Situs Sejarah

Monumen Jenderal Sudirman

di Pacitan, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Perjuangan di Atas Bukit: Sejarah Lengkap Monumen Jenderal Sudirman Pacitan

Monumen Jenderal Sudirman yang terletak di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, bukan sekadar sebuah bangunan peringatan berbahan perunggu. Situs sejarah ini merupakan saksi bisu dari titik balik perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui taktik perang gerilya. Berdiri megah di atas perbukitan, monumen ini menandai lokasi yang pernah menjadi Markas Komando (Mako) tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II.

#

Latar Belakang Sejarah dan Peristiwa Gerilya

Sejarah berdirinya monumen ini berakar pada peristiwa kelam jatuhnya Yogyakarta ke tangan Belanda pada 19 Desember 1948. Dalam kondisi kesehatan yang sangat lemah akibat penyakit tuberkulosis, Panglima Besar Jenderal Sudirman memutuskan untuk keluar dari kota dan memimpin perlawanan dari hutan-hutan di pedalaman Jawa.

Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan selama berbulan-bulan, Sudirman tiba di Desa Pakis Baru, Pacitan, pada 1 April 1949. Beliau memilih desa terpencil ini sebagai pusat komando karena letaknya yang strategis secara topografis—berada di dataran tinggi yang sulit dijangkau oleh kendaraan militer Belanda namun memiliki akses komunikasi yang relatif aman dengan unit-unit gerilya lainnya. Selama 99 hari, dari April hingga Juli 1949, rumah milik seorang penduduk bernama Karso Semito di desa ini bertransformasi menjadi pusat pemerintahan militer darurat. Dari bilik bambu sederhana di lereng perbukitan Pacitan inilah, perintah-perintah strategis dikeluarkan untuk melumpuhkan kekuatan Belanda di berbagai wilayah Nusantara.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi Monumen

Pembangunan Monumen Jenderal Sudirman diinisiasi oleh R. Soeprapto (mantan Jaksa Agung RI) dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 15 Desember 1980. Secara arsitektural, kompleks monumen ini dirancang untuk memberikan pengalaman naratif bagi pengunjung mengenai filosofi kepemimpinan dan perjuangan sang Panglima.

Landmark utama dari situs ini adalah patung perunggu Jenderal Sudirman setinggi 8 meter yang berdiri dengan gagah mengenakan jubah kebesarannya yang khas, memegang tongkat, dan menatap jauh ke arah depan. Patung ini berdiri di atas landasan beton yang kokoh. Namun, keunikan arsitektur sesungguhnya terletak pada struktur tangga menuju monumen.

Terdapat tiga jalur anak tangga yang membawa pengunjung menuju puncak bukit. Jumlah anak tangga tersebut tidak dibuat sembarangan, melainkan mengandung kode simbolis: anak tangga pertama berjumlah 45, yang kedua berjumlah 8, dan yang terakhir berjumlah 17. Formasi ini melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Selain itu, di sekeliling area monumen terdapat 38 relief tembaga yang menceritakan perjalanan hidup Sudirman, mulai dari masa kecilnya di Purbalingga, keterlibatannya dalam PETA, hingga momen-momen kritis saat beliau harus ditandu selama gerilya melewati medan berat hutan Jawa.

#

Signifikansi Historis dan Tokoh Terkait

Situs di Pacitan ini memiliki nilai historis yang unik karena menjadi tempat bertemunya elemen militer dan rakyat jelata. Selama berada di Pakis Baru, Sudirman tidak hanya berperan sebagai jenderal, tetapi juga sebagai figur moral bagi penduduk setempat. Beliau dikenal sangat religius, sering memimpin doa bersama, dan menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat desa yang dengan setia menjaga rahasia keberadaannya dari patroli Belanda.

Kehadiran sosok-sosok penting seperti Kapten Supardjo Rustam, Kapten Tjokropranolo (yang nantinya menjadi Gubernur DKI Jakarta), dan dr. Suwondo (dokter pribadi Sudirman) di lokasi ini menambah bobot sejarah situs tersebut. Di sinilah strategi diplomasi dan militer disinkronkan, hingga akhirnya Belanda bersedia berunding dalam Perjanjian Roem-Royen yang berujung pada pengembalian pemerintahan RI ke Yogyakarta.

#

Pelestarian dan Status Situs Saat Ini

Sebagai salah satu Cagar Budaya nasional, Monumen Jenderal Sudirman di Pacitan terus mendapatkan perhatian dalam hal pelestarian. Pemerintah daerah Jawa Timur berkolaborasi dengan keluarga besar ahli waris Jenderal Sudirman dan TNI untuk menjaga keaslian situs. Selain monumen besar, rumah asli milik Karso Semito yang menjadi tempat tinggal Sudirman tetap dipertahankan bentuk aslinya. Pengunjung masih dapat melihat dipan kayu, meja kayu sederhana, dan peralatan rumah tangga yang digunakan sang Panglima selama masa persembunyiannya.

Restoran dan renovasi infrastruktur pendukung dilakukan secara berkala tanpa mengubah fasad asli bangunan sejarah. Upaya digitalisasi sejarah juga mulai diterapkan melalui penyediaan informasi berbasis QR Code di sekitar relief untuk memudahkan generasi muda memahami konteks sejarah di balik pahatan tembaga tersebut.

#

Nilai Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat Pacitan dan Indonesia pada umumnya, monumen ini memiliki dimensi spiritual dan patriotik. Setiap tahun, terutama menjelang Hari Ulang Tahun TNI (5 Oktober) atau Hari Pahlawan (10 November), situs ini menjadi pusat kegiatan napak tilas dan upacara militer.

Ada sebuah fakta unik yang jarang diketahui: lokasi monumen ini dipilih karena memiliki "garis lurus" simbolis dengan pusat-pusat kekuatan di Jawa. Secara budaya, keberadaan monumen ini mengangkat derajat Desa Pakis Baru dari desa terpencil menjadi destinasi wisata sejarah edukatif yang mampu menggerakkan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata.

#

Kesimpulan: Warisan dari Lereng Nawangan

Monumen Jenderal Sudirman di Pacitan bukan sekadar tumpukan beton dan perunggu. Ia adalah monumen keteguhan hati. Di sinilah sejarah mencatat bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh kecanggihan senjata, melainkan oleh strategi yang matang dan dukungan penuh dari rakyat. Melalui pemeliharaan situs ini, pesan Jenderal Sudirman bahwa "Rumah tangga TNI adalah hati rakyat" tetap hidup dan bergema dari lereng perbukitan Pacitan hingga ke seluruh penjuru tanah air. Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi pemandangan alam pegunungan yang asri, tetapi juga dibawa kembali ke masa di mana nasib Republik ditentukan dari sebuah rumah kecil di pelosok Jawa Timur.

📋 Informasi Kunjungan

address
Dusun Sobo, Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan
entrance fee
Rp 5.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Pacitan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pacitan

Pelajari lebih lanjut tentang Pacitan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pacitan