Candi Bahal I
di Padang Lawas, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Candi Bahal I: Kemegahan Warisan Buddhis di Tanah Padang Lawas
Candi Bahal I, yang juga dikenal dengan sebutan Candi Biaro Bahal I, merupakan salah satu situs arkeologi paling signifikan di Pulau Sumatra. Terletak di Desa Bahal, Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara, candi ini merupakan bagian dari kompleks percandian Padang Lawas yang luasnya mencakup puluhan situs lainnya. Sebagai struktur bata merah yang megah, Candi Bahal I berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Buddhis di wilayah pedalaman Sumatra Utara yang dahulu menjadi pusat pendidikan dan spiritualitas.
#
Asal-Usul Historis dan Masa Pendirian
Candi Bahal I diperkirakan dibangun antara abad ke-11 hingga ke-13 Masehi. Periode ini bertepatan dengan masa keemasan Kerajaan Pannai, sebuah kerajaan bawahan (vassal) dari Kerajaan Sriwijaya. Nama "Portibi" sendiri, tempat candi ini berada, berasal dari bahasa Sanskerta Prthivi yang berarti "bumi" atau "pertiwi".
Keberadaan candi ini pertama kali dilaporkan oleh peneliti kolonial Belanda, Franz Junghuhn, pada tahun 1846. Namun, penelitian mendalam baru dilakukan oleh Von Orsoy de Flines dan Schnitger pada awal abad ke-20. Berdasarkan prasasti yang ditemukan di wilayah sekitarnya, seperti Prasasti Tanjore (1025 M-1030 M) dari India Selatan, wilayah Padang Lawas disebut sebagai salah satu daerah yang ditaklukkan oleh Rajendra Chola I dari Dinasti Chola. Meski sempat mengalami serangan, pengaruh budaya dan agama tetap berkembang, yang dibuktikan dengan pembangunan kompleks Bahal yang megah ini.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Salah satu karakteristik paling unik dari Candi Bahal I yang membedakannya dengan candi-candi di Jawa adalah material bangunannya. Jika candi di Jawa Tengah umumnya menggunakan batu andesit, Candi Bahal I sepenuhnya dibangun menggunakan bata merah yang dibakar dengan sangat halus. Teknik penyusunan bata ini dilakukan dengan metode gosok, di mana antar bata direkatkan tanpa semen, melainkan dengan memanfaatkan gesekan dan cairan alami dari tumbuhan atau tanah liat tipis.
Secara struktur, Candi Bahal I terdiri dari tiga bagian utama: kaki (sub-structure), tubuh (body), dan atap (super-structure).
1. Kaki Candi: Berdiri di atas batur (plataran) yang luas. Bagian kaki ini dihiasi dengan relief tokoh-tokoh menari (yaksa) yang mengenakan topeng hewan, memberikan kesan dinamis dan mistis.
2. Tubuh Candi: Terdapat sebuah ruangan kosong yang disebut garbhagrha. Di depan pintu masuk, terdapat sepasang arca Dwarapala yang meski sudah tidak utuh, masih memancarkan kesan penjaga yang kuat.
3. Atap Candi: Bentuk atap Candi Bahal I sangat unik, tidak berbentuk stupa bulat sempurna seperti Borobudur, melainkan berbentuk silinder atau tambun yang menyerupai stupa di wilayah India Selatan atau Myanmar. Hal ini menunjukkan adanya akulturasi budaya yang kuat antara tradisi lokal Sumatra dengan pengaruh seni dari Teluk Benggala.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Candi Bahal I bukan sekadar bangunan pemujaan, melainkan simbol dari keterhubungan jalur perdagangan kuno. Lokasinya yang berada di antara Sungai Barumun dan Sungai Pane menunjukkan bahwa wilayah ini dahulu merupakan jalur transportasi vital menuju laut lepas (Selat Malaka).
