Situs Sejarah

Benteng Bukit Cening

di Lingga, Kepulauan Riau

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Kejayaan Bahari: Menelusuri Sejarah Benteng Bukit Cening di Lingga

Kabupaten Lingga, yang sering dijuluki sebagai "Bunda Tanah Melayu", menyimpan berbagai peninggalan megah dari era Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Salah satu situs pertahanan yang paling monumental dan secara arsitektural sangat signifikan adalah Benteng Bukit Cening. Terletak di Daik, ibu kota Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, benteng ini bukan sekadar tumpukan batu dan meriam, melainkan simbol kedaulatan bangsa Melayu dalam menghadapi ekspansi kolonial di Selat Malaka.

#

Latar Belakang dan Periodisasi Pembangunan

Benteng Bukit Cening dibangun pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah III (1761–1812), penguasa Kesultanan Riau-Lingga yang dikenal karena kebijakan strategisnya memindahkan pusat pemerintahan dari Hulu Riau (Pulau Bintan) ke Daik, Lingga pada tahun 1787. Pemindahan ini merupakan langkah taktis untuk menghindari tekanan politik dan militer dari Belanda (VOC) setelah kekalahan dalam beberapa pertempuran laut.

Bukit Cening dipilih sebagai lokasi pertahanan karena letaknya yang strategis di ketinggian, memberikan jarak pandang yang luas ke arah perairan dan pintu masuk muara sungai menuju pusat kota Daik. Konstruksi benteng ini diperkirakan berlangsung pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, seiring dengan upaya Sultan Mahmud Syah III memperkuat benteng-benteng pertahanan di seluruh wilayah Lingga untuk menciptakan sistem pertahanan berlapis.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Benteng Bukit Cening menampilkan karakteristik pertahanan khas Melayu yang berpadu dengan pengaruh teknologi militer pada zamannya. Benteng ini dibangun di atas bukit dengan memanfaatkan kontur alam sebagai pertahanan alami. Struktur utamanya menggunakan material lokal, yakni batu gunung dan campuran perekat tradisional yang terdiri dari kapur, putih telur, dan pasir.

Keunikan utama dari benteng ini adalah keberadaan 19 pucuk meriam yang masih terjaga di posisinya. Meriam-meriam ini memiliki ukuran yang bervariasi, dengan panjang antara 2 hingga 3 meter. Berdasarkan identifikasi pada larasnya, meriam-meriam tersebut merupakan buatan Eropa (Belanda dan Inggris) serta beberapa meriam lokal. Penempatan meriam diatur sedemikian rupa menghadap ke arah laut untuk mencegat kapal-kapal musuh sebelum mereka sempat mendekati daratan.

Area benteng memiliki gundukan tanah (talud) yang berfungsi sebagai penahan serangan peluru meriam lawan. Struktur ini dirancang untuk menyerap energi kinetik dari proyektil, sehingga dinding utama tidak langsung hancur. Di sekitar area meriam, terdapat struktur fondasi yang dahulu kemungkinan besar merupakan pos penjagaan kayu yang kini telah musnah dimakan usia.

#

Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting

Benteng Bukit Cening merupakan saksi bisu dari ketegangan geopolitik di Kepulauan Riau pada abad ke-19. Keberadaan benteng ini menjadikan Daik sebagai salah satu benteng pertahanan terkuat di wilayah tersebut, yang membuat pihak Belanda harus berpikir dua kali sebelum melakukan serangan langsung ke pusat kesultanan.

Situs ini berkaitan erat dengan peristiwa perlawanan rakyat Melayu terhadap traktat-traktat yang merugikan kedaulatan kesultanan. Bukit Cening berfungsi sebagai mata dan telinga bagi istana. Dari ketinggian ini, para penjaga dapat memberikan sinyal peringatan dini (menggunakan bendera atau tembakan meriam isyarat) kepada Benteng Parit dan Benteng Kuala Daik yang berada lebih rendah di garis pantai jika terlihat armada kapal asing yang mencurigakan.

#

Tokoh di Balik Pertahanan Lingga

Selain Sultan Mahmud Syah III sebagai pemrakarsa utama, tokoh penting lainnya yang terkait dengan operasional benteng ini adalah para Panglima Laskar dan prajurit pilihan kesultanan. Mereka dilatih secara khusus untuk mengoperasikan meriam-meriam berat tersebut. Selain itu, keterlibatan masyarakat lokal dalam pembangunan benteng—yang dilakukan secara gotong royong sebagai bentuk kesetiaan kepada Sultan—menunjukkan kuatnya ikatan sosial-politik antara penguasa dan rakyat pada masa itu.

Sejarah juga mencatat peran Sultan Abdurrahman Muazzam Syah, sultan terakhir, yang tetap mempertahankan fungsi benteng-benteng di Lingga sebagai simbol kehormatan meskipun tekanan politik Belanda semakin menguat hingga penghapusan kesultanan pada tahun 1911.

#

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Saat ini, Benteng Bukit Cening telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lokasinya yang berada di area hutan yang asri memberikan nilai tambah sebagai destinasi wisata sejarah berbasis alam.

Pemerintah Kabupaten Lingga secara berkala melakukan perawatan, seperti pembersihan korosi pada meriam-meriam besi dan penataan jalur akses (anak tangga) bagi pengunjung agar dapat mencapai puncak bukit dengan mudah. Meskipun beberapa bagian struktur batu telah tertutup lumut dan tanah, keaslian tata letak meriam tetap dipertahankan sesuai dengan posisi aslinya (in-situ). Tantangan utama dalam pelestarian adalah cuaca ekstrem dan kelembapan tinggi yang mempercepat pelapukan logam meriam, sehingga diperlukan teknik konservasi khusus untuk menjaga artefak-artefak tersebut.

#

Nilai Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat Lingga, Benteng Bukit Cening bukan sekadar objek wisata, melainkan identitas kultural. Situs ini sering menjadi lokasi penelitian bagi sejarawan dan arkeolog yang ingin mempelajari taktik perang Melayu. Secara simbolis, benteng ini merepresentasikan semangat "Pantang Menyerah" dan kecerdasan orang Melayu dalam memanfaatkan topografi alam untuk kepentingan kedaulatan.

Keberadaan 19 meriam yang masih utuh menjadikan benteng ini sebagai salah satu situs dengan koleksi artileri terbanyak di satu lokasi di Kepulauan Riau. Hal unik lainnya adalah penamaan beberapa meriam oleh masyarakat setempat, yang sering dikaitkan dengan legenda atau kekuatan mistis tertentu, meskipun secara ilmiah meriam tersebut adalah alat pertahanan militer murni.

#

Kesimpulan tentang Warisan Bukit Cening

Benteng Bukit Cening berdiri sebagai monumen hidup yang menceritakan kejayaan masa lalu saat Daik Lingga menjadi pusat tamadun Melayu yang disegani. Arsitektur yang kokoh, penempatan meriam yang strategis, serta latar belakang sejarah yang kuat menjadikan situs ini sebagai salah satu aset sejarah terpenting di jalur rempah dan jalur perdagangan maritim Nusantara. Melalui pelestarian yang berkelanjutan, diharapkan generasi mendatang dapat terus memetik pelajaran tentang keberanian, kemandirian, dan strategi yang pernah ditunjukkan oleh para pendahulu di tanah Lingga.

📋 Informasi Kunjungan

address
Daik, Kabupaten Lingga
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 24 jam

Tempat Menarik Lainnya di Lingga

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Lingga

Pelajari lebih lanjut tentang Lingga dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Lingga