Masjid Raya Al-Mashun
di Medan, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Konteks Sejarah dan Visi Sultan Ma'mun Al Rasyid
Pembangunan Masjid Raya Al-Mashun merupakan inisiatif langsung dari Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah, penguasa Kesultanan Deli ke-9. Sultan memiliki visi untuk membangun sebuah masjid yang kemegahannya melampaui istananya sendiri, Istana Maimun. Hal ini didasarkan pada prinsip religius bahwa rumah Tuhan haruslah lebih megah daripada tempat tinggal manusia.
Pembangunan memakan waktu sekitar tiga tahun dan selesai pada 10 September 1909. Total biaya pembangunan mencapai satu juta Gulden, angka yang sangat fantastis pada masa itu. Menariknya, Sultan menanggung sebagian besar biaya tersebut secara pribadi, yang menunjukkan kemakmuran Kesultanan Deli berkat industri perkebunan tembakau yang mendunia kala itu.
Perancang dan Filosofi Eklektik: Perpaduan Tiga Benua
Keunikan utama Masjid Raya Al-Mashun terletak pada gaya arsitekturnya yang bersifat eklektik. Sultan mempekerjakan arsitek Belanda, Theodorus van Erp, yang juga dikenal karena keterlibatannya dalam restorasi Candi Borobudur. Namun, rancangan awal dikerjakan oleh J.A. Tingdeman.
Gaya arsitektur masjid ini merupakan perpaduan harmonis antara unsur Maroko (Moor), Spanyol, Timur Tengah, dan sedikit sentuhan Eropa (Gothic). Pilihan gaya ini bukan tanpa alasan; ia mencerminkan keterbukaan Kesultanan Deli terhadap dunia internasional serta ambisi untuk menyejajarkan diri dengan peradaban besar dunia. Pengaruh Moor sangat kental terlihat pada bentuk lengkungan tapal kuda (horseshoe arches) dan dekorasi geometris yang rumit, sementara pengaruh Gothic terlihat pada proporsi vertikal dan detail jendela.
Struktur Bangunan: Denah Bintang Bersegi Delapan
Berbeda dengan masjid-masjid tradisional di Nusantara yang pada masa itu umumnya berbentuk persegi dengan atap tumpang, Masjid Raya Al-Mashun mengadopsi denah berbentuk bintang segi delapan (oktagonal). Dalam kosmologi Islam, angka delapan sering dikaitkan dengan delapan pintu surga atau delapan malaikat pemikul arsy.
Secara teknis, denah oktagonal ini memberikan kestabilan struktur yang luar biasa sekaligus menciptakan ruang interior yang luas tanpa banyak kolom penyangga di tengah. Bangunan ini memiliki empat sayap utama yang menjorok keluar di sisi utara, selatan, timur, dan barat, yang berfungsi sebagai serambi atau pintu masuk (portico). Setiap sayap ini dimahkotai oleh kubah hitam yang kontras dengan warna dinding yang krem cerah.
Detail Material dan Inovasi Struktural
Sultan Ma’mun Al Rasyid tidak berkompromi dalam hal kualitas material. Sebagian besar bahan bangunan didatangkan langsung dari luar negeri. Marmer untuk lantai dan dinding diimpor dari Italia dan Jerman, sementara kaca patri yang menghiasi jendela-jendela besar didatangkan dari Prancis. Kaca patri ini bukan sekadar penghias, melainkan elemen yang mengatur pencahayaan alami di dalam ruang utama, menciptakan suasana religius yang syahdu saat sinar matahari menembus motif-motif geometris berwarna-warni.
Kubah masjid yang berwarna hitam menjadi ciri khas yang paling mencolok. Berbeda dengan kubah masjid modern yang biasanya menggunakan beton atau logam ringan, kubah Al-Mashun terbuat dari kayu yang dilapisi dengan timah hitam (lead), yang memberikan ketahanan luar biasa terhadap cuaca tropis Medan sekaligus memberikan kesan estetika yang berat dan kokoh.
Interior: Simfoni Ornamen Geometris dan Flora
Masuk ke bagian dalam, pengunjung akan disambut oleh kemegahan langit-langit kubah yang menjulang tinggi. Di tengah ruang utama, terdapat pilar-pilar besar yang menyangga beban kubah pusat. Ornamen pada dinding dan langit-langit didominasi oleh motif floral dan geometris islami yang sangat detail, dikerjakan dengan teknik stuko (ukiran plester) yang halus.
Mihrab masjid, tempat imam memimpin salat, terbuat dari marmer dengan lengkungan khas Moor yang dihiasi kaligrafi Arab. Mimbar masjid yang digunakan untuk khotbah juga merupakan karya seni kayu yang sangat halus, menunjukkan keahlian pengrajin lokal yang berkolaborasi dengan desain arsitek Eropa. Keberadaan lampu kristal gantung yang mewah semakin mempertegas kesan aristokratik di dalam masjid.
Signifikansi Budaya dan Sosial di Era Modern
Selama lebih dari satu abad, Masjid Raya Al-Mashun telah berdiri sebagai saksi bisu transformasi Medan dari kota perkebunan menjadi metropolis. Masjid ini bukan hanya pusat aktivitas keagamaan, tetapi juga simbol toleransi dan kebanggaan warga Sumatera Utara. Letaknya yang berdekatan dengan Istana Maimun dan Kolam Raya menciptakan sebuah kompleks sejarah yang mengingatkan generasi muda pada akar budaya Melayu Deli.
Bagi pengunjung, pengalaman berada di masjid ini menawarkan perjalanan lintas waktu. Halaman masjid yang luas sering menjadi ruang publik di mana masyarakat berkumpul, sementara bagian dalamnya menawarkan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota. Arsitekturnya yang unik menjadikannya objek studi yang tak habis-habisnya bagi para arsitek dan sejarawan seni.
Upaya Pelestarian dan Tantangan
Sebagai bangunan cagar budaya, Masjid Raya Al-Mashun terus dirawat dengan sangat teliti. Keaslian materialnya tetap dipertahankan meskipun beberapa bagian telah mengalami restorasi minor untuk mengatasi dampak usia dan cuaca. Keunikan struktur atap hitamnya dan integritas material marmer aslinya tetap dijaga agar nilai historis dan estetika yang diwariskan oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid tidak luntur oleh zaman.
Secara keseluruhan, Masjid Raya Al-Mashun adalah perwujudan dari sintesis budaya yang jenius. Ia membuktikan bahwa Islam, budaya lokal Melayu, dan teknik arsitektur Barat dapat bertemu dalam satu titik harmoni yang menghasilkan keindahan abadi. Masjid ini bukan sekadar bangunan ikonik; ia adalah monumen peradaban yang terus memancarkan cahaya spiritualitas dan kemegahan seni dari jantung Sumatera Utara.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Medan
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Medan
Pelajari lebih lanjut tentang Medan dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Medan