Situs Sejarah

Gua Liangkabori

di Muna, Sulawesi Tenggara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-usul dan Periodisasi Sejarah

Nama "Liangkabori" berasal dari bahasa lokal suku Muna, di mana Liang berarti "gua" dan Kabori berarti "tulis" atau "lukis". Secara harfiah, Liangkabori bermakna "Gua Bertulis". Berdasarkan penelitian arkeologis dan penanggalan karbon pada serpihan alat batu serta sisa-sisa organik di sekitar situs, diperkirakan aktivitas manusia di kompleks gua ini telah dimulai sejak masa Mesolitikum (Zaman Batu Madya).

Para ahli arkeologi berpendapat bahwa lukisan-lukisan di Liangkabori berasal dari periode sekitar 4.000 hingga 1.000 tahun sebelum Masehi. Periode ini menandai transisi penting dari pola hidup berburu dan meramu (hunting and gathering) menuju pola hidup menetap dan bercocok tanam awal. Berbeda dengan gua-gua di Maros-Pangkep yang lebih banyak didominasi oleh cap tangan (hand stencil), Liangkabori menampilkan kekhasan pada motif figuratif yang lebih kompleks dan dinamis.

Arsitektur Alami dan Morfologi Situs

Secara struktural, Liangkabori merupakan gua karst yang terbentuk melalui proses pelarutan batu gamping selama jutaan tahun. Pintu masuk gua yang lebar memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam area entrance, menciptakan ruang yang ideal bagi manusia purba untuk beraktivitas tanpa harus masuk terlalu jauh ke dalam kegelapan yang lembap.

Dinding-dinding gua memiliki tekstur yang relatif halus dengan warna dasar putih kecokelatan, yang menjadi kanvas alami bagi para seniman purba. Langit-langit gua yang tinggi memberikan sirkulasi udara yang baik, sehingga kelembapan tetap terjaga—sebuah faktor kunci yang secara alami membantu pengawetan pigmen warna pada lukisan dinding gua selama ribuan tahun.

Narasi Visual: Estetika dan Teknik Lukisan

Keunikan utama Liangkabori terletak pada teknik dan warna lukisannya. Hampir seluruh lukisan di situs ini menggunakan pigmen warna merah kecokelatan yang berasal dari oker (tanah liat yang kaya akan oksida besi) yang dicampur dengan getah pohon atau lemak hewan sebagai bahan perekat.

Motif yang ditemukan di dinding Liangkabori sangat beragam dan spesifik, menggambarkan realitas kehidupan pada masanya:

1. Aktivitas Perburuan: Terdapat penggambaran figur manusia yang memegang tombak atau panah sedang mengejar hewan buruan seperti rusa, babi hutan, dan anoa.

2. Domestikasi Hewan: Salah satu lukisan paling unik menunjukkan interaksi manusia dengan hewan peliharaan, termasuk anjing, yang mengindikasikan bahwa masyarakat Muna kuno telah mengenal teknik penjinakan hewan.

3. Transportasi Air: Terdapat gambar perahu dengan berbagai ukuran, menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Muna sejak zaman prasejarah adalah pelaut ulung yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem maritim.

4. Simbolisme dan Ritual: Beberapa motif menunjukkan tarian kelompok atau prosesi adat yang diduga berkaitan dengan ritual kesuburan atau penghormatan kepada roh leluhur.

Signifikansi Sejarah dan Tokoh Terkait

Liangkabori menjadi kunci penting dalam memetakan migrasi manusia di kawasan Wallacea. Situs ini membuktikan adanya kesinambungan budaya antara penduduk asli Sulawesi dengan gelombang migrasi Austronesia. Meskipun tidak ada tokoh individu yang tercatat dalam sejarah tertulis (karena berasal dari masa pra-aksara), situs ini sering dikaitkan dengan mitologi asal-usul masyarakat Muna mengenai Wamelai, sosok manusia pertama dalam kepercayaan lokal yang dianggap memiliki kedekatan spiritual dengan alam gua.

Dalam konteks sejarah yang lebih modern, situs ini mulai menarik perhatian dunia internasional setelah laporan penelitian dari tim arkeologi nasional dan peneliti asing pada akhir abad ke-20. Penemuan ini menempatkan Pulau Muna dalam peta arkeologi dunia sebagai salah satu pusat seni cadas (rock art) terpenting di Asia Tenggara.

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Muna modern, Liangkabori bukan sekadar objek wisata atau penelitian. Gua ini dianggap sebagai tempat keramat (posali) yang menyimpan marwah leluhur. Sebelum masuk ke dalam gua, seringkali masyarakat setempat masih mempraktikkan tata krama tertentu sebagai bentuk penghormatan.

Nilai filosofis yang terkandung dalam lukisan-lukisan tersebut juga mencerminkan konsep Sangkadi, yaitu keseimbangan antara manusia, alam, dan pencipta. Gambar-gambar hewan dan tumbuhan di dinding gua bukan sekadar dekorasi, melainkan bentuk syukur dan doa agar alam terus memberikan kelimpahan sumber daya.

Status Pelestarian dan Konservasi

Saat ini, Gua Liangkabori telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya nasional di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX. Upaya pelestarian menghadapi tantangan besar, terutama terkait faktor alam seperti pertumbuhan lumut, pengelupasan dinding akibat kristalisasi garam, dan vandalisme manusia.

Pemerintah Kabupaten Muna bersama pemerintah pusat telah melakukan beberapa langkah restorasi dan proteksi, antara lain:

  • Pembangunan pagar pengaman di sekitar area lukisan untuk mencegah sentuhan langsung dari pengunjung.
  • Penataan akses jalan dan fasilitas pendukung tanpa merusak ekosistem karst asli.
  • Sosialisasi kepada masyarakat lokal untuk menjadi pemandu wisata sekaligus penjaga situs (local guardian).

Kesimpulan: Warisan yang Harus Dijaga

Gua Liangkabori adalah ensiklopedia visual tentang bagaimana nenek moyang bangsa Indonesia bertahan hidup, berinovasi, dan mengekspresikan sisi artistik mereka. Keberadaan lukisan perahu dan aktivitas perburuan di dinding-dindingnya merupakan saksi bisu transisi zaman yang tak ternilai harganya. Sebagai situs sejarah unggulan di Sulawesi Tenggara, Liangkabori menuntut komitmen kolektif agar warna merah oker yang telah bertahan selama ribuan tahun itu tidak pudar oleh kelalaian generasi masa kini. Menjaga Liangkabori berarti menjaga akar identitas dan menghormati jejak peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Muna hingga saat ini.

📋 Informasi Kunjungan

address
Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna
entrance fee
Rp 10.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Muna

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Muna

Pelajari lebih lanjut tentang Muna dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Muna