Situs Sejarah

Taman Narmada

di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Taman Narmada: Replika Puncak Rinjani di Jantung Lombok Barat

Taman Narmada bukan sekadar destinasi wisata air atau ruang terbuka hijau biasa; ia adalah manifestasi fisik dari kerinduan seorang raja akan spiritualitas dan pengabdian kepada Sang Pencipta. Terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, situs sejarah ini berdiri sebagai saksi bisu kejayaan Kerajaan Karangasem Bali di tanah Lombok serta bukti kecerdasan arsitektur nusantara pada abad ke-18.

#

Asal-Usul dan Latar Belakang Sejarah

Taman Narmada dibangun pada tahun 1727 Masehi oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karangasem. Penamaan "Narmada" diambil dari nama sebuah sungai suci di India, yakni Sungai Narmada, yang dalam kepercayaan Hindu dianggap sebagai salah satu tempat paling sakral. Pembangunan taman ini bermula dari sebuah alasan yang sangat personal dan spiritual.

Pada masa pemerintahannya, Raja Anak Agung Ngurah Karangasem adalah seorang penganut Hindu yang taat yang secara rutin melakukan ritual Pekelem (upacara kurban di danau) di puncak Gunung Rinjani, tepatnya di Danau Segara Anak. Namun, seiring bertambahnya usia, sang raja tidak lagi mampu mendaki gunung setinggi 3.726 meter tersebut karena kondisi fisik yang melemah. Sebagai solusinya, ia memerintahkan para arsitek kerajaan untuk membawa "atmosfer" Gunung Rinjani ke pusat kota melalui pembangunan sebuah taman yang mereplikasi keindahan dan kesucian Danau Segara Anak. Oleh karena itu, Taman Narmada sering dijuluki sebagai "miniatur Gunung Rinjani".

#

Arsitektur dan Tata Ruang Simbolis

Gaya arsitektur Taman Narmada merupakan perpaduan harmonis antara estetika Hindu Bali dan kearifan lokal Sasak. Taman seluas kurang lebih 2 hektar ini dirancang dengan konsep berundak-undak (punden berundak), yang mencerminkan tingkatan alam semesta dalam kosmologi Hindu.

Struktur utama taman ini terbagi menjadi beberapa bagian penting:

1. Kolam Segara Anak: Merupakan bagian paling ikonik yang menjadi replika langsung dari danau di Gunung Rinjani. Kolam raksasa ini dikelilingi oleh pepohonan rindang dan berfungsi sebagai pusat pengairan sekaligus tempat pemandian raja.

2. Pura Kalasa: Terletak di bagian paling atas atau hulu taman. Lokasi ini dianggap paling suci karena posisinya yang tinggi melambangkan puncak gunung. Pura ini masih digunakan secara aktif hingga saat ini oleh umat Hindu di Lombok untuk upacara Pujawali.

3. Bale Terang: Sebuah bangunan kayu bergaya panggung yang berfungsi sebagai tempat peristirahatan raja. Bagian bawahnya digunakan sebagai gudang, sementara bagian atasnya merupakan kamar tidur raja yang menghadap langsung ke arah kolam dan pemandangan taman.

4. Bale Loji: Bangunan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata dan perlengkapan kerajaan.

Keunikan konstruksi Taman Narmada terletak pada sistem irigasinya yang sangat maju pada masanya. Air yang mengalir di seluruh kolam dan saluran di taman ini berasal langsung dari mata air alami Gunung Rinjani yang disalurkan melalui sistem gravitasi, memastikan air tetap jernih dan mengalir sepanjang tahun.

#

Signifikansi Budaya dan Air Awet Muda

Salah satu daya tarik sejarah dan mistis yang paling terkenal di Taman Narmada adalah keberadaan Mata Air Awet Muda. Mata air ini terletak di dalam sebuah bangunan kecil yang dikenal sebagai Petirtaan. Secara historis, air ini merupakan pertemuan dari tiga sumber mata air alami.

Masyarakat setempat dan para peziarah meyakini bahwa siapa pun yang membasuh wajah atau meminum air dari sumber ini dengan niat yang tulus akan mendapatkan berkah kesehatan dan wajah yang tampak lebih muda. Secara simbolis, air ini melambangkan kesucian dan pembersihan diri (penyucian) sebelum melakukan ritual ibadah di Pura Kalasa. Keberadaan mata air ini mempertegas peran Taman Narmada bukan hanya sebagai tempat rekreasi raja ( summer palace), tetapi juga sebagai pusat spiritualitas.

#

Peristiwa Bersejarah dan Tokoh Terkait

Selama masa kolonialisme Belanda, Taman Narmada sempat menjadi pusat perhatian administratif. Setelah jatuhnya Kerajaan Mataram Lombok ke tangan Belanda pada tahun 1894, fungsi taman ini mulai bergeser. Belanda menggunakan beberapa bagian bangunan untuk kepentingan birokrasi mereka, namun tetap mempertahankan struktur utama taman karena nilai estetikanya yang tinggi.

Tokoh sentral, Anak Agung Ngurah Karangasem, dikenang bukan hanya sebagai pembangun fisik taman, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu menyatukan elemen budaya Bali dan Lombok. Ia memastikan bahwa meskipun taman ini memiliki nuansa Hindu yang kental, keberadaannya tetap dihormati dan menjadi bagian dari identitas kolektif masyarakat Lombok yang mayoritas Muslim Sasak. Hal ini tercermin dalam tradisi Pekelem yang hingga kini sering dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya yang dilindungi oleh undang-undang, Taman Narmada telah melalui berbagai tahap restorasi. Gempa besar yang mengguncang Lombok pada tahun 2018 sempat memberikan dampak kerusakan pada beberapa struktur tembok dan bangunan Bale Terang. Namun, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) telah melakukan pemugaran intensif untuk mengembalikan bentuk aslinya tanpa menghilangkan nilai historis material bangunannya.

Saat ini, Taman Narmada berfungsi ganda: sebagai museum terbuka yang menceritakan sejarah monarki di Lombok dan sebagai destinasi wisata unggulan. Pengelolaan taman dilakukan dengan sangat ketat untuk memastikan kebersihan kolam dan kelestarian struktur batu bata kuno yang menyusun dinding-dinding taman.

#

Kesimpulan: Warisan yang Tak Lekang Oleh Waktu

Taman Narmada adalah bukti nyata kepiawaian manusia dalam merekayasa alam demi tujuan spiritual dan fungsional. Ia bukan sekadar replika gunung, melainkan simbol kerendahan hati seorang penguasa di hadapan alam semesta. Dengan kombinasi antara keindahan lansekap, kedalaman makna religius, dan ketahanan arsitektur, Taman Narmada tetap berdiri kokoh sebagai permata sejarah di Lombok Barat, mengingatkan generasi masa kini akan keagungan peradaban masa lalu yang harmonis dengan alam.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Raya Narmada, Lembuak, Kec. Narmada, Kabupaten Lombok Barat
entrance fee
Rp 15.000 - Rp 30.000
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Lombok Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Lombok Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Lombok Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Lombok Barat