Candi Bahal III
di Padang Lawas Utara, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Agung Hindhu-Buddha di Padang Lawas: Sejarah dan Arsitektur Candi Bahal III
Candi Bahal III merupakan salah satu permata arkeologi yang terletak di Kompleks Percandian Padang Lawas, tepatnya di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Sebagai bagian dari kelompok Candi Bahal (yang terdiri dari Bahal I, II, dan III), situs ini berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Buddhis aliran Vajrayana yang pernah berkembang pesat di wilayah pedalaman Sumatera antara abad ke-11 hingga ke-14 Masehi. Berbeda dengan candi-candi di Jawa yang umumnya menggunakan batu andesit, Candi Bahal III menampilkan karakteristik unik dengan penggunaan bata merah yang dominan, mencerminkan adaptasi material lokal terhadap gaya arsitektur monumental.
#
Asal-Usul Historis dan Era Pembangunan
Pembangunan Candi Bahal III erat kaitannya dengan eksistensi Kerajaan Panai, sebuah kerajaan yang namanya tercatat dalam Prasasti Tanjore (1030 M) di India Selatan. Prasasti tersebut menyebutkan penaklukan wilayah "Pannai" oleh Rajendra Chola I dari Kerajaan Chola. Meskipun sempat mengalami gempuran, wilayah ini tetap menjadi pusat keagamaan yang penting. Berdasarkan analisis epigrafi dan gaya bangunan, Candi Bahal III diperkirakan dibangun secara bertahap, mencapai puncak fungsinya pada abad ke-12 hingga ke-13 Masehi.
Situs ini merupakan bagian dari lanskap budaya "Padang Lawas" yang berarti "padang luas". Wilayah ini dulunya merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan pesisir timur Sumatera dengan wilayah pedalaman. Keberadaan Candi Bahal III membuktikan bahwa agama Buddha sekte Tantrayana atau Vajrayana memiliki akar yang sangat kuat di sini, di mana ritual-ritual esoteris dilakukan oleh para biksu dan penganutnya.
#
Karakteristik Arsitektur dan Detail Konstruksi
Candi Bahal III memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan saudaranya, Bahal I dan II. Meskipun ukurannya lebih kecil dibandingkan Candi Bahal I, detail arsitekturnya menunjukkan ketelitian yang luar biasa. Candi ini terdiri dari tiga bagian utama: kaki candi (batur), tubuh candi, dan atap.
Struktur bangunan terbuat dari batu bata merah berkualitas tinggi yang disusun dengan teknik gosok (tanpa spesi semen modern). Kaki candi berbentuk bujur sangkar dengan tangga naik di sisi timur. Salah satu ciri khas Candi Bahal III adalah keberadaan relief-relief yang menghiasi bagian kaki candi. Berbeda dengan relief naratif di Candi Borobudur, relief di Bahal III lebih bersifat dekoratif-simbolis, menampilkan motif-motif singa dan tokoh-tokoh dalam posisi menari (yaksa) yang diyakini sebagai penjaga bangunan suci.
Bagian tubuh candi memiliki ruang kosong di tengahnya (garbhagriha) yang dahulu digunakan untuk meletakkan arca dewa atau sarana pemujaan lainnya. Atap candi berbentuk silinder atau stupa yang bertingkat-tingkat, meskipun sebagian besar bagian puncaknya telah runtuh termakan usia. Penggunaan bata merah memberikan rona kemerahan yang kontras dengan padang ilalang di sekitarnya, menciptakan pemandangan yang ikonik.
#
Signifikansi Sejarah dan Tokoh Terkait
Secara historis, Candi Bahal III merupakan bukti sinkretisme budaya. Meskipun kental dengan nuansa Buddha Vajrayana, terdapat pengaruh-pengaruh seni yang menunjukkan hubungan diplomatik dan budaya dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, khususnya Singhasari dan Majapahit. Tokoh seperti Raja Kertanegara dari Singhasari diyakini memiliki pengaruh dalam penyebaran paham Tantrayana ke wilayah Sumatera melalui Ekspedisi Pamalayu.
Selain itu, keterkaitan dengan Dinasti Chola dari India memberikan dimensi internasional pada situs ini. Arsitektur "biaro" (sebutan lokal untuk vihara/candi di Padang Lawas) mencerminkan percampuran antara gaya lokal Sumatera dengan pengaruh seni India Selatan. Candi Bahal III berfungsi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran ilmu keagamaan dan simbol kekuasaan politik Kerajaan Panai di wilayah Portibi.
#
Makna Budaya dan Religi
Bagi masyarakat sekitar dan para arkeolog, Candi Bahal III adalah pusat spiritualitas kuno. Aliran Vajrayana yang dianut di sini menekankan pada meditasi dan ritual yang kompleks guna mencapai pencerahan. Penempatan candi di dekat aliran Sungai Batang Pane bukan tanpa alasan; dalam tradisi Hindu-Buddha, air dianggap sebagai elemen penyuci dalam setiap upacara keagamaan.
Uniknya, masyarakat lokal yang kini mayoritas beragama Islam tetap menghormati keberadaan situs ini sebagai warisan leluhur. Istilah "Portibi" sendiri berasal dari kata Sansekerta "Pratiwi" yang berarti bumi, menandakan bahwa wilayah ini sejak dahulu dianggap sebagai tanah suci atau tanah yang makmur.
#
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Kondisi Candi Bahal III sempat mengalami kerusakan parah akibat faktor alam dan penjarahan artefak di masa kolonial. Upaya pemugaran pertama kali dilakukan secara sistematis oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 1970-an dan 1980-an. Pemugaran ini bertujuan untuk mengembalikan struktur bangunan yang telah runtuh dan menata kembali bata-bata yang berserakan.
Saat ini, Candi Bahal III berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II. Meskipun telah dipugar, tantangan utama yang dihadapi adalah pelapukan bata merah akibat cuaca ekstrem dan pertumbuhan lumut. Pemerintah daerah Padang Lawas Utara terus berupaya mempromosikan situs ini sebagai destinasi wisata sejarah unggulan guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan dunia ini.
#
Fakta Unik dan Kesimpulan
Salah satu fakta unik dari Candi Bahal III adalah ditemukannya sisa-sisa fondasi bangunan kayu di sekitar candi dalam ekskavasi arkeologi, yang menunjukkan bahwa kompleks ini dulunya merupakan pemukiman para pendeta yang dilengkapi dengan asrama (vihara) permanen. Keberadaan motif "Singa" yang bergaya khas menunjukkan bahwa seniman lokal memiliki interpretasi mandiri terhadap simbol-simbol kekuasaan yang biasanya ditemukan di India.
Sebagai bagian dari "Bumi Barumun", Candi Bahal III bukan sekadar tumpukan bata merah. Ia adalah narasi tentang kejayaan masa lalu, tentang bagaimana sebuah komunitas di pedalaman Sumatera mampu membangun monumen megah yang bertahan selama berabad-abad. Keberadaannya mengingatkan kita pada keragaman sejarah Indonesia yang sangat kaya, di mana wilayah Padang Lawas pernah menjadi salah satu pusat intelektual dan spiritual terpenting di Asia Tenggara. Menjaga Candi Bahal III berarti menjaga identitas bangsa dan menghargai jejak peradaban yang telah membentuk wajah Sumatera Utara hari ini.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Padang Lawas Utara
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Padang Lawas Utara
Pelajari lebih lanjut tentang Padang Lawas Utara dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Padang Lawas Utara