Museum Konperensi Asia Afrika
di Kota Bandung, Jawa Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Museum Konperensi Asia Afrika: Monumen Diplomasi Global di Jantung Kota Bandung
Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA) bukan sekadar bangunan tua di sudut Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga, Kota Bandung. Ia adalah simbol kebangkitan bangsa-bangsa terjajah dan tonggak lahirnya kekuatan dunia ketiga. Sebagai bagian dari kompleks Gedung Merdeka, museum ini menyimpan memori kolektif tentang keberanian negara-negara di Asia dan Afrika untuk menentukan nasib mereka sendiri di tengah kecamuk Perang Dingin.
#
Asal-usul Bangunan dan Transformasi Fungsi
Sebelum dikenal sebagai tempat bersejarah bagi diplomasi internasional, gedung yang menjadi lokasi museum ini memiliki sejarah panjang yang bermula pada masa kolonial Belanda. Dibangun pertama kali pada tahun 1895, bangunan ini awalnya bernama Sociëteit Concordia. Pada masa itu, gedung ini berfungsi sebagai tempat rekreasi dan sosialisasi kaum elit Belanda di Bandung, terutama para pengusaha perkebunan (Preanger Planters) dan pejabat militer.
Pada tahun 1921, gedung ini mengalami renovasi besar-besaran oleh arsitek kenamaan C.P. Wolff Schoemaker. Kemudian, pada tahun 1940, bagian depan gedung kembali direnovasi dengan gaya yang lebih modern oleh arsitek A.F. Aalbers. Selama pendudukan Jepang (1942–1945), gedung ini berganti nama menjadi Dai Toa Kaikan dan digunakan sebagai pusat kebudayaan. Pasca kemerdekaan Indonesia, gedung ini berganti nama menjadi Gedung Merdeka dan ditetapkan oleh Presiden Soekarno sebagai lokasi konferensi internasional yang legendaris.
#
Arsitektur Art Deco yang Megah
Secara arsitektural, Museum Konperensi Asia Afrika merupakan salah satu contoh terbaik langgam Art Deco di Indonesia. Gaya ini terlihat jelas dari garis-garis geometris yang tegas, bentuk bangunan yang simetris, serta penggunaan material mewah pada masanya. Interior museum didominasi oleh lantai marmer Italia yang memberikan kesan dingin namun elegan, serta lampu gantung kristal yang menambah kemegahan ruang utama.
Salah satu fitur unik dari arsitektur gedung ini adalah ventilasi dan jendela besarnya yang dirancang untuk mengikuti iklim tropis Bandung yang sejuk. Struktur bangunan yang kokoh dengan dinding tebal mencerminkan fungsi awalnya sebagai tempat pertemuan eksklusif. Restorasi yang dilakukan selama bertahun-tahun tetap mempertahankan detail asli, termasuk kursi-kursi kayu jati dan tata letak ruang sidang yang digunakan para delegasi pada tahun 1955.
#
Peristiwa Bersejarah: Konferensi Asia Afrika 1955
Signifikansi sejarah utama dari situs ini adalah penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tanggal 18 hingga 24 April 1955. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah dunia, negara-negara yang baru merdeka dari penjajahan di dua benua berkumpul untuk menggalang persatuan. Konferensi ini dihadiri oleh 29 negara yang mewakili lebih dari setengah populasi dunia saat itu.
KAA menghasilkan "Dasasila Bandung", sepuluh poin pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerjasama dunia, yang mencakup penghormatan terhadap hak asasi manusia serta kedaulatan semua bangsa. Peristiwa ini menjadi inspirasi bagi gerakan kemerdekaan di seluruh benua Afrika dan menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Non-Blok (GNB) pada tahun 1961. Di dalam museum, pengunjung dapat melihat diorama yang menggambarkan suasana sidang, lengkap dengan bendera-bendera negara peserta dan mesin tik yang digunakan untuk menyusun draf deklarasi.
#
Tokoh-Tokoh Sentral di Balik Layar
Keberadaan Museum Konperensi Asia Afrika tidak lepas dari peran tokoh-tokoh besar dunia. Presiden Soekarno adalah inisiator utama yang ingin menunjukkan pada dunia bahwa Bandung adalah "Ibu Kota Asia-Afrika". Selain Soekarno, tokoh-tokoh seperti Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai, Gamal Abdel Nasser dari Mesir, dan U Nu dari Burma (Myanmar) adalah sosok-sosok yang suaranya menggema di ruangan ini.
Gagasan untuk mendirikan museum ini sendiri dicetuskan oleh Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Menteri Luar Negeri RI saat itu, menjelang peringatan 25 tahun KAA pada tahun 1980. Beliau menyadari pentingnya sebuah institusi permanen untuk melestarikan semangat Bandung bagi generasi muda. Museum ini kemudian diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 24 April 1980.
#
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Sebagai Situs Sejarah yang dilindungi, Museum Konperensi Asia Afrika berada di bawah pengelolaan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Upaya konservasi terus dilakukan secara berkala untuk menjaga integritas struktur bangunan dari kerusakan akibat usia dan cuaca.
Restorasi besar terakhir dilakukan menjelang peringatan 60 tahun KAA pada tahun 2015. Proses ini mencakup perbaikan tata cahaya, digitalisasi arsip-arsip sejarah, serta penataan ulang ruang pameran agar lebih interaktif. Meskipun telah mengalami modernisasi dalam hal fasilitas edukasi, keaslian elemen fisik seperti panggung utama di ruang sidang tetap dijaga ketat sesuai dengan kondisi aslinya pada tahun 1955.
#
Signifikansi Budaya dan Edukasi
Museum Konperensi Asia Afrika bukan hanya sekadar destinasi wisata sejarah, tetapi juga pusat studi dan diplomasi. Di dalamnya terdapat perpustakaan yang menyimpan koleksi buku-buku langka mengenai sejarah diplomasi, politik internasional, serta kebudayaan negara-negara di Asia dan Afrika. Museum ini secara rutin menyelenggarakan seminar, pameran foto, dan program "Sahabat Museum" untuk melibatkan komunitas lokal dan internasional.
Bagi masyarakat Bandung dan Indonesia, museum ini adalah simbol kebanggaan nasional. Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi sentral dalam peta politik dunia, mampu mempersatukan bangsa-bangsa yang berbeda latar belakang budaya dan agama demi satu tujuan: kemerdekaan dan perdamaian. Kehadiran museum ini di tengah Kota Bandung juga memperkuat identitas kota tersebut sebagai kota bersejarah yang memiliki pengaruh global yang abadi.
Hingga saat ini, Museum Konperensi Asia Afrika tetap berdiri tegak sebagai saksi bisu perjuangan diplomasi. Melalui koridor-koridornya yang sunyi namun sarat makna, semangat "The Spirit of Bandung" terus dihembuskan kepada setiap pengunjung, mengingatkan bahwa kerjasama dan solidaritas antar-bangsa adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Kota Bandung
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Kota Bandung
Pelajari lebih lanjut tentang Kota Bandung dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Kota Bandung