Situs Sejarah

Kerta Gosa

di Klungkung, Bali

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-usul Historis dan Pendirian

Pembangunan Kerta Gosa terkait erat dengan peristiwa politik besar di Bali pada abad ke-17. Setelah hancurnya Kerajaan Gelgel akibat pemberontakan Maruti pada tahun 1651, I Dewa Agung Jambe, putra mahkota dari dinasti tersebut, berhasil merebut kembali kekuasaan dan memindahkan pusat pemerintahan ke Klungkung pada tahun 1686. Di sinilah Puri Agung Semarapura didirikan.

Kerta Gosa sendiri diperkirakan dibangun bersamaan dengan kompleks puri tersebut. Nama "Kerta Gosa" berasal dari bahasa Sanskerta; Kerta yang berarti damai atau aman, dan Gosa (dari kata Gosita) yang berarti diumumkan atau dibicarakan. Secara etimologis, tempat ini berfungsi sebagai balai di mana raja bersama para pendeta (pedanda) membahas masalah hukum, keamanan, dan keadilan bagi rakyatnya.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Kompleks Kerta Gosa terdiri dari dua bangunan utama yang berdiri di atas kolam teratai: Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Arsitektur keduanya mencerminkan gaya tradisional Bali yang sangat kental dengan penggunaan batu padas, bata merah, dan kayu ukir.

Bale Kerta Gosa terletak di sisi timur laut, memiliki bentuk bangunan tanpa dinding (balai terbuka) yang ditopang oleh tiang-tiang kayu yang berdiri di atas struktur batur (landasan) yang tinggi. Namun, keunikan paling mencolok terletak pada langit-langitnya. Alih-alih menggunakan plafon polos, langit-langit Bale Kerta Gosa dihiasi dengan ribuan lukisan gaya Wayang Kamasan.

Bale Kambang, bangunan kedua yang dikelilingi oleh kolam (Taman Gili), menampilkan kemegahan serupa namun dengan skala yang lebih luas. Bangunan ini dahulu digunakan sebagai tempat upacara keagamaan keluarga kerajaan, seperti upacara potong gigi (Metatah), serta tempat menerima tamu-tamu penting kerajaan.

Keunikan Lukisan Wayang Kamasan

Salah satu fakta sejarah yang paling unik dari Kerta Gosa adalah narasi visual yang terpampang di langit-langitnya. Lukisan-lukisan ini disusun dalam baris-baris horizontal yang membacanya dilakukan secara berurutan. Lukisan ini tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi sebagai instrumen pendidikan moral dan hukum.

Terdapat beberapa fragmen cerita utama yang digambarkan, antara lain:

1. Tantra: Cerita tentang binatang yang mengandung pesan moral.

2. Bima Swarga: Perjalanan Bima ke neraka untuk membebaskan orang tuanya. Bagian ini sangat mendetail dalam menggambarkan hukuman-hukuman di akhirat bagi mereka yang melanggar hukum di dunia, seperti pencuri yang tangannya dipotong atau pezina yang direbus di kawah.

3. Palelintangan: Astrologi tradisional Bali yang menggambarkan watak manusia berdasarkan hari lahir.

Gaya Kamasan yang digunakan dicirikan dengan garis-garis tegas, pewarnaan alami (dari batu-batuan dan akar tumbuhan), serta perspektif dua dimensi yang menyerupai pewayangan di Jawa Timur pada masa Majapahit.

Signifikansi Sejarah: Pusat Peradilan Utama

Pada masa kejayaan Kerajaan Klungkung, Kerta Gosa berfungsi sebagai Mahkamah Agung atau tempat peradilan tertinggi di Bali. Di sini, Raja Klungkung (yang diakui sebagai Susuhunan atau raja tertinggi di antara raja-raja Bali lainnya) memimpin persidangan didampingi oleh para pemutus hukum dari kalangan Brahmana.

Menariknya, fungsi hukum ini tetap dipertahankan oleh pemerintah kolonial Belanda setelah Klungkung jatuh dalam Perang Puputan Klungkung pada 28 April 1908. Belanda, yang menghormati tradisi lokal demi stabilitas politik, menggunakan Kerta Gosa sebagai tempat pengadilan adat hingga tahun 1942. Meja dan kursi kayu berukir yang digunakan oleh para hakim Belanda dan jaksa pribumi masih tersimpan di dalam Bale Kerta Gosa sebagai bukti sejarah transisi hukum ini.

Tokoh Penting dan Peristiwa Puputan

Nama I Dewa Agung Jambe adalah sosok sentral dalam pendirian situs ini. Namun, tokoh yang paling heroik dalam sejarah Klungkung adalah I Dewa Agung Jambe II, raja terakhir yang gugur dalam perang Puputan Klungkung tahun 1908. Saat serangan artileri Belanda menghancurkan sebagian besar kompleks Puri Semarapura, Kerta Gosa dan Bale Kambang adalah sedikit dari struktur yang tersisa dan tidak dihancurkan sepenuhnya, meskipun mengalami kerusakan berat.

Keberadaan Kerta Gosa saat ini menjadi pengingat akan titik akhir dari perlawanan bersenjata kerajaan-kerajaan Bali terhadap kolonialisme Belanda.

Pelestarian dan Restorasi

Seiring berjalannya waktu, lukisan di langit-langit Kerta Gosa yang awalnya dibuat di atas kain atau kayu sering mengalami kerusakan akibat kelembapan dan rayap. Restorasi besar pertama dilakukan pada tahun 1920-an oleh para seniman dari desa Kamasan di bawah pengawasan pemerintah kolonial.

Pada tahun 1960, diputuskan untuk mengganti medium lukisan dari kain menjadi lembaran asbes agar lebih tahan lama, namun tetap mempertahankan gaya asli Wayang Kamasan. Upaya konservasi terus dilakukan oleh Pemerintah Daerah Bali dan Balai Pelestarian Cagar Budaya untuk memastikan bahwa pigmen warna alami dan detail ukiran batu padas tidak tergerus oleh polusi dan cuaca.

Kepentingan Budaya dan Religius

Bagi masyarakat Bali, Kerta Gosa bukan sekadar objek wisata sejarah. Ia adalah representasi dari konsep Rwa Bhineda (keseimbangan antara baik dan buruk). Penggambaran siksaan di neraka dan kebahagiaan di surga dalam lukisan Bima Swarga berfungsi sebagai pengingat religius akan hukum karma.

Setiap sudut bangunan ini mencerminkan kosmologi Hindu-Bali, di mana penempatan bangunan, arah hadap, dan ornamen hiasan mengikuti aturan Asta Kosala Kosali. Kehadiran kolam di sekeliling Bale Kambang melambangkan lautan susu (Ksirarnawa) dalam mitologi Hindu, tempat pencarian air suci kehidupan (Amerta).

Hingga hari ini, Kerta Gosa berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk Kota Semarapura. Ia menjadi simbol identitas kuat warga Klungkung dan destinasi edukasi yang tak ternilai bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana keadilan ditegakkan dan bagaimana seni lukis klasik Bali mampu melampaui zaman sebagai medium komunikasi moral yang efektif.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Kenanga No.11, Semarapura Kelod, Kec. Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali
entrance fee
Rp 25.000 - Rp 50.000
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Klungkung

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Klungkung

Pelajari lebih lanjut tentang Klungkung dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Klungkung