Bangunan Ikonik

Masjid Raya Kotapinang

di Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Arsitektur Masjid Raya Kotapinang: Simbol Kejayaan Kesultanan Pinang Awan di Labuhanbatu Selatan

Masjid Raya Kotapinang bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah monumen hidup yang merekam jejak panjang sejarah Kesultanan Pinang Awan di Sumatera Utara. Berdiri kokoh di jantung ibu kota Kabupaten Labuhanbatu Selatan, masjid ini menjadi representasi visual dari perpaduan estetika Melayu, pengaruh kolonial, dan napas spiritual Islam yang mendalam. Sebagai bangunan ikonik, Masjid Raya Kotapinang menawarkan narasi arsitektural yang memikat, memadukan kekokohan struktur zaman dahulu dengan keanggunan desain yang melampaui waktu.

#

Konteks Historis dan Fondasi Pembangunan

Sejarah Masjid Raya Kotapinang tidak dapat dipisahkan dari peran Yang Dipertuan Besar Sultan Mustafa Ma’moer Perkasa Alamsyah, sultan kesembilan dari Kesultanan Pinang Awan. Dibangun pada periode awal abad ke-20, sekitar tahun 1934, masjid ini dirancang untuk menggantikan fungsi masjid lama yang sudah tidak memadai bagi pertumbuhan jamaah di pusat pemerintahan kesultanan.

Pembangunannya dilakukan di era di mana pengaruh arsitektur Eropa mulai masuk ke nusantara melalui perantara pemerintah Hindia Belanda, namun tetap mempertahankan kedaulatan identitas lokal. Dana pembangunan masjid ini konon berasal dari kas kesultanan dan kontribusi masyarakat setempat, yang menunjukkan adanya gotong royong yang kuat antara penguasa dan rakyat. Keberadaan masjid ini di dekat kompleks istana (yang kini tinggal puing-puing) menegaskan konsep "Manunggal" antara ulama, umara (pemimpin), dan umat.

#

Gaya Arsitektur: Harmoni Melayu dan Kolonial

Secara tipologi, Masjid Raya Kotapinang mengadopsi gaya arsitektur eklektik. Karakteristik paling menonjol adalah pengaruh arsitektur Melayu pesisir yang dipadukan dengan sentuhan Indische Empire Style. Pengaruh ini terlihat jelas pada bentuk jendela yang tinggi dan besar serta penggunaan pilar-pilar yang masif.

Salah satu elemen desain yang paling mencolok adalah bentuk kubahnya. Berbeda dengan masjid-masjid modern yang cenderung menggunakan kubah parabolik, Masjid Raya Kotapinang memiliki kubah utama berbentuk bawang (onion dome) yang berwarna gelap, memberikan kesan wibawa dan kekokohan. Bentuk kubah ini dipengaruhi oleh gaya arsitektur Mughal dan Moor yang populer di kalangan kesultanan-kesultanan Melayu di Sumatera Timur pada masa itu, serupa dengan pola yang ditemukan pada Masjid Raya Al-Mashun di Medan, namun dalam skala yang lebih intim.

#

Struktur dan Inovasi Material

Secara struktural, bangunan ini menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Dinding masjid dibangun dengan ketebalan yang melebihi standar bangunan modern, berfungsi sebagai isolator suhu alami yang menjaga ruang dalam tetap sejuk meskipun cuaca di Labuhanbatu Selatan cukup terik. Penggunaan material beton dan batu bata berkualitas tinggi pada masanya membuat bangunan ini tetap berdiri tegak meski telah berusia hampir satu abad.

Lantai masjid pada awalnya menggunakan tegel bermotif klasik yang memberikan kesan mewah sekaligus sejuk di kaki. Di bagian dalam, ruang utama masjid tidak memiliki banyak pilar tengah, sebuah inovasi struktur pada zamannya untuk memberikan pandangan yang luas bagi jamaah ke arah mihrab. Langit-langit yang tinggi memastikan sirkulasi udara vertikal berjalan dengan baik, menciptakan sistem pendinginan pasif yang efisien.

