Situs Sejarah

Museum Kota Lhokseumawe

di Lhokseumawe, Aceh

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Pembangunan Museum Kota Lhokseumawe diprakarsai sebagai upaya untuk menyelamatkan artefak sejarah yang tersebar di wilayah administrasi Lhokseumawe setelah pemekarannya dari Kabupaten Aceh Utara. Secara resmi, museum ini didirikan dan diresmikan pada medio 2014-2015. Pendiriannya merupakan respon atas kebutuhan masyarakat akan pusat studi sejarah lokal yang representatif.

Sebelum adanya museum ini, banyak benda bersejarah hasil temuan masyarakat atau peninggalan keluarga bangsawan setempat tidak terawat atau terkubur dalam koleksi pribadi. Pemerintah Kota Lhokseumawe menyadari bahwa tanpa wadah resmi, identitas visual dan sejarah kota ini akan memudar seiring pesatnya modernisasi. Oleh karena itu, museum ini dibangun dengan visi menjadi "pintu gerbang" bagi siapa saja yang ingin mempelajari silsilah peradaban di pesisir Timur-Utara Aceh.

Arsitektur: Manifestasi Rumoh Aceh

Secara visual, Museum Kota Lhokseumawe mengadopsi gaya arsitektur tradisional yang sangat ikonik, yaitu Rumoh Aceh (Rumah Aceh). Struktur bangunannya berupa rumah panggung yang didominasi oleh material kayu pilihan, mencerminkan kearifan lokal dalam beradaptasi dengan iklim tropis.

Salah satu detail konstruksi yang paling mencolok adalah penggunaan tiang-tiang penyangga (post-and-beam) yang berjumlah banyak, yang dalam filosofi Aceh melambangkan kekuatan kebersamaan. Bagian atapnya berbentuk pelana dengan ukiran khas pada bagian tulak angin (ventilasi), yang berfungsi sebagai pengatur sirkulasi udara sekaligus ornamen estetis. Penggunaan struktur panggung tidak hanya bertujuan untuk pelestarian budaya, tetapi juga memberikan ruang di bagian bawah (kolong) yang secara tradisional digunakan untuk berinteraksi sosial atau menyimpan alat pertanian. Interior museum dirancang dengan sekat-sekat yang menyerupai pembagian ruang pada rumah bangsawan Aceh masa lalu, menciptakan suasana yang autentik bagi para pengunjung.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Signifikansi Museum Kota Lhokseumawe terletak pada perannya sebagai penyambung lidah sejarah Kesultanan Samudera Pasai. Meski istana kerajaan tersebut berada di wilayah Geudong (Aceh Utara), Lhokseumawe secara historis merupakan bagian dari wilayah inti kesultanan tersebut. Museum ini menyimpan fragmen-fragmen kehidupan dari abad ke-13 hingga ke-16, masa di mana wilayah ini menjadi titik temu pedagang dari Arab, India, dan Tiongkok.

Salah satu peristiwa sejarah yang terekam secara implisit melalui koleksinya adalah masa transisi dari pengaruh Hindu-Buddha ke Islam di tanah Aceh. Benda-benda seperti keramik dari Dinasti Ming dan piring-piring kuno menunjukkan betapa aktifnya hubungan diplomatik dan perdagangan internasional yang dijalin oleh para pendahulu di Lhokseumawe. Selain itu, museum ini juga menyimpan memori kolektif mengenai masa kolonial Belanda, di mana Lhokseumawe menjadi pelabuhan militer dan ekonomi yang strategis melalui keberadaan jalur kereta api Aceh (Atjeh Tram).

Tokoh dan Koleksi Utama

Museum ini menyimpan berbagai artefak yang berkaitan dengan tokoh-tokoh besar dalam sejarah Aceh. Koleksi utamanya meliputi replika dirham (mata uang emas) yang digunakan pada masa Sultan Malikussaleh dan Sultanah Nahrasiyah. Keberadaan mata uang emas ini menjadi bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa Lhokseumawe dan sekitarnya pernah memiliki sistem ekonomi yang sangat maju dan mandiri.

Selain mata uang, koleksi unggulan lainnya mencakup senjata tradisional seperti Rencong dengan berbagai jenis hulu (gagang), pedang sakti, dan meriam-meriam kecil yang digunakan dalam perang melawan ekspansi kolonial. Ada juga koleksi naskah kuno (manuskrip) tulisan tangan di atas kertas kulit atau daun lontar yang berisi ajaran agama Islam, hukum adat, dan pengobatan tradisional, yang menunjukkan tingginya literasi masyarakat Pase di masa lampau.

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai institusi yang relatif muda, Museum Kota Lhokseumawe terus mengalami upaya pengembangan dan pemeliharaan. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara rutin melakukan kurasi dan konservasi terhadap benda-benda koleksi agar terhindar dari kerusakan akibat kelembapan dan hama kayu.

Restorasi fisik bangunan dilakukan secara berkala untuk menjaga keutuhan struktur kayu Rumoh Aceh tersebut. Selain perawatan fisik, upaya preservasi juga dilakukan dalam bentuk digitalisasi data koleksi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa informasi mengenai setiap artefak dapat diakses oleh peneliti dan generasi mendatang tanpa harus menyentuh fisik benda yang sudah rapuh. Museum ini juga aktif mengadakan pameran temporer dan kegiatan edukasi bagi pelajar untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan sejarah mereka.

Kepentingan Budaya dan Religi

Dalam konteks budaya, Museum Kota Lhokseumawe berfungsi sebagai pusat edukasi Adat Bak Po Teumeureuhom, Hukom Bak Syiah Kuala (Adat ada pada pemerintah, Hukum ada pada ulama). Setiap benda yang dipamerkan, mulai dari pakaian adat pengantin hingga alat musik tradisional seperti Rapai, mengandung filosofi Islam yang kental.

Secara religius, museum ini menjadi pengingat bahwa Lhokseumawe adalah bagian dari "Serambi Mekkah". Kehadiran Al-Qur'an tulisan tangan berusia ratusan tahun menunjukkan betapa agama Islam telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sejak masa Kesultanan. Museum ini menegaskan identitas Lhokseumawe sebagai kota yang modern namun tetap berdiri kokoh di atas fondasi nilai-nilai spiritual dan tradisi yang luhur.

Fakta Sejarah Unik

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa beberapa koleksi di museum ini merupakan hibah langsung dari keturunan para uleebalang (kepala suku/bangsawan) di Lhokseumawe yang secara turun-temurun menyimpan benda tersebut selama ratusan tahun. Selain itu, lokasi museum yang berada di kawasan yang dulunya merupakan pusat administratif kolonial memberikan nuansa kontras antara arsitektur tradisional museum dengan bangunan-bangunan bergaya Eropa di sekitarnya, menciptakan sebuah narasi visual tentang pertemuan dua peradaban.

Museum Kota Lhokseumawe kini berdiri bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai benteng pertahanan terakhir memori kolektif masyarakat Aceh di tengah arus globalisasi. Ia adalah saksi bisu bahwa dari pesisir Lhokseumawe inilah, cahaya peradaban dan perdagangan Nusantara pernah bersinar paling terang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Cempaka, Kuta Blang, Banda Sakti, Kota Lhokseumawe
entrance fee
Sukarela
opening hours
Senin - Jumat, 09:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Lhokseumawe

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Lhokseumawe

Pelajari lebih lanjut tentang Lhokseumawe dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Lhokseumawe