Candi Singosari
di Malang, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Konteks Sejarah
Berdasarkan keterangan dalam Kitab Negarakertagama dan Prasasti Gajah Mada (1351 M), Candi Singosari dibangun sebagai tempat pendarmaan atau penghormatan terakhir bagi Raja Kertanegara, penguasa terakhir Kerajaan Singhasari yang gugur pada tahun 1292 akibat pemberontakan Jayakatwang dari Gelang-gelang. Raja Kertanegara dikenal sebagai pemimpin yang visioner dengan gagasan "Cakrawala Mandala Dwipantara", sebuah upaya untuk menyatukan wilayah Nusantara di bawah satu kedaulatan guna membendung ekspansi Kekaisaran Mongol.
Pembangunan candi ini diperkirakan berlangsung sekitar tahun 1300 Masehi. Menariknya, para sejarawan meyakini bahwa Candi Singosari sebenarnya merupakan bangunan yang belum selesai sepenuhnya (unfinished). Hal ini terlihat dari beberapa bagian relief dan hiasan yang masih berupa guratan kasar atau blok batu polos, yang kemungkinan besar disebabkan oleh ketidakstabilan politik setelah keruntuhan kerajaan dan transisi pemerintahan ke Majapahit.
Arsitektur Unik dan Teknik Konstruksi
Candi Singosari memiliki karakteristik arsitektural yang sangat unik dan berbeda dari candi-candi di Jawa Tengah maupun candi Jawa Timur lainnya. Keunikan utama terletak pada penempatan ruang utama atau garbhagrha. Jika biasanya ruang suci berada di tengah badan candi, pada Candi Singosari, ruang utama justru terletak di bagian kaki candi.
Struktur candi terdiri dari batur (alas) yang tinggi, kaki candi yang berisi ruangan-ruangan, badan candi yang ramping, dan atap berbentuk limas bersusun. Teknik konstruksinya menggunakan sistem "tumpuk taru" tanpa perekat mortar, melainkan memanfaatkan teknik penguncian batu dan penggosokan antar permukaan batu hingga rapat.
Salah satu fitur yang paling mencolok adalah ΩΨ¬ΩΨ― (adanya) empat buah ruang di bagian kaki yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Di dalam ruangan-ruangan inilah dahulu tersimpan arca-arca penting. Di sisi utara terdapat arca Durga Mahisasuramardini, di timur arca Ganesha, di selatan arca Resi Agastya, dan di bagian barat terdapat ruang kosong yang dulunya diyakini berisi arca roro jonggrang atau perwujudan lainnya. Sayangnya, sebagian besar arca asli kini telah dipindahkan ke Museum Nasional di Jakarta atau Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda.
Signifikansi Keagamaan: Sinkretisme Siwa-Buddha
Candi Singosari adalah representasi fisik dari filsafat keagamaan yang dianut oleh Raja Kertanegara, yaitu sinkretisme Siwa-Buddha (Tantrayana). Kertanegara diyakini telah mencapai tingkatan spiritual tertinggi sebagai sosok Bhairawa. Dalam konsep pendarmaan, candi ini berfungsi sebagai titik pertemuan antara dunia manusia dan dunia dewata, di mana raja yang telah mangkat dianggap kembali bersatu dengan zat ketuhanan.
Pola hiasan pada candi juga mencerminkan kosmologi Hindu-Buddha. Relief kepala Kala yang terdapat di atas ambang pintu tidak memiliki rahang bawah, sebuah ciri khas langgam Jawa Timur yang melambangkan penguasa waktu dan pelindung tempat suci dari pengaruh jahat. Penggunaan singa-singa yang dipahat pada sudut-sudut kaki candi juga menegaskan nama "Singosari" yang berarti "Pusat Singa".
Dwarapala: Sang Penjaga Raksasa
Berjarak sekitar 200 meter ke arah barat dari bangunan utama candi, terdapat dua buah arca Dwarapala yang sangat ikonik. Arca ini merupakan patung penjaga terbesar di Indonesia, dengan tinggi mencapai 3,7 meter. Dipahat dari batu monolitik (batuan tunggal), kedua raksasa ini digambarkan dalam posisi madiyo (setengah berlutut) dengan tangan memegang gada.
Keberadaan Dwarapala yang sedemikian besar menunjukkan betapa pentingnya kompleks ini pada masanya. Secara simbolis, kedua arca ini bertugas menjaga wilayah suci atau pintu gerbang menuju ibu kota kerajaan. Detail pada patung Dwarapala, mulai dari hiasan ular di tubuhnya hingga ekspresi wajah yang menyeramkan, menunjukkan kemahiran luar biasa para pemahat Singhasari dalam mengolah batu keras menjadi karya seni yang ekspresif.
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Kondisi Candi Singosari pertama kali dilaporkan oleh orang Barat pada awal abad ke-19, di mana saat itu candi terkubur oleh tanah dan tertutup vegetasi hutan yang lebat. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, dilakukan beberapa kali upaya pembersihan dan pendokumentasian. Namun, pemugaran secara sistematis baru dilakukan pada tahun 1934-1936 oleh jawatan purbakala Belanda (Oudheidkundige Dienst).
Restorasi besar-besaran dilanjutkan oleh Pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan. Saat ini, Candi Singosari dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI. Meskipun beberapa bagian atap telah hilang dan banyak arca yang tidak lagi berada di tempat asalnya, struktur utama candi tetap berdiri kokoh. Lingkungan sekitar candi kini telah ditata menjadi taman yang rapi, menjadikannya destinasi wisata sejarah edukatif bagi masyarakat luas.
Fakta Unik dan Warisan Budaya
Satu fakta sejarah yang jarang diketahui adalah bahwa Candi Singosari sering disebut sebagai "Candi Menara" karena bentuknya yang menjulang tinggi jika dibandingkan dengan luas alasnya. Selain itu, situs ini merupakan satu-satunya candi di Indonesia yang memiliki "Kala" dengan gaya pahatan yang sangat mendetail namun sengaja dibiarkan tidak selesai di beberapa sisi, memberikan petunjuk bagi para arkeolog mengenai tahapan kerja seniman zaman dahulu.
Warisan Candi Singosari tidak hanya berhenti pada bangunannya. Semangat penyatuan Nusantara yang diinisiasi oleh Kertanegara di tempat ini kemudian diteruskan oleh menantunya, Raden Wijaya, yang mendirikan Kerajaan Majapahit, dan nantinya dicapai sepenuhnya oleh Gajah Mada melalui Sumpah Palapa.
Sebagai situs cagar budaya, Candi Singosari berfungsi sebagai jembatan identitas bagi masyarakat Malang dan Jawa Timur. Setiap tahunnya, situs ini masih digunakan untuk upacara keagamaan tertentu oleh umat Hindu, menunjukkan bahwa nilai kesucian bangunan ini tetap terjaga melintasi zaman. Candi Singosari bukan hanya monumen kematian seorang raja, melainkan simbol kebangkitan visi besar tentang kedaulatan sebuah bangsa.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Malang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Malang
Pelajari lebih lanjut tentang Malang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Malang