Pusat Kebudayaan

Kampung Adat Bena

di Ngada, Nusa Tenggara Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Filosofi Tata Ruang dan Arsitektur Tradisional

Sebagai pusat kebudayaan, Kampung Adat Bena memiliki struktur fisik yang sarat akan simbolisme kosmologi. Kampung ini dibangun membentuk formasi memanjang dari utara ke selatan dengan pola bertingkat yang mengikuti kontur tanah. Di tengah-tengah pemukiman terdapat Loka, sebuah ruang terbuka yang menjadi pusat kegiatan komunal dan ritual.

Di area Loka ini berdiri dua elemen ikonik: Ngad'u dan Bhaga. Ngad'u adalah tiang kayu berukir dengan atap alang-alang yang melambangkan sosok pria/ayah dan keberanian, sementara Bhaga adalah bangunan kecil menyerupai rumah yang melambangkan sosok wanita/ibu dan kelembutan. Keberadaan elemen ini bukan sekadar pajangan, melainkan pusat dari program pendidikan budaya bagi generasi muda Ngada untuk memahami silsilah keluarga dan pentingnya keseimbangan antara energi maskulin dan feminin dalam kehidupan sosial.

Pelestarian Seni Tenun Ikat: Workshop Budaya dan Ekonomi Kreatif

Salah satu pilar utama kebudayaan di Bena adalah tradisi menenun atau Mane. Hampir di setiap teras rumah adat (Sa’o), pengunjung dapat menyaksikan para perempuan Bena—mulai dari remaja hingga lansia—mengoperasikan alat tenun tradisional dari kayu dan bambu.

Program pelestarian tenun di Bena sangat spesifik. Motif yang dihasilkan bukanlah sekadar pola estetika, melainkan narasi sejarah. Motif Ghala (kuda) dan Sura (garis-garis) adalah identitas visual yang dipelajari secara turun-temurun melalui program magang informal di dalam keluarga. Wisatawan dan peneliti dapat berpartisipasi dalam workshop singkat untuk mempelajari proses pewarnaan alami menggunakan tanaman Tarum untuk warna biru dan akar Mengkudu untuk warna merah. Aktivitas ini merupakan bagian dari upaya kampung dalam mempertahankan kemandirian ekonomi berbasis budaya.

Ritual Adat dan Pertunjukan Kesenian

Sebagai pusat kebudayaan, Bena menjadi panggung bagi berbagai upacara adat yang masif. Salah satu festival paling signifikan adalah Reba. Festival ini merupakan perayaan syukur atas hasil panen dan penghormatan kepada leluhur yang biasanya diadakan antara bulan Desember hingga Februari.

Dalam festival Reba, ditampilkan tarian Besu Gaya, sebuah tarian perang yang penuh energi, serta nyanyian-nyanyian adat yang menceritakan asal-usul migrasi leluhur suku Ngada dari "Loka" (tanah asal). Musik pengiringnya menggunakan alat musik tradisional seperti Thobo (bambu besar) dan Laba (gendang kulit). Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana transmisi lisan sejarah suku yang dilakukan secara kolektif oleh seluruh warga kampung.

Program Edukasi dan Keterlibatan Masyarakat

Kampung Adat Bena menjalankan fungsi edukasi melalui sistem Sa’o Pu’u (rumah utama) dan Sa’o Lobo (rumah bungsu). Setiap klan atau Wo’u memiliki tanggung jawab untuk mendidik anggota mudanya mengenai etika adat (Adat Istiadat), hukum adat, dan tata cara berbicara di dalam pertemuan formal yang disebut Turunani.

Masyarakat Bena sangat terbuka terhadap keterlibatan akademisi dan peneliti. Seringkali, kampung ini menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa arsitektur, antropologi, dan sosiologi. Keterlibatan masyarakat lokal dalam manajemen kunjungan juga sangat tinggi; mereka tidak hanya bertindak sebagai tuan rumah, tetapi juga sebagai kurator budaya yang menjelaskan makna setiap artefak batu megalit yang tersebar di sepanjang kampung, seperti Watu Lanun (meja batu untuk sesaji).

