Situs Sejarah

Museum Multatuli

di Lebak, Banten

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Pendirian

Latar belakang berdirinya Museum Multatuli berakar kuat pada sejarah abad ke-19, tepatnya saat Eduard Douwes Dekker diangkat menjadi Asisten Residen Lebak pada Januari 1856. Meskipun ia hanya bertugas selama kurang lebih tiga bulan, pengalaman singkat tersebut melahirkan mahakarya sastra dunia bertajuk Max Havelaar: Of de koffi-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij (Max Havelaar: Atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda).

Pemerintah Kabupaten Lebak menginisiasi pembangunan museum ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah lokal yang memiliki dampak global. Lokasi yang dipilih adalah bekas bangunan kantor sekaligus kediaman resmi Wedana Lebak yang dibangun sekitar tahun 1923. Bangunan ini dipilih karena nilai historisnya yang tinggi dan kedekatannya secara geografis dengan bekas rumah dinas asli Multatuli yang kini hanya menyisakan puing-puing di area Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Adjidarmo.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Museum Multatuli menempati bangunan cagar budaya bergaya kolonial Indische Empire Style. Ciri khas arsitekturnya terlihat pada langit-langit yang tinggi, jendela-jendela besar untuk sirkulasi udara yang optimal, serta pilar-pilar kokoh yang menyangga struktur bangunan. Renovasi yang dilakukan sebelum peresmian tetap mempertahankan keaslian struktur kayu dan ubin kuno untuk menjaga atmosfer abad ke-20.

Museum ini dibagi menjadi tujuh ruang pameran yang disusun secara kronologis berdasarkan narasi "Sejarah Kolonialisme di Indonesia". Desain interiornya menggabungkan estetika klasik dengan sentuhan teknologi modern, seperti penggunaan instalasi multimedia dan pencahayaan yang dramatis. Salah satu elemen arsitektur paling menonjol adalah instalasi seni di bagian depan yang menampilkan kutipan-kutipan ikonik dari buku Max Havelaar, mempertegas identitas bangunan sebagai museum sastra dan sejarah.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Signifikansi Museum Multatuli terletak pada keberanian sosok Douwes Dekker dalam membongkar kebobrokan sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) dan penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat lokal yang didukung oleh pemerintah kolonial Belanda. Di Lebak, Dekker menyaksikan bagaimana rakyat diperas bukan hanya oleh penjajah, tetapi juga oleh bupati mereka sendiri melalui pungutan liar dan kerja rodi yang melampaui batas.

Melalui museum ini, pengunjung dapat mempelajari bagaimana surat-surat pengaduan Dekker kepada atasannya, Brest van Kempen, menjadi titik balik karirnya. Penolakannya untuk berkompromi dengan korupsi membuatnya harus mengundurkan diri, namun dari pengunduran diri itulah lahir tulisan yang menurut Pramoedya Ananta Toer adalah "buku yang membunuh kolonialisme". Peristiwa-peristiwa krusial seperti konflik antara Dekker dengan Bupati Lebak saat itu, Raden Adipati Karta Natanegara, dijelaskan secara mendetail melalui dokumen-dokumen arsip yang dipamerkan.

Tokoh-Tokoh Utama dan Kaitan Zaman

Selain Multatuli, museum ini juga menyoroti tokoh-tokoh penting lainnya yang memiliki kaitan dengan sejarah Banten dan pergerakan nasional. Nama-nama seperti Sultan Ageng Tirtayasa ditampilkan untuk memberikan konteks perlawanan Banten terhadap VOC jauh sebelum era Multatuli. Selain itu, terdapat narasi mengenai tokoh-tokoh lokal Lebak dalam peristiwa Geger Cilegon 1888 yang juga dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi yang digambarkan dalam buku Max Havelaar.

Kehadiran museum ini juga menghubungkan masa kolonial dengan tokoh-tokoh kemerdekaan. Sukarno, misalnya, dikenal sangat mengagumi karya Multatuli dan sering mengutipnya dalam pidato-pidato politiknya untuk membakar semangat anti-imperialisme. Museum ini berhasil menarik garis merah antara penderitaan rakyat di abad ke-19 dengan semangat kemerdekaan di abad ke-20.

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Pemerintah Kabupaten Lebak bersama dengan para kurator sejarah melakukan upaya restorasi yang sangat teliti. Karena bangunan yang digunakan adalah cagar budaya, setiap perubahan harus mengikuti kaidah pelestarian yang ketat. Proses restorasi melibatkan pembersihan elemen kayu jati asli, perbaikan atap tanpa mengubah bentuk aslinya, serta penataan lanskap di sekitar museum agar selaras dengan tata kota Rangkasbitung yang bersejarah.

Selain bangunan fisik, pelestarian juga dilakukan terhadap artefak dan dokumen. Museum ini menyimpan replika surat-surat asli Multatuli, edisi pertama buku Max Havelaar dalam berbagai bahasa, serta benda-benda etnografi masyarakat Baduy yang merupakan bagian integral dari identitas budaya Lebak. Kerjasama dengan lembaga arsip di Belanda (seperti Multatuli Genootschap) memungkinkan museum ini memiliki akses ke data sejarah yang akurat.

Nilai Budaya dan Fakta Unik

Secara budaya, Museum Multatuli berfungsi sebagai pusat literasi dan edukasi bagi masyarakat Banten. Ia mematahkan stigma bahwa museum adalah tempat yang membosankan. Salah satu fakta unik dari museum ini adalah adanya ubin asli dari rumah dinas Multatuli yang berhasil diselamatkan dan dipamerkan. Ubin tersebut menjadi saksi bisu keberadaan sang penulis di tanah Lebak.

Selain itu, museum ini memiliki koleksi patung Multatuli, Saidjah, dan Adinda yang dibuat oleh pematung ternama. Saidjah dan Adinda adalah tokoh fiktif dalam buku Max Havelaar yang merepresentasikan penderitaan rakyat jelata Lebak; kisah tragis mereka telah menjadi bagian dari memori kolektif dunia dan diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa.

Museum Multatuli bukan sekadar tempat penyimpanan barang mati, melainkan sebuah ruang dialektika. Ia mengajak pengunjung untuk merenungkan makna keadilan dan kemanusiaan. Dengan berdiri tegak di jantung Rangkasbitung, museum ini memastikan bahwa suara rakyat Lebak yang dulu dibungkam oleh kolonialisme, kini akan terus terdengar oleh generasi mendatang melalui lembar-lembar sejarah yang dirawat dengan penuh hormat.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Alun-Alun Timur No. 8, Rangkasbitung Barat, Kabupaten Lebak
entrance fee
Gratis
opening hours
Selasa - Minggu, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Lebak

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Lebak

Pelajari lebih lanjut tentang Lebak dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Lebak