi kelam sekaligus heroik dalam narasi sejarah benteng ini, di mana banyak pejuang anonim pernah mendekam di balik dinding batu karangnya.
#
Status Pelestarian dan Restorasi
Saat ini, Benteng De Verwachting telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya nasional di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXI. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula bersama pemerintah pusat telah melakukan beberapa kali upaya pemugaran untuk menyelamatkan struktur bangunan dari kerusakan alami akibat abrasi air laut dan pertumbuhan vegetasi yang merusak dinding batu.
Meskipun beberapa bagian interior benteng telah hancur atau hilang, struktur utama dinding luar dan bastion masih berdiri dengan kokoh. Area di sekitar benteng kini telah ditata menjadi ruang publik yang rapi, menjadikannya ikon wisata sejarah utama di Sanana. Upaya konservasi terus difokuskan pada pembersihan lumut dan penguatan fondasi agar situs ini tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang sebagai sarana edukasi sejarah.
#
Kepentingan Budaya dan Wisata
Bagi masyarakat Kepulauan Sula, Benteng De Verwachting bukan sekadar peninggalan penjajah, melainkan identitas daerah yang tak terpisahkan. Keberadaan benteng ini telah membentuk pola pemukiman di Sanana, di mana pusat kota berkembang di sekitar luar tembok benteng. Secara budaya, situs ini sering menjadi lokasi pelaksanaan berbagai festival budaya daerah, seperti Festival Kalesang Sula, yang bertujuan untuk mempromosikan warisan luhur sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga situs bersejarah.
Secara visual, benteng ini menawarkan estetika klasik yang kontras dengan perkembangan modern di sekitarnya. Meriam-meriam kuno yang masih tersisa di atas bastion menjadi daya tarik utama bagi fotografer dan wisatawan sejarah. Keberadaan benteng ini memberikan bukti otentik bahwa Kepulauan Sula pernah menjadi titik penting dalam percaturan ekonomi global berabad-abad yang lalu.
#
Kesimpulan
Benteng De Verwachting adalah monumen ketangguhan dan memori kolektif yang mendalam di Maluku Utara. Dari dinding batu karangnya yang kasar hingga sisa-sisa bastion yang menghadap ke laut, tersimpan narasi tentang ambisi, perlawanan, dan harapan. Melalui pelestarian yang berkelanjutan, De Verwachting akan terus berdiri sebagai pengingat bagi bangsa Indonesia tentang panjangnya perjuangan merebut kedaulatan di kepulauan rempah-rempah yang berharga ini. Menjaga benteng ini berarti menjaga potongan puzzle sejarah Nusantara agar tetap utuh dan dapat dipelajari oleh anak cucu bangsa.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Kepulauan Sula
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Kepulauan Sula
Pelajari lebih lanjut tentang Kepulauan Sula dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Kepulauan Sula