Situs Sejarah

Candi Borobudur

di Magelang, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Candi Borobudur: Epik Batu dari Dinasti Syailendra

Candi Borobudur bukan sekadar tumpukan batu andesit yang menjulang di dataran Kedu, Magelang, Jawa Tengah. Ia adalah manifestasi fisik dari kosmologi Buddhis, sebuah mahakarya arsitektur yang melampaui zamannya, dan saksi bisu kejayaan peradaban Nusantara di masa lampau. Sebagai monumen Buddhis terbesar di dunia, Borobudur menyimpan narasi sejarah yang membentang selama lebih dari satu milenium.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Candi Borobudur dibangun pada masa keemasan Dinasti Syailendra, penguasa Kerajaan Mataram Kuno yang menganut agama Buddha aliran Mahayana. Berdasarkan analisis paleografi pada prasasti pendek yang terpahat di atas bingkai relief kaki candi (Karmawibhangga), diperkirakan pembangunan dimulai sekitar tahun 750 Masehi. Pembangunan ini diyakini digagas oleh Raja Wisnu dan dilanjutkan oleh keturunannya, Raja Indra dan Raja Samaratungga.

Proses konstruksi memakan waktu sekitar 75 hingga 100 tahun, dan baru benar-benar selesai pada masa pemerintahan Ratu Pramodawardhani sekitar tahun 825 Masehi. Nama "Borobudur" sendiri masih menjadi subjek diskusi para ahli. Sir Thomas Stamford Raffles, yang mempopulerkan situs ini ke dunia Barat, menduga nama tersebut berasal dari kata "Boro" (nama desa setempat) dan "Budur" (gunung), yang berarti "Candi di atas bukit". Namun, teori lain menyebutkan asal kata "Vihara Buddha Uhr" yang berarti Biara di Tempat Tinggi.

#

Arsitektur dan Filosofi Kosmologis

Secara arsitektural, Borobudur merupakan perpaduan antara konsep pemujaan leluhur asli Indonesia, yaitu punden berundak, dengan konsep stupa dari India. Struktur candi berbentuk piramida berundak yang terdiri dari sembilan platform: enam berbentuk bujur sangkar dan tiga berbentuk lingkaran, dengan sebuah stupa utama di puncaknya.

Desain ini mengikuti konsep kosmologi Buddhis tentang tiga tingkatan alam semesta:

1. Kamadhatu (Alam Duniawi): Terletak pada bagian dasar candi yang sempat tertutup (kaki candi). Bagian ini menggambarkan alam manusia yang masih terikat oleh nafsu dan keinginan rendah. Terdapat 160 relief Karmawibhangga yang menggambarkan hukum sebab-akibat.

2. Rupadhatu (Alam Berwujud): Terdiri dari empat galeri persegi. Di sini, manusia mulai melepaskan diri dari nafsu tetapi masih terikat oleh bentuk dan rupa. Dinding-dindingnya dihiasi 1.212 relief dekoratif dan 1.460 relief naratif, termasuk kisah Lalitavistara (riwayat hidup Buddha) dan Jataka (kisah kehidupan sebelumnya).

3. Arupadhatu (Alam Tanpa Wujud): Terdiri dari tiga teras melingkar yang dihiasi dengan 72 stupa berlubang berisi patung Buddha yang sedang bermeditasi. Di sini tidak ada lagi relief, melambangkan kemurnian tertinggi dan pembebasan dari segala bentuk duniawi menuju Nirwana, yang disimbolkan oleh stupa pusat yang kosong namun megah.

#

Teknik Konstruksi yang Unik

Salah satu fakta sejarah yang paling mengagumkan adalah Borobudur dibangun tanpa menggunakan semen atau bahan perekat modern. Sebanyak kurang lebih 2 juta blok batu andesit (sekitar 55.000 meter kubik) dipahat dan disusun dengan sistem interlocking (penguncian) seperti puzzle raksasa. Batu-batu tersebut diambil dari sungai-sungai di sekitar Magelang, seperti Sungai Progo dan Elo. Borobudur juga memiliki sistem drainase yang sangat canggih pada masanya untuk mencegah banjir di bagian dalam lorong candi, dengan lubang air (gorgon) berbentuk kepala singa atau Makara.

#

Periode Pengabaian dan Penemuan Kembali

Kejayaan Borobudur mulai meredup seiring dengan beralihnya pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada abad ke-10, kemungkinan akibat letusan dahsyat Gunung Merapi atau pergeseran politik. Selama berabad-abad, candi ini terlupakan, terkubur di bawah lapisan abu vulkanik dan tertutup rimbunnya hutan tropis.

Dunia internasional baru menyadari keberadaannya kembali pada tahun 1814, ketika Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, mendengar kabar tentang adanya monumen besar yang terkubur di dekat desa Bumisegoro. Ia mengutus H.C. Cornelius, seorang insinyur Belanda, untuk melakukan pembersihan. Selama dua bulan, 200 penduduk desa menebang pohon dan membongkar tanah untuk menyingkap kembali kemegahan Borobudur.

#

Upaya Restorasi dan Pelestarian

Sejak penemuannya, Borobudur mengalami berbagai tantangan, mulai dari penjarahan kepala arca oleh kolektor hingga kerusakan akibat faktor alam. Pemugaran besar-besaran pertama dilakukan oleh Van Erp antara tahun 1907-1911. Namun, upaya penyelamatan yang paling komprehensif terjadi pada periode 1973-1983 melalui proyek kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan UNESCO.

Dalam proyek ini, lebih dari satu juta batu dibongkar, dibersihkan, dan dikatalogkan menggunakan sistem komputer awal untuk memastikan stabilitas struktur dan sistem drainase. Keberhasilan restorasi ini membawa Borobudur ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991. Saat ini, pemerintah Indonesia melalui Balai Konservasi Borobudur terus melakukan pemantauan ketat, termasuk pembatasan jumlah pengunjung yang naik ke struktur candi untuk menjaga kelestarian batu andesit dari keausan.

#

Makna Budaya dan Religi di Era Modern

Meskipun ribuan tahun telah berlalu, Borobudur tetap menjadi pusat spiritualitas yang vital. Setiap tahun, ribuan umat Buddha dari seluruh dunia berkumpul di sini untuk merayakan Hari Raya Waisak. Prosesi jalan kaki dari Candi Mendut menuju Borobudur menjadi simbol perjalanan spiritual menuju pencerahan.

Selain sebagai tempat ibadah, Borobudur adalah perpustakaan batu terbesar di dunia. Relief-reliefnya tidak hanya menceritakan ajaran agama, tetapi juga mendokumentasikan kehidupan sosial-budaya masyarakat Jawa pada abad ke-8 dan ke-9, mulai dari bentuk rumah tradisional, jenis flora dan fauna, hingga teknologi transportasi seperti kapal bercadik yang legendaris.

Secara historis, Candi Borobudur adalah bukti nyata bahwa Nusantara pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, seni, dan spiritualitas dunia. Keberadaannya di Magelang tetap menjadi magnet yang menarik jutaan orang untuk mengagumi betapa majunya peradaban nenek moyang bangsa Indonesia dalam memadukan estetika, teknik sipil, dan kedalaman filosofi hidup.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Badrawati, Borobudur, Kabupaten Magelang
entrance fee
Rp 50.000 (Domestik), Rp 4.000 - Rp 15.000 (Pelajar)
opening hours
Selasa - Minggu, 06:30 - 16:30

Tempat Menarik Lainnya di Magelang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Magelang

Pelajari lebih lanjut tentang Magelang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Magelang