Konservasi Warisan Budaya Megalitikum

Pelestarian di Bena mencakup aspek fisik dan non-fisik. Secara fisik, masyarakat secara gotong royong melakukan pemeliharaan atap alang-alang rumah adat secara berkala. Teknik ikat dan penyusunan batu tanpa semen (susun sirih) terus dipertahankan untuk menjaga keaslian struktur megalitiknya.

Secara non-fisik, pemerintah daerah Ngada bersama tokoh adat Bena menetapkan regulasi ketat mengenai pembangunan di area kampung. Penggunaan material modern sangat dibatasi untuk menjaga integritas visual dan spiritual kawasan. Upaya ini membuahkan hasil dengan masuknya Bena dalam daftar sementara Warisan Dunia UNESCO, yang semakin memperkuat perannya sebagai pusat kebudayaan berskala internasional.

Peran Bena dalam Pengembangan Budaya Lokal

Kampung Adat Bena berfungsi sebagai "jangkar" bagi pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Kabupaten Ngada. Kesuksesan Bena dalam mengelola warisan budayanya menjadi inspirasi bagi kampung-kampung adat sekitarnya seperti Luba, Gurusina, dan Tololela. Bena menjadi pusat pelatihan bagi pemandu wisata lokal untuk mempelajari cara mengomunikasikan nilai-nilai budaya kepada dunia luar tanpa mengeksploitasi kesakralan ritual itu sendiri.

Selain itu, Bena berperan dalam menjaga ketahanan pangan melalui sistem pertanian tradisional. Budidaya kopi, kakao, dan umbi-umbian di sekitar lereng Gunung Inerie dilakukan dengan mengikuti kalender adat, yang membuktikan bahwa kebudayaan Ngada sangat terintegrasi dengan pelestarian lingkungan hidup.

Keunikan Budaya: Harmoni Batu dan Jiwa

Hal yang paling unik dari Bena adalah keberadaan formasi batu megalit yang berfungsi sebagai altar pengorbanan dan tempat duduk para tetua saat musyawarah. Keberadaan batu-batu purba ini di tengah pemukiman yang masih dihuni memberikan atmosfer "lorong waktu". Setiap batu memiliki nama dan cerita, menandakan bahwa di Bena, sejarah tidak ditulis dalam buku, melainkan dipahat pada batu dan diwariskan melalui ingatan kolektif.

Interaksi sosial di Bena juga sangat kental dengan semangat Satu Hati (Mesa Ngada). Hal ini terlihat dalam prosesi pembangunan rumah adat yang melibatkan seluruh warga tanpa terkecuali. Kerja kolektif ini merupakan program sosial alami yang memastikan bahwa tidak ada satu pun individu yang merasa terasing dari komunitasnya.

Penutup: Masa Depan Kampung Adat Bena

Sebagai pusat kebudayaan di Nusa Tenggara Timur, Kampung Adat Bena terus beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya. Tantangan seperti perubahan iklim yang memengaruhi ketersediaan alang-alang untuk atap rumah diatasi dengan penanaman kembali lahan-lahan konservasi. Sementara itu, digitalisasi digunakan secara bijak untuk mempromosikan kain tenun dan festival adat ke mancanegara.

Kampung Adat Bena adalah bukti nyata bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis atau tertinggal. Ia adalah entitas yang dinamis, mampu memberikan solusi atas persoalan sosial dan lingkungan di masa kini melalui kearifan masa lalu. Berkunjung ke Bena bukan sekadar melihat rumah-rumah tua, melainkan merasakan detak jantung peradaban yang mengajarkan kita tentang hormat kepada leluhur, cinta kepada alam, dan kekuatan dalam kebersamaan. Dengan segala kompleksitas budaya dan keteguhan masyarakatnya, Bena tetap berdiri kokoh sebagai penjaga api kebudayaan di Tanah Ngada.

📋 Informasi Kunjungan

address
Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada
entrance fee
Rp 25.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Ngada

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Ngada

Pelajari lebih lanjut tentang Ngada dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Ngada