Gereja Tua Rekas
di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Peradaban dan Iman di Gereja Tua Rekas: Saksi Bisu Misi Katolik di Manggarai
Gereja Tua Rekas bukan sekadar bangunan peribadatan; ia adalah monumen hidup yang merekam awal mula masuknya pengaruh kolonial dan penyebaran agama Katolik di daratan Flores Barat, khususnya di wilayah yang kini masuk dalam administratif Kabupaten Manggarai Barat (dahulu merupakan bagian dari kesatuan wilayah Manggarai). Berdiri kokoh di Desa Rekas, Kecamatan Mbeliling, gereja ini menjadi salah satu situs sejarah paling monumental yang menggambarkan sintesis antara arsitektur Eropa dan semangat lokal masyarakat Manggarai.
#
Asal-Usul Historiografi dan Periode Pembangunan
Sejarah Gereja Tua Rekas tidak dapat dipisahkan dari misi Ordo Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD) yang mulai merambah pedalaman Flores pada awal abad ke-20. Pembangunan gereja ini dimulai pada periode 1920-an hingga 1930-an, sebuah masa di mana infrastruktur di pedalaman Manggarai masih sangat terbatas. Rekas dipilih sebagai pusat misi (paroki) karena letaknya yang strategis sebagai titik temu jalur perdagangan dan komunikasi antara wilayah pesisir Labuan Bajo dengan pusat pemerintahan di Ruteng.
Gereja ini dibangun di bawah pengawasan para misionaris asal Belanda dan Jerman. Salah satu tokoh sentral yang sering dikaitkan dengan pembangunan dan pengembangan paroki ini adalah Pastor Wilhelm Baack, SVD. Pengerjaannya melibatkan gotong royong (lonto leok) ribuan umat setempat yang mengangkut material secara manual. Fakta unik yang menyertai pembangunannya adalah penggunaan material lokal seperti batu kali dan pasir yang dicampur dengan kapur hasil pembakaran kulit kerang, menciptakan struktur dinding yang sangat kuat meski tanpa semen modern dalam jumlah besar.
#
Arsitektur: Perpaduan Gaya Neo-Gotik dan Adaptasi Tropis
Secara arsitektural, Gereja Tua Rekas menampilkan ciri khas gaya Neo-Gotik Eropa yang disederhanakan. Hal ini terlihat dari bentuk jendela dan pintu yang melengkung lancip (pointed arch) di bagian atasnya. Namun, yang paling mencolok adalah konstruksi atapnya yang tinggi dan curam, sebuah adaptasi cerdas terhadap curah hujan tinggi di wilayah pegunungan Mbeliling.
Dinding gereja memiliki ketebalan mencapai 50 hingga 60 sentimeter, memberikan isolasi suhu yang baik sehingga bagian dalam gereja tetap sejuk meskipun cuaca di luar terik. Lantai gereja awalnya menggunakan ubin semen bermotif yang didatangkan langsung dari Eropa melalui pelabuhan Reo atau Labuan Bajo, yang kemudian diangkut menggunakan kuda atau dipikul oleh penduduk melewati medan perbukitan yang terjal.
Interior gereja didominasi oleh pilar-pilar kayu jati dan kayu besi (kayu ulin lokal) yang menyangga struktur atap. Altar utama tetap mempertahankan desain klasik dengan ukiran kayu yang halus, mencerminkan estetika gereja-gereja Katolik abad pertengahan di Eropa namun dengan sentuhan ornamen lokal Manggarai pada beberapa bagian detail kayu.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Gereja Tua Rekas berfungsi sebagai "Ibu" bagi banyak paroki di wilayah Manggarai Barat. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), gereja ini sempat menjadi tempat perlindungan bagi warga sipil dan para misionaris yang tidak ditawan. Ketahanan bangunannya menjadikannya salah satu sedikit bangunan permanen yang selamat dari berbagai guncangan sejarah, termasuk gempa bumi besar yang sering melanda wilayah NTT.
Situs ini juga menjadi pusat pendidikan pertama di wilayah tersebut. Di sekitar gereja, para misionaris mendirikan sekolah-sekolah rakyat (Volkschool) yang menjadi cikal bakal lahirnya kaum terpelajar di Manggarai. Gereja Rekas menjadi saksi transisi sosial dari masyarakat yang menganut kepercayaan leluhur (animisme) menuju masyarakat Katolik yang modern tanpa meninggalkan akar budayanya.
#
Tokoh dan Pengaruh Budaya
Selain Pastor Wilhelm Baack, nama-nama seperti Pastor Jan van Roosmalen juga tercatat dalam memori kolektif masyarakat Rekas sebagai sosok yang memperkuat pondasi iman dan sosial di sana. Kehadiran gereja ini mengubah pola pemukiman warga yang semula terpencar di perbukitan menjadi lebih terpusat di sekitar kompleks gereja, menciptakan struktur desa yang lebih terorganisir.
Keterikatan budaya sangat terasa saat perayaan hari besar keagamaan atau perayaan syukur panen (Penti). Masyarakat sering kali memadukan ritual adat di halaman gereja atau di rumah adat (Mbaru Niang) yang letaknya tidak jauh dari situs gereja, menunjukkan harmonisasi antara iman Katolik dengan tradisi Manggarai yang kental.
#
Status Pelestarian dan Restorasi
Saat ini, Gereja Tua Rekas telah ditetapkan sebagai objek cagar budaya di bawah perlindungan pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Kebudayaan. Mengingat usianya yang telah melampaui satu abad, beberapa upaya restorasi telah dilakukan. Tantangan utama dalam pelestarian adalah menjaga keaslian material kayu yang mulai mengalami pelapukan serta mempertahankan ubin asli yang beberapa di antaranya mulai retak.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (sebagai pemekaran dari Manggarai) terus berupaya mempromosikan Gereja Tua Rekas sebagai destinasi wisata religi dan sejarah (Wisata Sejarah). Restorasi dilakukan secara hati-hati agar tidak menghilangkan nilai historisnya. Atap seng yang semula digunakan kini mulai dipertimbangkan untuk diganti dengan material yang lebih mendekati bentuk aslinya guna menjaga estetika masa silam.
#
Kesimpulan: Warisan bagi Generasi Mendatang
Gereja Tua Rekas adalah lebih dari sekadar tumpukan batu dan kayu. Ia adalah simbol keteguhan, gotong royong, dan sejarah panjang pertemuan dua peradaban. Bagi masyarakat Manggarai, gereja ini adalah identitas. Keberadaannya mengingatkan pada masa-masa sulit pembangunan di bawah kolonialisme, namun juga masa-masa keemasan penyebaran literasi dan spiritualitas. Menjaga Gereja Tua Rekas berarti menjaga memori kolektif bangsa tentang bagaimana iman dan kebudayaan dapat tumbuh berdampingan di tanah Flores yang diberkati.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Manggarai Timur
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Manggarai Timur
Pelajari lebih lanjut tentang Manggarai Timur dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Manggarai Timur