Mesjid Asasi Sigando
di Padang Panjang, Sumatera Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Peradaban Islam di Serambi Mekkah: Sejarah dan Arsitektur Masjid Asasi Sigando
Masjid Asasi Sigando bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah monumen hidup yang merekam pasang surut penyebaran Islam di Ranah Minang. Terletak di Kelurahan Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, masjid ini memegang predikat sebagai salah satu masjid tertua di wilayah yang dijuluki "Kota Serambi Mekkah". Keberadaannya menjadi bukti fisik dari sintesis antara nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal masyarakat Minangkabau.
#
Asal-Usul dan Periodisasi Pendirian
Secara historis, Masjid Asasi Sigando diperkirakan berdiri pada abad ke-18, tepatnya sekitar tahun 1702. Namun, beberapa sumber lisan di kalangan pemuka adat Sigando meyakini bahwa pondasi awalnya telah diletakkan jauh sebelumnya, seiring dengan berkembangnya permukiman di wilayah Nagari Gunung. Nama "Asasi" sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti "dasar" atau "fundamental", menegaskan posisinya sebagai masjid pertama atau masjid induk bagi masyarakat di empat koto (Nagari Gunuang, Paninjauan, Tambangan, dan Jumuak).
Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh para pemuka agama dan pemuka adat setempat secara gotong royong. Pada masa itu, Sigando merupakan titik strategis dalam jalur perdagangan dan syiar Islam di pedalaman Sumatera Barat. Masjid ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat yang mulai meninggalkan praktik kepercayaan lama menuju ajaran tauhid.
#
Arsitektur: Harmoni Kayu dan Filosofi Minangkabau
Arsitektur Masjid Asasi Sigando menyajikan keunikan yang membedakannya dari masjid-masjid modern. Seluruh struktur utama bangunan ini terbuat dari kayu jati dan kayu sitampuin yang dikenal sangat kuat. Gaya arsitekturnya mengadopsi bentuk rumah panggung, yang merupakan adaptasi cerdas terhadap iklim tropis dan kondisi geografis Sumatera Barat yang rawan gempa.
Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah atapnya yang berbentuk limas tumpang tiga (tiga tingkat). Bentuk atap ini tidak hanya berfungsi sebagai sistem drainase air hujan yang efisien, tetapi juga memiliki makna filosofis: tingkat pertama melambangkan syariat, tingkat kedua tarekat, dan tingkat ketiga hakikat atau makrifat. Puncak atap dihiasi dengan mustaka yang menunjukkan pengaruh seni hias lokal.
Dinding masjid dipenuhi dengan ukiran khas Minangkabau (motif pucuak rabuang, aka cino, dan itak gulai) yang dipadukan dengan kaligrafi Arab. Teknik penyambungan kayu pada bangunan ini awalnya tidak menggunakan paku besi, melainkan pasak kayu dan sistem kancing, sebuah teknologi konstruksi tradisional yang terbukti mampu membuat bangunan tetap berdiri kokoh meski diguncang gempa besar selama berabad-abad.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Masjid Asasi Sigando memiliki peran krusial selama masa Perang Padri (1803β1838). Masjid ini menjadi tempat pertemuan rahasia para ulama dan pejuang untuk mengatur strategi melawan penjajahan Belanda. Tokoh-tokoh besar seperti Tuanku Nan Renceh dan para pengikut Tuanku Imam Bonjol diyakini pernah singgah dan melakukan diskusi keagamaan di serambi masjid ini.
Selain itu, pada masa pergerakan nasional, masjid ini menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama dan cendekiawan. Pola pendidikan tradisional "surau" tetap dipertahankan di sini, di mana para pemuda belajar mengaji sekaligus berlatih silat, menciptakan keseimbangan antara kekuatan spiritual dan fisik.
#
Tokoh dan Pengaruh Sosial
Keberadaan Masjid Asasi tidak lepas dari peran kaum adat dan ulama yang bersatu dalam filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Para pemuka dari suku Koto, Panyalaian, dan Guci di Sigando secara turun-temurun menjaga kelestarian masjid ini. Secara khusus, masjid ini menjadi saksi bisu transisi kepemimpinan tradisional ke sistem pemerintahan yang lebih terorganisir di wilayah Padang Panjang.
Setiap perayaan besar Islam, seperti Idul Fitri dan Maulid Nabi, Masjid Asasi menjadi pusat gravitasi bagi masyarakat Padang Panjang. Tradisi "makan bajamba" sering kali dilakukan di area masjid, memperkuat ikatan silaturahmi antarwarga lintas generasi.
#
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Sebagai Situs Cagar Budaya yang dilindungi di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III, Masjid Asasi Sigando telah melalui beberapa tahap konservasi. Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga otentisitas materialnya. Penggantian beberapa bagian kayu yang lapuk dilakukan dengan jenis kayu yang sama, dan teknik pengecatan tetap menggunakan bahan-bahan yang tidak merusak serat kayu asli.
Pemerintah Kota Padang Panjang dan masyarakat setempat berkomitmen menjaga masjid ini sebagai destinasi wisata religi yang edukatif. Meskipun telah dibangun masjid-masjid baru yang lebih megah di sekitarnya, Masjid Asasi tetap menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin merasakan kekhusyukan ibadah dalam balutan suasana masa lalu.
#
Nilai Budaya dan Keagamaan
Hingga saat ini, Masjid Asasi Sigando tetap difungsikan secara aktif. Keunikan lain yang masih bisa dijumpai adalah keberadaan bedug (tabuah) raksasa yang usianya hampir sama dengan masjid itu sendiri. Suara tabuah ini masih digunakan sebagai penanda waktu salat, menggema di lembah-lembah Padang Panjang, memanggil umat untuk bersujud.
Masjid ini bukan sekadar peninggalan arkeologis, melainkan simbol identitas masyarakat Sigando. Ia adalah representasi dari keteguhan iman dan kehalusan budi pekerti masyarakat Minangkabau. Melalui arsitekturnya, kita belajar tentang adaptasi; melalui sejarahnya, kita belajar tentang perlawanan dan harga diri; dan melalui fungsinya yang lestari, kita belajar tentang keberlanjutan nilai-nilai ketuhanan di tengah arus modernisasi.
Dengan segala keunikan arsitektur kayu dan nilai sejarah yang dikandungnya, Masjid Asasi Sigando berdiri sebagai mercusuar peradaban yang terus menyinari Padang Panjang, mengingatkan setiap generasi akan akar sejarah yang kuat dan masa depan yang harus dibangun di atas landasan iman yang kokoh.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Padang Panjang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Padang Panjang
Pelajari lebih lanjut tentang Padang Panjang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Padang Panjang