Bangunan Ikonik

Masjid Raya Al-A'zhom

di Kota Tangerang, Banten

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Arsitektur Masjid Raya Al-A’zhom: Landmark Spiritual dan Inovasi Struktural Kota Tangerang

Masjid Raya Al-A’zhom bukan sekadar tempat ibadah bagi umat Muslim di Kota Tangerang; ia adalah manifestasi dari identitas kota yang religius sekaligus modern. Terletak di jantung pusat pemerintahan Kota Tangerang, Banten, masjid ini berdiri sebagai tengara (landmark) arsitektural yang memecahkan rekor dan mendefinisikan ulang estetika desain masjid di Indonesia. Sejak peletakan batu pertamanya pada tahun 1997 hingga peresmiannya di tahun 2003, Al-A’zhom telah menjadi simbol kebanggaan masyarakat Banten.

#

Konteks Sejarah dan Filosofi Perancangan

Pembangunan Masjid Raya Al-A’zhom diprakarsai oleh Wali Kota Tangerang saat itu, H. Jakaria Machmud, dan dilanjutkan oleh H. Thamrin Mohammad Ali. Perancang utama di balik kemegahan struktur ini adalah Ir. H. Slamet Wirasonjaya, seorang arsitek terkemuka dan guru besar dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Filosofi desain Al-A’zhom berakar pada perpaduan antara nilai-nilai Islam tradisional dengan fungsionalitas modern. Nama "Al-A’zhom" sendiri diambil dari salah satu Asmaul Husna yang berarti "Maha Agung". Keagungan ini diterjemahkan secara visual melalui skala bangunan yang masif dan dominasi kubah yang tidak memiliki tiang penyangga tengah, menciptakan ruang interior yang luas dan tak terputus.

#

Inovasi Geometris: Fenomena Kubah Tanpa Tiang

Fitur arsitektural yang paling mencolok dan menjadi perbincangan dunia arsitektur adalah struktur kubahnya. Masjid Raya Al-A’zhom memiliki lima kubah yang saling bertumpuk. Formasi ini terdiri dari empat kubah setengah lingkaran yang berfungsi sebagai penyangga, dan satu kubah utama di bagian puncak yang menyatukan seluruh struktur.

Yang membuat struktur ini unik adalah diameter kubah utamanya yang mencapai 63 meter. Pada saat pembangunannya, Al-A’zhom diklaim sebagai masjid dengan kubah terbesar di dunia yang dibangun tanpa tiang penyangga tengah (center pillar). Inovasi ini dimungkinkan melalui perhitungan teknik sipil yang presisi, di mana beban kubah didistribusikan secara merata ke struktur melengkung di bawahnya dan diteruskan ke fondasi melalui kolom-kolom raksasa di sisi luar ruang utama.

Keberadaan lima kubah ini bukan tanpa makna. Secara simbolis, jumlah lima kubah merepresentasikan lima rukun Islam sekaligus kewajiban salat lima waktu bagi umat Muslim. Dari kejauhan, tumpukan kubah berwarna biru muda ini memberikan siluet yang menyerupai gunung, sebuah elemen visual yang sering ditemukan dalam arsitektur vernakular Nusantara namun dieksekusi dengan teknik modern.

#

Detail Eksterior dan Ornamen Fasad

Secara visual, eksterior masjid didominasi oleh warna krem dan biru, memberikan kesan tenang namun berwibawa. Masjid ini dilengkapi dengan empat menara setinggi 30 meter yang mengelilingi bangunan utama. Menara-menara ini mengadopsi gaya arsitektur Timur Tengah dengan sentuhan geometris yang tegas, berfungsi sebagai tempat pengeras suara azan sekaligus elemen penyeimbang visual bagi kubah yang lebar.