Wilayah Padang Lawas pada masa itu berfungsi sebagai pusat pemukiman padat yang mendukung aktivitas keagamaan. Keberadaan Candi Bahal I membuktikan bahwa pedalaman Sumatra Utara tidaklah terisolasi, melainkan menjadi bagian dari jaringan intelektual Buddhis internasional. Para biksu dari berbagai wilayah di Asia diperkirakan pernah singgah di sini untuk mempelajari ajaran tertentu sebelum melanjutkan perjalanan ke pusat-pusat pembelajaran di India atau Sriwijaya (Palembang).
#
Tokoh dan Periode Terhubung
Situs ini erat kaitannya dengan Dinasti Mauli yang berkuasa di Kerajaan Melayu dan pengaruh dari Dinasti Chola dari India. Selain itu, keterkaitan dengan Kerajaan Singasari juga muncul dalam catatan sejarah, terutama saat ekspedisi Pamalayu dilakukan oleh Kertanegara. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa gaya seni pada relief penari di Candi Bahal I memiliki kemiripan dengan gaya seni pada masa Singasari-Majapahit awal, yang menunjukkan adanya pertukaran budaya lintas pulau yang intensif pada abad ke-13.
#
Makna Budaya dan Religi
Candi Bahal I berafiliasi dengan agama Buddha aliran Vajrayana atau Tantrayana. Hal ini terlihat dari temuan arca-arca yang bersifat esoteris, seperti arca Heruka—sosok dewa dalam pantheon Buddhis Tantra yang digambarkan dalam posisi menari di atas mayat dengan ekspresi yang menyeramkan namun penuh makna simbolis tentang penghancuran ego.
Bagi masyarakat lokal, candi ini tetap dianggap sebagai tempat yang sakral. Meskipun mayoritas penduduk di sekitar Padang Lawas kini memeluk agama Islam, keberadaan candi tetap dihormati sebagai warisan leluhur. Nama "Biaro" yang sering disematkan pada candi ini merujuk pada kata "Vihara", yang menegaskan fungsinya sebagai tempat tinggal dan ibadah bagi para biksu kuno.
#
Status Pelestarian dan Restorasi
Kondisi Candi Bahal I saat ini terbilang cukup baik berkat serangkaian upaya pemugaran yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pemugaran besar-besaran dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (sekarang BPK) sejak tahun 1970-an hingga 1990-an.
Tantangan utama dalam pelestarian situs ini adalah faktor alam dan material bata merah yang lebih rentan terhadap pelapukan akibat lumut dan kelembapan dibandingkan batu andesit. Saat ini, Candi Bahal I telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Pemerintah daerah telah menata lingkungan sekitar candi menjadi taman yang asri, menjadikannya destinasi wisata sejarah utama di Sumatera Utara yang menarik minat peneliti maupun wisatawan mancanegara.
#
Fakta Unik: "Borobudurnya Sumatera Utara"
Seringkali disebut sebagai salah satu bagian dari "Borobudurnya Sumatera Utara", Candi Bahal I memiliki keunikan berupa relief singa yang duduk dengan mulut terbuka di bagian kaki candi. Menariknya, bentuk singa ini tidak menyerupai singa asli di alam liar, melainkan penggambaran artistik yang dipengaruhi oleh estetika seni Hindu-Buddha klasik. Selain itu, orientasi bangunan menghadap ke arah Timur, mengikuti prinsip kosmologi kuno yang menyelaraskan bangunan suci dengan arah terbit matahari sebagai simbol pencerahan.
Dengan kemegahan bata merahnya yang kontras dengan hijaunya rerumputan di sekitarnya, Candi Bahal I tidak hanya menjadi monumen batu dan bata, tetapi juga cermin kebesaran jiwa bangsa Indonesia yang mampu menyerap berbagai pengaruh dunia menjadi sebuah karya arsitektur yang orisinal dan abadi.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Padang Lawas
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Padang Lawas
Pelajari lebih lanjut tentang Padang Lawas dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Padang Lawas