Situs Sejarah

Tugu Pendaratan Injil Laharoi

di Manokwari Selatan, Papua Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian

Sejarah Tugu Pendaratan Injil Laharoi berakar pada gelombang penginjilan di Tanah Papua yang dimulai sejak pertengahan abad ke-19. Jika Pulau Mansinam di Manokwari dikenal sebagai gerbang utama masuknya Injil pada 5 Februari 1855 oleh Ottow dan Geissler, maka Laharoi di Manokwari Selatan merupakan titik ekspansi krusial yang menandai penyebaran ajaran tersebut ke wilayah pedalaman dan pesisir selatan.

Tugu ini didirikan untuk mengenang kedatangan para penginjil perintis yang mendarat di pesisir Laharoi. Periode pendirian tugu ini secara fisik dilakukan dalam beberapa fase, dengan renovasi besar yang dilakukan untuk memperingati hari-hari bersejarah masuknya Injil di wilayah tersebut. Pembangunan tugu ini diinisiasi oleh para tokoh gereja lokal dan tetua adat sebagai upaya untuk memelihara memori kolektif generasi muda tentang bagaimana kakek-nenek moyang mereka beralih dari praktik kepercayaan tradisional menuju ajaran baru yang membawa pendidikan dan kesehatan.

Gaya Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Tugu Pendaratan Injil Laharoi menampilkan karakteristik yang menggabungkan simbolisme religius Kristen dengan elemen lokal Papua. Struktur utamanya biasanya didominasi oleh pilar tinggi yang menjulang ke langit, melambangkan hubungan antara manusia dan Tuhan.

Konstruksi tugu ini menggunakan material beton bertulang yang kokoh untuk menahan korosi air laut, mengingat lokasinya yang sangat dekat dengan bibir pantai. Pada bagian puncak tugu, terdapat simbol Alkitab terbuka yang terbuat dari pahatan semen atau logam, yang melambangkan bahwa firman Tuhan telah terbuka dan diterima oleh masyarakat Laharoi. Di bagian dasar tugu, terdapat relief atau prasasti yang menuliskan nama-nama tokoh perintis dan tanggal-tanggal penting pendaratan. Anak tangga yang mengelilingi tugu sering kali berjumlah ganjil, merujuk pada filosofi kesucian dalam tradisi lokal.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Signifikansi utama dari situs Laharoi adalah perannya sebagai pusat distribusi peradaban. Sebelum Injil masuk, wilayah Manokwari Selatan dikenal dengan hukum adat yang keras dan sering terjadi peperangan antarsuku. Peristiwa pendaratan di Laharoi menandai dimulainya era "Pax Papuana" atau perdamaian Papua di wilayah tersebut.

Salah satu peristiwa unik yang tercatat dalam sejarah lisan masyarakat setempat adalah prosesi penyambutan para penginjil. Berbeda dengan wilayah lain yang mungkin menunjukkan resistensi, masyarakat di Laharoi melalui para kepala sukunya menunjukkan keterbukaan. Hal ini disebabkan oleh adanya nubuat atau pesan dari leluhur mereka tentang akan datangnya "kabar baik" dari seberang laut. Pendaratan di Laharoi menjadi jembatan bagi para penginjil untuk kemudian masuk lebih jauh ke pegunungan Arfak, membawa literasi (kemampuan membaca dan menulis) kepada suku-suku yang sebelumnya buta huruf.

Tokoh Penting dan Koneksi Periodik

Situs ini berkaitan erat dengan para penginjil asal Maluku dan Sangir-Talaud yang menjadi "guru jemaat" (zending) pada awal abad ke-20. Tokoh-tokoh seperti Guru Jemaat dari Ambon memainkan peran penting dalam menerjemahkan nilai-nilai Alkitab ke dalam konteks budaya lokal sehingga dapat diterima tanpa menghilangkan identitas kesukuan mereka.

Secara periodik, Tugu Laharoi terhubung dengan masa keemasan zending Belanda (Gereja Kristen Injili di Tanah Papua). Pada masa itu, Laharoi bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan dasar (Volksschool) dan pelayanan kesehatan sederhana. Para tokoh adat setempat yang masuk Kristen pertama kali juga diabadikan namanya dalam tradisi lisan di sekitar tugu ini sebagai pionir transformasi sosial.

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Tugu Pendaratan Injil Laharoi berada di bawah pengawasan Pemerintah Kabupaten Manokwari Selatan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta dikelola secara komunal oleh jemaat gereja setempat. Mengingat lokasinya yang terpapar cuaca ekstrem dan abrasi pantai, upaya restorasi berkala terus dilakukan.

Pemerintah daerah telah menetapkan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata religi unggulan. Restorasi terakhir mencakup pembenahan pelataran tugu, penambahan lampu penerangan, dan pembangunan akses jalan yang lebih baik bagi para peziarah. Selain itu, terdapat rencana untuk membangun museum mini atau pusat informasi di sekitar tugu untuk menyimpan artefak-artefak peninggalan masa zending, seperti lonceng gereja tua dan Alkitab kuno dalam bahasa daerah.

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Manokwari Selatan, Tugu Laharoi adalah "Altar Perjanjian". Setiap tahun, ribuan orang berkumpul di lokasi ini untuk merayakan peringatan hari masuknya Injil. Upacara tersebut biasanya melibatkan tarian adat Tumbu Tanah yang dipadukan dengan puji-pujian gerejawi, menciptakan sinkretisme budaya yang harmonis.

Secara budaya, tugu ini menjadi simbol identitas orang Laharoi sebagai masyarakat yang moderat dan terbuka terhadap kemajuan. Secara religi, tempat ini dianggap sakral; banyak jemaat yang datang untuk berdoa dan merenung, mencari inspirasi dari keberanian para penginjil masa lalu. Keberadaan tugu ini membuktikan bahwa agama tidak menghancurkan budaya lokal, melainkan memperkayanya dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Fakta Historis Unik

Salah satu fakta unik mengenai situs ini adalah keberadaan sebuah pohon tua di dekat tugu yang konon digunakan oleh para penginjil pertama sebagai tempat berteduh dan mengajar tepat setelah mereka turun dari perahu. Pohon ini dianggap sebagai saksi hidup sejarah. Selain itu, koordinat tugu ini secara tradisional dianggap sebagai titik nol kilometer bagi penyebaran pendidikan di wilayah Manokwari Selatan, karena dari titik inilah sekolah-sekolah rakyat pertama mulai dibangun dan menyebar ke distrik-distrik sekitarnya.

Tugu Pendaratan Injil Laharoi tetap berdiri kokoh sebagai mercusuar sejarah, mengingatkan setiap orang yang berkunjung bahwa kemajuan sebuah bangsa sering kali dimulai dari sebuah keberanian untuk menerima perubahan di tepian pantai yang sunyi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Pesisir Pantai Ransiki, Kabupaten Manokwari Selatan
entrance fee
Gratis
opening hours
24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Manokwari Selatan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Manokwari Selatan

Pelajari lebih lanjut tentang Manokwari Selatan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Manokwari Selatan