Situs Sejarah

Situs Purbakala Cipari

di Kuningan, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Megalitikum di Kaki Gunung Ciremai: Situs Purbakala Cipari

Situs Purbakala Cipari merupakan salah satu aset arkeologi terpenting di Jawa Barat yang memberikan gambaran komprehensif mengenai transisi kehidupan manusia dari masa Neolitikum menuju Zaman Perunggu. Terletak di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, situs ini berdiri kokoh di ketinggian sekitar 661 meter di atas permukaan laut, tepat di kaki Gunung Ciremai yang megah. Sebagai sebuah museum terbuka (open-site museum), Cipari bukan sekadar tumpukan batu purba, melainkan bukti kecerdasan arsitektural dan spiritualitas nenek moyang bangsa Indonesia dalam mengelola alam dan kepercayaan.

#

Sejarah Penemuan dan Ekskavasi

Keberadaan Situs Cipari pertama kali terungkap secara tidak sengaja pada tahun 1971 oleh seorang penduduk lokal bernama Wijaya. Saat itu, ia sedang melakukan penggalian tanah untuk keperluan pertanian dan menemukan struktur batu yang tidak biasa serta beberapa fragmen gerabah. Temuan ini kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang, yang memicu serangkaian penelitian awal oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional.

Ekskavasi arkeologi secara formal dilakukan dalam tiga tahap utama antara tahun 1972 hingga 1975, dipimpin oleh arkeolog kenamaan Teguh Asmar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs ini memiliki lapisan budaya yang sangat kaya, mencakup periode Megalitikum hingga masa awal logam. Berdasarkan analisis penanggalan dan tipologi artefak, diperkirakan Situs Cipari aktif dihuni dan digunakan antara tahun 1000 hingga 500 Sebelum Masehi. Hal ini menempatkan Cipari sebagai salah satu situs yang sangat spesifik karena menunjukkan pola pemukiman yang menetap dengan sistem sosial yang sudah teratur.

#

Arsitektur dan Struktur Megalitikum

Situs Purbakala Cipari memiliki karakteristik arsitektur yang khas dari tradisi megalitik "tua" dan "muda". Tata letak situs ini didominasi oleh penggunaan batu-batu besar yang ditata sedemikian rupa untuk fungsi praktis maupun ritual. Salah satu elemen arsitektur paling menonjol adalah keberadaan peti kubur batu. Berbeda dengan kubur batu di wilayah lain, peti kubur di Cipari dibuat dari batuan andesit yang berbentuk papan batu tipis yang disusun menjadi kotak persegi panjang.

Di dalam area situs, pengunjung dapat melihat tiga struktur utama:

1. Peti Kubur Batu: Terdapat dua peti kubur batu yang menjadi ikon situs ini. Uniknya, orientasi peti kubur ini selalu sejajar dengan arah matahari atau merujuk pada puncak Gunung Ciremai, menunjukkan adanya konsep kosmologi yang matang dalam penghormatan terhadap leluhur.

2. Altar Batu dan Menhir: Terdapat susunan batu yang berfungsi sebagai altar untuk pemujaan serta menhir (tugu batu tunggal). Menhir di sini berfungsi sebagai media pemujaan kepada roh nenek moyang dan simbol kekuatan pelindung desa.

3. Susunan Batu Lingkar (Stone Circle): Struktur ini terdiri dari batu-batu kecil yang disusun melingkar, yang diduga kuat sebagai tempat pertemuan adat atau upacara inisiasi tertentu.

Konstruksi di Cipari menunjukkan bahwa masyarakat masa itu telah memahami teknik pemecahan batu dan pengangkutan material berat secara kolektif (gotong royong). Penggunaan material lokal dari aliran lava Gunung Ciremai menunjukkan adaptasi lingkungan yang luar biasa.

#

Signifikansi Sejarah dan Temuan Artefak

Cipari dianggap sebagai situs "laboratorium" sejarah karena kelengkapan artefaknya. Selain struktur batu besar, para arkeolog menemukan berbagai alat batu seperti kapak persegi, gelang batu, dan alat-alat dari perunggu. Temuan kapak persegi menunjukkan pengaruh budaya Neolitikum, sementara kehadiran fragmen perunggu menandakan bahwa masyarakat Cipari sudah melakukan kontak perdagangan atau memiliki teknologi metalurgi awal.

Salah satu fakta unik yang membedakan Cipari dengan situs megalitik lain di Jawa Barat adalah adanya pola pemukiman yang berkelanjutan. Di sini, ditemukan sisa-sisa gerabah yang memiliki motif hiasan rumit, yang mencerminkan estetika dan status sosial penghuninya. Penemuan ini mematahkan anggapan lama bahwa masyarakat purba hanya hidup berpindah-pindah tanpa budaya seni yang tinggi.

#

Peran Budaya dan Keagamaan

Secara religius, Situs Cipari merupakan pusat kegiatan pemujaan arwah leluhur. Masyarakat Megalitikum percaya bahwa roh orang yang telah meninggal tetap mengawasi mereka dari tempat yang tinggi (gunung). Oleh karena itu, peletakan situs di lereng Gunung Ciremai bukan tanpa alasan; gunung dianggap sebagai tempat suci bersemayamnya para dewa atau leluhur.

Hingga saat ini, nilai-nilai spiritual tersebut masih dihormati oleh masyarakat sekitar, khususnya komunitas masyarakat adat di Cigugur. Cipari sering dipandang sebagai simbol identitas budaya Kuningan yang menghubungkan masa kini dengan akar tradisi masa lalu yang sangat kuat dalam memegang prinsip harmoni antara manusia, alam, dan pencipta.

#

Upaya Pelestarian dan Status Saat Ini

Situs Purbakala Cipari saat ini dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX dan Pemerintah Kabupaten Kuningan. Setelah ekskavasi besar di era 70-an, pemerintah membangun Museum Situs Cipari yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Syarif Thayeb, pada 23 Februari 1978.

Restoran dan penataan lingkungan dilakukan secara berkala untuk menjaga agar batu-batu tersebut tidak mengalami pelapukan akibat cuaca atau lumut yang berlebihan. Kawasan situs ditata menyerupai taman yang asri, menjadikannya destinasi wisata edukasi yang nyaman tanpa menghilangkan kesan sakralnya. Pagar pembatas dan papan informasi disediakan untuk mengedukasi pengunjung agar tidak merusak struktur asli peti kubur batu yang sangat rentan.

#

Kesimpulan dan Warisan

Situs Purbakala Cipari adalah saksi bisu transisi peradaban manusia di Nusantara. Keunikan situs ini terletak pada integritas temuannya yang menggabungkan unsur hunian, pemakaman, dan tempat upacara dalam satu kompleks yang terpadu. Bagi para peneliti, Cipari adalah kunci untuk memahami migrasi manusia purba di pedalaman Jawa Barat. Bagi masyarakat umum, situs ini adalah pengingat akan kecanggihan nenek moyang yang mampu menciptakan struktur bangunan monumental hanya dengan peralatan sederhana, namun tetap mengutamakan keseimbangan dengan alam semesta. Sebagai cagar budaya, kelestarian Cipari merupakan tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa cerita dari kaki Gunung Ciremai ini tetap terdengar hingga ribuan tahun ke depan.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kampung Cipari, Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan
entrance fee
Rp 5.000 per orang
opening hours
Senin - Sabtu, 08:00 - 15:00

Tempat Menarik Lainnya di Kuningan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Kuningan

Pelajari lebih lanjut tentang Kuningan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Kuningan