Fasad bangunan menggunakan kombinasi material beton terekspos dan aksen keramik. Jendela-jendela besar dengan kisi-kisi (grille) geometris dipasang di sekeliling dinding untuk memastikan sirkulasi udara alami berjalan optimal. Hal ini sangat krusial mengingat iklim Kota Tangerang yang cenderung panas. Desain ini memungkinkan angin berhembus bebas ke dalam ruang salat, mengurangi ketergantungan pada pendingin udara mekanis.

#

Interior: Kaligrafi dan Ruang Spiritual yang Luas

Memasuki bagian dalam masjid, pengunjung akan disambut oleh volume ruang yang luar biasa luas. Ketiadaan tiang di tengah memberikan pandangan yang tak terhalang menuju mihrab dan seluruh penjuru ruangan. Interior kubah dihiasi dengan lukisan kaligrafi (khat) yang indah. Ayat-ayat Al-Qur'an dituliskan dengan presisi tinggi, melingkar mengikuti lengkungan kubah, menciptakan efek visual yang mengarahkan pandangan mata ke atas, menuju keagungan Tuhan.

Mihrab masjid didesain dengan megah menggunakan material batu alam dan ukiran kayu yang halus. Pencahayaan di dalam ruang utama dirancang untuk memanfaatkan cahaya matahari pada siang hari melalui celah-celah di bawah kubah, menciptakan suasana sakral yang dramatis saat sinar matahari jatuh ke lantai marmer.

#

Fasilitas dan Integrasi Kawasan

Masjid Raya Al-A’zhom berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 2,25 hektar dengan luas bangunan mencapai 5.775 meter persegi. Kapasitasnya mampu menampung hingga 15.000 jemaah. Keunikan lain dari masjid ini adalah lokasinya yang terintegrasi dengan kompleks perkantoran Pemerintah Kota Tangerang. Hal ini menciptakan sinergi antara pusat spiritual dan pusat administrasi publik.

Di area serambi dan halaman, terdapat ruang terbuka hijau yang sering digunakan masyarakat untuk berinteraksi. Selain itu, masjid ini juga menampung Galeri Islam, sebuah museum mini yang menampilkan sejarah perkembangan Islam di Tangerang dan artefak-artefak religi, menjadikannya pusat edukasi selain pusat ibadah.

#

Makna Sosial dan Budaya

Sejak diresmikan, Masjid Raya Al-A’zhom telah menjadi "ruang tamu" bagi Kota Tangerang. Keberadaannya mampu menarik wisatawan religi dari berbagai daerah di Indonesia. Bagi warga lokal, masjid ini adalah pusat kegiatan sosial; mulai dari pelaksanaan hari besar Islam (PHBI), festival Al-A’zhom yang rutin diadakan setiap tahun, hingga menjadi titik kumpul dalam aksi-aksi kemanusiaan.

Arsitektur masjid ini berhasil memadukan fungsi sebagai tempat suci dengan fungsi sebagai ikon kota. Ia tidak hanya berdiri sebagai struktur beton dan baja, tetapi sebagai representasi dari ambisi Kota Tangerang untuk menjadi kota yang "Akhlakul Karimah" (memiliki akhlak yang mulia).

#

Kesimpulan

Masjid Raya Al-A’zhom adalah mahakarya arsitektur yang menantang batasan teknik konstruksi pada zamannya. Melalui inovasi kubah raksasa tanpa tiang, Ir. H. Slamet Wirasonjaya berhasil menciptakan ruang yang tidak hanya fungsional secara religius, tetapi juga menginspirasi secara estetika. Dengan detail kaligrafi yang menawan, integrasi lingkungan yang baik, dan makna filosofis yang mendalam, Al-A’zhom tetap berdiri kokoh sebagai permata arsitektural di tanah Banten, mengingatkan setiap pengunjung akan harmoni antara kecerdasan manusia dan pengabdian kepada Sang Pencipta.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Satria - Sudirman, RT.001/RW.001, Sukaasih, Kec. Tangerang, Kota Tangerang
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 04:00 - 21:00

Tempat Menarik Lainnya di Kota Tangerang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kota Tangerang

Pelajari lebih lanjut tentang Kota Tangerang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kota Tangerang