#

Detail Ornamen dan Keunikan Interior

Memasuki bagian dalam masjid, pengunjung akan disambut oleh detail ornamen yang kaya namun tidak berlebihan. Mihrab masjid—tempat imam memimpin salat—menjadi titik fokus arsitektural. Mihrab ini dihiasi dengan ukiran kaligrafi Arab yang dipadukan dengan motif pucuk rebung, sebuah motif khas Melayu yang melambangkan pertumbuhan dan harapan.

Jendela-jendela masjid menggunakan kaca patri atau stained glass yang sederhana namun fungsional. Pada waktu-waktu tertentu, cahaya matahari yang masuk melalui jendela ini menciptakan spektrum warna yang menambah suasana khusyuk di dalam ruang salat. Pintu-pintu masjid terbuat dari kayu keras berkualitas tinggi dengan ukiran manual yang menunjukkan ketelitian pengrajin lokal pada masa pembangunan.

Salah satu fitur unik lainnya adalah keberadaan menara yang terpisah atau terintegrasi secara harmonis dengan bangunan utama. Menara ini berfungsi sebagai tempat pengeras suara di masa modern, namun secara estetika, ia berfungsi sebagai penyeimbang visual bagi kubah utama yang besar.

#

Signifikansi Budaya dan Sosial

Bagi masyarakat Labuhanbatu Selatan, Masjid Raya Kotapinang adalah pusat gravitasi sosial. Sejak zaman kesultanan hingga sekarang, masjid ini menjadi saksi bisu transisi kekuasaan dan perubahan zaman. Di sini, upacara-upacara besar keagamaan seperti perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan dengan tradisi Melayu yang kental, seringkali melibatkan prosesi adat yang menghormati silsilah Kesultanan Pinang Awan.

Masjid ini juga berfungsi sebagai pusat pendidikan karakter. Di selasar dan ruang-ruang pendukungnya, generasi muda Kotapinang belajar membaca Al-Qur'an dan memahami nilai-nilai moral. Keberadaannya memperkuat identitas Kotapinang sebagai kota yang religius dan menjunjung tinggi adat istiadat.

#

Pengalaman Pengunjung dan Penggunaan Saat Ini

Saat ini, Masjid Raya Kotapinang tetap menjadi destinasi utama bagi wisatawan religi yang berkunjung ke Sumatera Utara bagian selatan. Pengunjung tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga untuk mengagumi keindahan arsitekturnya yang fotogenik. Halaman masjid yang luas kini telah ditata dengan lebih modern, memberikan ruang terbuka hijau yang nyaman bagi warga untuk bersosialisasi.

Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi dan pengecatan ulang, pengelola masjid tetap berkomitmen untuk mempertahankan keaslian bentuk bangunannya. Upaya konservasi ini sangat krusial, mengingat banyak bangunan bersejarah di wilayah sekitarnya yang mulai hilang tergerus pembangunan modern. Renovasi yang dilakukan biasanya berfokus pada perawatan atap, pembersihan fasad, dan peningkatan fasilitas sanitasi tanpa mengubah struktur inti yang bersejarah.

#

Kesimpulan: Warisan yang Terjaga

Masjid Raya Kotapinang adalah bukti nyata kebesaran visi para pendahulu di Labuhanbatu Selatan. Melalui arsitekturnya, kita dapat melihat bagaimana sebuah bangunan mampu menyatukan berbagai pengaruh budaya menjadi satu kesatuan yang harmonis. Ia bukan sekadar tumpukan batu bata dan semen, melainkan manifestasi dari iman, seni, dan sejarah.

Sebagai ikon Labuhanbatu Selatan, masjid ini terus berdiri sebagai mercusuar spiritual yang mengingatkan masyarakat akan akar budaya mereka. Bagi dunia arsitektur di Indonesia, Masjid Raya Kotapinang adalah contoh brilian dari adaptasi gaya kolonial dan Islam-Melayu yang berhasil menciptakan karakter ruang yang autentik dan tak tergantikan. Keberadaannya memastikan bahwa identitas Kotapinang sebagai pusat peradaban di Sumatera Utara tetap benderang, sekarang dan di masa depan.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Istana, Kotapinang, Labuhanbatu Selatan
entrance fee
Gratis
opening hours
24 Jam (Waktu Shalat)

Tempat Menarik Lainnya di Labuhanbatu Selatan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Labuhanbatu Selatan

Pelajari lebih lanjut tentang Labuhanbatu Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Labuhanbatu Selatan