Candi Cetho
di Magetan, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Latar Belakang Sejarah dan Periode Pembangunan
Candi Cetho diperkirakan dibangun pada masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit, tepatnya sekitar abad ke-15 (sekitar tahun 1451-1470 Masehi). Berdasarkan prasasti yang ditemukan di lokasi, tertulis angka tahun menggunakan huruf Jawa Kuno yang menunjukkan angka 1373 Saka atau 1451 Masehi. Periode ini merupakan masa pemerintahan Raja Brawijaya V, penguasa terakhir Majapahit sebelum keruntuhan kerajaan tersebut akibat tekanan internal dan ekspansi kesultanan-kesultanan Islam di pesisir utara Jawa.
Candi ini dibangun sebagai tempat pemujaan sekaligus tempat penyucian diri (ruwat). Pemilihan lokasi di ketinggian 1.496 meter di atas permukaan laut bukan tanpa alasan. Dalam kosmologi Hindu-Jawa, gunung dianggap sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan roh leluhur. Pembangunan Candi Cetho di lereng Gunung Lawu mencerminkan upaya pelarian spiritual para bangsawan dan pendeta Majapahit yang ingin tetap mempertahankan tradisi leluhur di tengah perubahan peta politik di dataran rendah.
Arsitektur yang Unik dan Berbeda
Berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah bagian selatan seperti Prambanan atau Borobudur yang memiliki struktur vertikal yang megah (gaya Jawa Tengah), Candi Cetho memiliki gaya arsitektur berundak (punden berundak). Gaya ini lebih menyerupai tradisi megalitikum asli Nusantara yang dipadukan dengan konsep Hindu.
Struktur candi terdiri dari sembilan tingkatan atau teras yang semakin ke atas semakin suci. Keunikan utama Candi Cetho terletak pada bentuk relief dan patung-patungnya yang tidak lagi mengikuti kaidah seni India (yang biasanya proporsional dan halus), melainkan lebih mirip dengan karakter Wayang Kulit—berbentuk pipih dengan wajah tampak samping. Hal ini menandakan adanya proses "Indigenisasi" atau kembalinya unsur lokal Nusantara dalam seni rupa Hindu-Jawa di akhir masa Majapahit.
Salah satu elemen arsitektur yang paling menonjol adalah gapura megah di teras pertama yang menyerupai bentuk candi bentar. Selain itu, terdapat susunan batu di lantai yang membentuk simbol "Garuda" dan "Kura-kura" (Akupa), yang berkaitan erat dengan mitologi Samudramanthana atau pengadukan samudra kshira untuk mencari air suci amerta.
Signifikansi Historis dan Simbolisme Spiritual
Candi Cetho memiliki fungsi utama sebagai tempat pengruwatan atau pembebasan dari kutukan dan dosa. Nama "Cetho" dalam bahasa Jawa berarti "jelas". Secara filosofis, di tempat inilah seseorang diharapkan mendapatkan kejelasan atau pencerahan spiritual.
Keunikan sejarah lainnya adalah adanya relief yang menggambarkan simbol lingga dan yoni yang sangat eksplisit di lantai teras. Berbeda dengan candi lain di mana lingga-yoni biasanya berada di dalam bilik utama, di Cetho simbol ini diletakkan di ruang terbuka sebagai simbol kesuburan dan penciptaan alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu, masyarakat Majapahit akhir mempraktikkan bentuk sinkretisme Siwa-Buddha yang sangat kuat dengan unsur pemujaan arwah leluhur.
Tokoh dan Peristiwa Terkait
Tokoh sentral yang selalu dikaitkan dengan Candi Cetho adalah Prabu Brawijaya V. Menurut legenda setempat dan naskah-naskah tradisional, sang raja melarikan diri ke Gunung Lawu setelah kerajaannya runtuh. Ia diyakini melakukan moksa (melepaskan diri dari ikatan duniawi) di kawasan ini. Selain Brawijaya V, tokoh seperti Sabdo Palon dan Naya Genggong—penasihat spiritual raja yang setia—juga sering disebut dalam narasi lisan masyarakat sekitar sebagai penjaga gaib kawasan Lawu, termasuk Candi Cetho.
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Situs ini pertama kali dilaporkan oleh arkeolog Belanda, Van de Vlies, pada tahun 1842. Namun, pemugaran besar-besaran baru dilakukan pada tahun 1970-an oleh Sudjono Humardani, asisten pribadi Presiden Soeharto. Sayangnya, pemugaran ini sempat menuai kritik dari para arkeolog karena dianggap tidak sepenuhnya mengikuti kaidah arkeologi yang ketat. Beberapa bangunan baru ditambahkan tanpa data historis yang kuat, seperti bangunan kayu (pendopo) di teras atas untuk melindungi situs.
Meskipun demikian, saat ini Candi Cetho dikelola dengan sangat baik oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Statusnya sebagai Cagar Budaya Nasional menjamin bahwa setiap intervensi fisik harus melalui kajian mendalam. Kawasan sekitar candi juga dijaga keasriannya untuk mempertahankan atmosfer spiritualnya.
Relevansi Budaya dan Keagamaan Saat Ini
Hingga saat ini, Candi Cetho bukan sekadar fosil sejarah. Ia adalah "candi yang hidup". Masyarakat Hindu di sekitar lereng Lawu, serta peziarah dari Bali dan daerah lain di Indonesia, masih rutin menggunakan candi ini untuk upacara keagamaan seperti Galungan, Kuningan, dan ritual Nyepi.
Selain itu, setiap malam satu Suro (tahun baru Jawa), Candi Cetho menjadi pusat perhatian bagi para pencari petunjuk spiritual dan pelestari budaya Jawa. Keberadaannya menjadi jembatan antara masa lalu kejayaan Hindu-Jawa dengan masa kini, menjadikannya salah satu situs paling sakral sekaligus eksotis di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Dengan letaknya yang sering diselimuti kabut dan pemandangan lembah yang memukau, Candi Cetho tetap berdiri sebagai saksi bisu keteguhan keyakinan sebuah peradaban yang menolak untuk sepenuhnya hilang ditelan zaman. Ia adalah monumen terakhir dari sebuah imperium besar, Majapahit, yang memilih untuk "pulang" ke puncak gunung demi keabadian.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Magetan
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Magetan
Pelajari lebih lanjut tentang Magetan dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Magetan